Rabu, 23 Oktober 2019


Kajot: Ramin Bantang Sebagai Icon Budaya Kabupaten Bengkayang

Editor:

Aep Mulyanto

    |     Pembaca: 511
Kajot: Ramin Bantang Sebagai Icon Budaya Kabupaten Bengkayang

Pembukaan Festival Budaya Dayak I Kalimantan Barat sekaligus dirangkaikan dengan Peresmian Rumah Adat Dayak Ramin Bantang, dan disaksikan ribuan masyarakat Kalbar dan Bengkayang khususnya. Selain itu, acara juga dikemas dalam satu agenda dengan Ngarape So

Kajot: Ramin Bantang Sebagai Icon Budaya Kabupaten Bengkayang.   BENGKAYANG, SP - Pembukaan Festival Budaya Dayak I Kalimantan Barat sekaligus dirangkaikan dengan Peresmian Rumah Adat Dayak Ramin Bantang, dan disaksikan ribuan masyarakat Kalbar dan Bengkayang khususnya. Selain itu, acara juga dikemas dalam satu agenda dengan Ngarape Sowa.  

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Bengkayang, Martinus Kajot mengatakan peresmian Ramin Bantang tersebut adalah rumah bersama untuk suku Dayak yang ada di Kabupaten Bengkayang. Ramin Bantang sebagai icon budaya kabupaten Bengkayang.  

"Kita patut bersyukur dan berbangga, masyarakat adat Dayak kabupaten Bengkayang telah memiliki rumah, yang disebut Ramin Bantang. Itu adalah icon budaya Dayak di kabupaten Bengkayang," ujarnya.  

Dalam kesempatan tersebut, Kajot mengajak seluruh masyarakat kabupaten Bengkayang untuk memeriahkan Festival Budaya Dayak dengan Arif dan bijaksana.  

"Tampilkan yang terbaik, dan lakukan yang terbaik demi suksesnya acara ini," pesannya.   

Ia juga menegaskan agar, segenap masyarakat kabupaten Bengkayang untuk bisa menyambut  dengan hangat dan penuh persaudaraan peserta festival yang hadir dari berbagai Kabupaten/Kota yang ada di Kalimantan Barat, untuk menyaksikan festival pertama di Kalbar ini.  

"Mari jaga, rawat dan pilihara Ramin Bantang agar tetap terawat dengan baik, sehingga bisa  menarik pengunjung, dan menjadi destinasi wisata budaya di kabupaten Bengkayang," jelasnya.  

Kajot menjelaskan, terkait dengan setiap ukiran yang terdapat di Ramin Bantang itu mengandung makna tersendiri. Misalnya, dua ekor burung Enggang (besar) itu dibuat karena Bupati Bengkayang baru ada dua orang. 20 ekor anak Enggang (kecil) itu memakai kabupaten Bengkayang yang sudah berusia 20 tahun.  

Dan terkait dengan gambar Anjing dan Manusia yang berdiri di gerbang, itu menceritakan bahwa pada jaman dulu kala nenek moyang (orang Dayak ) hidup suka berburu dan ditemani oleh seekor anjing.

"Adat dan tradisi  yang ada  perlu kita kembangkan, dan jaga . Karena adat istiadat itu titipan leluhur pada kita. Yang perlu kita jaga dan rawat. Tolong menjaga situasi dan kondisi, jangan membuat permasalahan dalam FBD selama berlangsung.  Semoga FBD ini dapat mempererat persatuan kita," tutur Kajot yang juga ketua DPRD Kabupaten Bengkayang. (nar)