Rabu, 19 Februari 2020


Sibarani Sofian Terinspirasi Kota Sydney Rancang Ibu Kota Baru

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 201
Sibarani Sofian Terinspirasi Kota Sydney Rancang Ibu Kota Baru

KONSEP - Konsep yang ditawarkan oleh Sibarani Sofian untuk Ibukota baru RI adalah Nagara Rimba Nusa.

Sibarani Sofian, bersama sembilan orang dalam tim-nya telah memenangkan sayembara rancangan kawasan Ibu Kota Indonesia yang baru di Kalimantan Timur. Sejumlah idenya datang dari kota-kota di Australia.

Sibrani mendapat gelar Master of Urban Development and Design dari University of New South Wales di Sydney tahun 1999. Dia sempat berkarir di Singapura dan Hong Kong, sebelum memutuskan kembali ke Indonesia di tahun 2011.

Konsep bernama Nagara Nusa Rimba, bukan sembarangan. Nagara mewakili Pemerintah. Rimba mewakili hutan, sesuatu yang sangat khas di Kalimantan. Sementara, Nusa representasi kepulauan dan dijadikan identitas bersama sebagai suatu bangsa.

“Rimba dan nusa itu sebenarnya terinspirasi dari dua kata yang sederhana, tapi mungkin menjadi sangat inspiratif, karena dari hutan kita banyak bisa belajar bagaimana menyelaraskan kota, hutan, dan manusia,” katanya kemarin.

Dia berujar, alam bisa hidup sendiri tanpa manusia, tapi dengan adanya manusia, kadang-kadang tidak selalu bisa selaras dengan alam. Konsep menyelaraskan alam dengan manusia inilah yang diusung.

Harapannya, bangunan-bangunan nanti 'green building', berkinerja tinggi, mengurangi konsumsi energi, mengurangi panas. “Belajar dari hutan tropis, kami sengaja ada satu konsep yang membuat membuat kenyamanan di jalan dengan angin.”

Salah satunya soal kesulitan di Kalimantan perkara cuaca panas dan lembab. Hal ini diakali dengan usaha ada angin yang membantu menurunkan temperatur, dengan angin yang datang dari sisi hutan dan kebun raya.

“Kami membuat kebun raya yang sangat besar, hampir 500-600 hektar, berlokasi tepat di jantung Ibu Kota baru kita,” sebutnya.

Ibu Kota baru akan punya dua sumbu utama. Pertama adalah sumbu antara manusia, alam dan Tuhan, seperti yang kita lihat di Yogyakarta, Jawa, Bali, dan kota-kota lainnya. Titik nolnya adalah istana, lalu turun ke Danau Pancasila, yang menjadi sumbu kebangsaan dengan memperlihatkan hubungan antara manusia, alam dan Tuhan.

Kemudian ada axis yang melintang, yakni pemerintahan, dengan trias politika ya, ada ekselutif, legislatif dan yudikatif. 

“Jadi kami sebar tiga fungsi di tiga titik berbeda. Satu ada di tengah-tengah, yakni istana sebagai lembaga eksekutif. Lembaga legislatif di sebelah kanan, kemudian yudikatif sebelah kiri. Sementara kantor kementerian berada di antara ketiganya,” jelasnya.

Namun bukan tanpa halangan. Lokasi ibu kota baru dari kota Balikpapan masih 30-40 kilometer, sehingga butuh akses lebih. Selain itu, kondisi temperatur yang tinggi. Ketiga, ada banyak ekosistem atau lingkungan yang sensitif. 

“Jadi, kita harus hati-hati, tidak merambah daerah yang alami, yang terproteksi, atau jika ada spesies bekantan. Kita harus hati-hati dan benar-benar memilih lokasi yang aman.”

Dia pun menyebut banyak terinspirasi dari Sydney, kota kosmopolitan pertama yang ditinggalinya.

“Saya melihat Darling Harbour, Circular Quay, naik kapal ke Sydney Olympic, benar-benar membuka mata saya dan sangat mempengaruhi harapan saya, 'kalau bisa merancang kota, minimal seperti inilah',” katanya. (abc/bls)