Rabu, 19 Februari 2020


Neneng Mati Diduga Karena Eksploitasi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 585
Neneng Mati Diduga Karena Eksploitasi

MATI - Gajah Sumatera bernama Neneng yang ditemukan mati di Medan Zoo, Kota Medan, Sumatera Utara, Sabtu 25 Januari 2020.

Gajah Sumatera betina dengan berat lebih kurang 3 ton ditemukan mati di Medan Zoo, Kota Medan, Sumatera Utara. Kematian gajah tersebut diindikasi karena faktor usia. Namun, semasa hidup gajah tersebut kerap dieksploitasi.

Seekor gajah Sumatera di Medan Zoo, Kota Medan, Sumatera Utara, ditemukan mati pada Sabtu (25/1), sekitar pukul 10.20 WIB. Gajah betina berumur 55 tahun bernama 'Neneng' tersebut diduga mati karena faktor usia yang telah uzur.

Dokter hewan Medan Zoo, Sucitrawan mengatakan sebelum mati gajah tersebut mengalami penurunan nafsu makan.

"Gejala awal nafsu makan menurun, kemudian agak lemas dan lesu," katanya di Medan Zoo, kemarin.

Setelah kematian gajah Sumatera itu, pihak dari Medan Zoo langsung melakukan nekropsi terhadap bangkai Neneng. Namun, Medan Zoo memastikan bahwa Neneng mati karena faktor usia. Bangkai gajah Sumatera yang memiliki bobot sekitar 3 ton itu akan dikuburkan di kawasan Medan Zoo.

"Kami masih nekropsi untuk cari tahu kematian gajah ini. Tapi ini cuma melihat perubahan organ yang terjadi. Tapi yang pasti untuk sementara ini kami bisa pastikan bahwa kematian tersebut karena faktor usia," ujar Sucitrawan.

Pihak Medan Zoo menampik jika kematian gajah Sumatera tersebut kekurangan gizi. Kata Sucitrawan, gajah yang ada di Medan Zoo kerap menikmati pakan yang tersedia di areal seluas 30 hektar.

"Kalau gizi cukup terpenuhi lahan kami ini penuh dengan makanan mereka. Kami masih sanggup pelihara beberapa gajah lagi, lahan di sini cukup untuk memberi makan," tutur Sucitrawan.

Namun di balik kematian Neneng, terselip sebuah fakta miris.

Semasa hidupnya, gajah Sumatera yang sudah ada di Medan Zoo sejak tahun 2005 tersebut kerap dieksploitasi. Neneng bersama seekor gajah Sumatera lainnya bernama Siti kerap ditunggangi pengunjung, satwa dilindungi ini seakan menjadi 'tulang punggung' untuk mencari uang di Medan Zoo. 

Seperti diketahui Medan Zoo menawarkan wisata menunggangi gajah bagi para pengunjung. Sekali naik pengunjung dipatok harga mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per orang.

Fakta ini tak terbantahkan, bahkan Direktur Perusahaan Daerah Pembangunan Kota Medan, Putrama Al Khairi mengakui adanya wisata menunggangi gajah yang ditawarkan untuk para pengunjung. Namun, Putrama berdalih wisata menunggangi gajah merupakan kebutuhan masyarakat dan itu menjadi daya tarik.

"Ini kebutuhan masyarakat juga tinggi karena bagaimana naik gajah itu daya tarik. Itu kebutuhan masyarakat dan kami juga menyesuaikan. Itu (wisata menunggangi gajah) hanya seperti hari libur saat pengunjung banyak," ujarnya.

Gajah Sumatera yang masih tersisa di Medan Zoo bakal tetap menjalani aktivitasnya untuk ditunggangi pengunjung. Namun, Putrama tak akan memaksakan gajah tersebut untuk menjadi objek pemuas hasrat wisatawan.

"Ya dia tetap (ditunggangi), tetapi kami atur agar tidak terlalu capek karena dia sendiri. Mungkin jadwalnya kita lihat juga kondisinya," tuturnya.

Seperti diketahui, dua ekor gajah Sumatera yang ada di Medan Zoo telah berusia di atas 50 tahun yakni Neneng yang berasal dari Aceh. Sedangkan Siti berasal dari Taman Hutan Raya Bukit Barisan. Kedua gajah betina tersebut merupakan satwa primadona di Medan Zoo, tetapi nasibnya tak selalu mujur. Mereka kerap dieksploitasi hanya untuk memuaskan keinginan pengunjung yaitu menunggangi satwa langka dilindungi tersebut. (voa/bls)