Senin, 09 Desember 2019


Puluhan Warga Geruduk Tersus PT MSU dan PT BKL

Editor:

M. Eliazer

    |     Pembaca: 285
Puluhan Warga Geruduk Tersus PT MSU dan PT BKL

Aktivitas bongkar muat yang dilakukan oleh salah satu Tersus di Dusun Dua, Desa Sukabangun, Sabtu (16/11) malam.

KETAPANG, SP - Puluhan warga Desa Sukabangun berunjuk rasa di terminal khusus (Tersus) milik PT Mega Sari Utama (MSU) dan PT Berkat Ketapang Lestari di Dusun Dua, Desa Sukabangun, Sabtu (16/11) malam.

Warga mendesak pemilik Tersus menghentikan aktivitas hingga larut malam karena aktivitas bongkar muat Tersus menghasilkan suara bising yang mengganggu ketenangan masyarakat.

"Tadi malam, warga berunjuk rasa ke pelabuhan milik PT Mega Sari Utama dan PT BKL. Warga menuntut perusahaan tidak melakukan aktivitas sampai larut malam," kata Kepala Dusun Dua Desa Sukabangun, Kecamatan Delta Pawan, Hendri Mulyono, Minggu (17/11).

Selama ini aktivitas bongkar muat di pelabuhan milik pengusaha bernama Limkau dan Aweng tersebut dilakukan hingga larut malam pukul 23.00 WIB. Aktivitas bongkar muat menggunakan alat berat sehingga menghasilkan suara berisik. 

"Tadi malam mereka bongkar muat batu, biasanya bongkar muat CPO, semen dan barang lain menggunakan alat berat sehingga berisik dan menggetarkan rumah warga sekitar pelabuhan," ungkap Hendri .

Menurut dia, selama ini masyarakat sudah resah dengan aktivitas yang dilakukan hingga larut malam di dua Tersus tersebut. Masyarakat mendesak pemilik Tersus untuk peduli dengan keluhan masyarakat.

"Mayarakat minta perusahaan melakukan aktivitas hanya sampai pukul 18.00 WIB. Kalau ada yang mendesak silakan sampai pukul 21.00 WIB. Tapi koordinasi dulu dengan RT setempat dan minta agar penyaluran CSR untuk masyarakat sekitar," jelasnya.

Hendri juga mengaku ia tidak tahu apakah kedua Tersus memiliki izin resmi karena belum pernah melihat langsung perizinannya. Menurut informasi izin awal perusahaan PT Mega Sari Utama bergerak bidang perdagangan barang dan distributor Sembako.

"Kalau ada bongkar muat barang lainnya, kita juga tidak paham dan tidak tahu bagaimana mekanismenya. Selasa (19/11), kita udiensi dengan perusahaan dan akan kita lihat seperti apa kesepakatannya, kalau tidak ada kesepakatan, kita minta instansi terkait turun ke lapangan," tegasnya.

Sementara Kepala KSOP Sukabangun, Alber Marbun mengaku pihaknya tidak pernah mendapat usulan dari pemilik Tersus jika ingin melakukan operasional hingga larut malam.

"Harusnya ada usulan jika ada tambahan jam kerja, kalau pelabuhan umum biasanya usulan ke KSOP dan Tersus harusnya begitu, namun sejauh ini KSOP belum pernah menerima usulan dari dua Tersus ini," katanya.

Terkait dugaan bongkar muat barang tidak sesuai permohonan izin awal, Alber menegaskan, Tersus hanya boleh digunakan khusus bongkar muat barang-barang tertentu sesuai usaha pokoknya, sehingga jika ada bongkar muat barang di luar usaha pokok, tidak dibolehkan.

"Kalau peruntukannya untuk Sembako, maka di luar itu tidak bisa. Makanya dari itu izinnya tidak keluar nanti. KSOP sudah menyurati Tersus, namun mereka saja yang bandel," tegasnya.

"Kita juga tidak bisa terus mengawasi proses bongkar muat, apakah sesuai atau tidak dengan usaha pokok. Kita juga perlu istirahat, anggota KSOP hanya sembilan orang," tambahnya. (teo)


  •