Selasa, 12 November 2019


SDN 9 Sungai Raya Juara Tiga Nasional

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 65
SDN 9 Sungai Raya Juara Tiga Nasional

BERKUNJUNG - Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan berkunjung ke SD Negeri 9 Sungai Raya, Senin (21/10).

KUBU RAYA, SP – SD Negeri 9 Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, menyabet juara tiga nasional pada Lomba Budaya Mutu Sekolah Dasar Tingkat Nasional 2019. 

SD Negeri 9 dapat bersaing dengan sekitar 120 kontestan lainnya se-Indonesia dan sukses meraih peringkat tiga nasional Kategori Sekolah Dasar Negeri Rujukan Komponen Manajemen Berbasis Sekolah. 

Lomba itu digelar Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 

“Kita syukuri dan apresiasi. Ini suatu pencapaian yang luar biasa, bisa mendapatkan juara tiga di tingkat nasional,” ujar Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan di sela kunjungannya ke SDN 9 Sungai Raya, Senin (21/10). 

Muda mengatakan prestasi yang diraih SDN 9 Sungai Raya adalah buah dari manajemen berbasis sekolah. Sebab, menurutnya, manajemen berbasis sekolah adalah jiwa dari pengelolaan sebuah sekolah. 

Dalam manajemen berbasis sekolah, ada pelibatan secara aktif dari semua unsur pemangku kepentingan sekolah bersangkutan.

“Kenapa manajemen berbasis sekolah itu penting? Karena di situlah sebetulnya roh dan substansinya. Bagaimana jika sekolah dikelola dengan cara yang maksimal baik dalam kepemimpinan maupun pola partisipasinya,” sebutnya.

Muda menuturkan, baiknya kepemimpinan dan manajemen relasi antarsemua pihak, memunculkan banyaknya inisiasi positif bagi sekolah. Inisiasi itu tidak hanya berasal dari pihak kepala sekolah dan guru, namun juga dari semua sisi pemangku kepentingan sekolah terkait. 

“Ada manajemen relasi guru-murid, guru-guru, guru-pimpinan, guru-pemerintah, sekolah-kelompok masyarakat, dan seterusnya. Bahkan ada paguyuban wali murid. Ini akan menjadi suatu kohesi yang baik,” terangnya.

Capaian yang diraih, menurut Muda, adalah potret keberhasilan manajemen berbasis sekolah yang bisa memaksimalkan potensi kohesi yang baik dari semua pihak. 

Ia menyebut murid seringkali punya inspirasi dan inisiatif tak terduga. Hanya saja kerap tak berani menyampaikannya. 

“Dan (inspirasi) itu harus kita dengar. Keberadaan paguyuban wali murid pun biasanya menjadi saluran bagi ide dan gagasan murid-murid, yang mungkin takut menyampaikan idenya secara langsung ke pihak sekolah,” jelasnya.

Muda menegaskan, manajemen berbasis sekolah adalah kunci dalam setiap kepemimpinan. 

Ia berkeinginan dapat meluaskan kultur manajemen berbasis sekolah ke sekolah-sekolah lainnya. Karena itu, perlu dilakukan penguatan standar minimal pelayanan (SPM). 

“Manajemen berbasis sekolah harus memenuhi SPM (Standar Minimal Pelayanan), supaya sekolah-sekolah yang lain juga bisa diperkuat dalam pola-pola manajemennya,” tuturnya. (hms/bah)

Manajemen Berbasis Sekolah

Kepala Sekolah SD Negeri 09 Sungai Raya, Sri Priyantinah Listiyanti mengatakan, target budaya mutu adalah agenda rutin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI setiap tahunnya. Keberhasilan sekolah yang dipimpinnya, menurut dia, berawal dari data pokok pendidikan (dapodik) sekolah. 

“Dilihat dari dapodiknya. Setelah dapodik dianggap memenuhi persyaratan, akhirnya divisitasi atau kunjungan. Kunjungan itupun kami tidak tahu. Tiba-tiba saja tim dari pusat datang melihat bagaimana kondisi di sekolah ini tanpa ada pemberitahuan lebih dulu,” ungkapnya.

Setelah itu, lanjut Listiyanti, pihak sekolah diundang untuk mempresentasikan gagasan yang sudah dilaksanakan sekolah terkait, khususnya berkaitan dengan delapan standar nasional pendidikan (SNP).

Pihaknya berusaha menjelaskan bahwa best practice yang dilakukan di sekolah adalah dengan dasar mengembangkan seluruh budaya mutu yang ada di sekolah, terutama yang ada di manajemen berbasis sekolah. 

“Ternyata itulah yang mengantarkan kami sehingga bisa membawa predikat juara tiga nasional. Ini adalah untuk Kubu Raya dan Kalimantan Barat,” paparnya.

Listiyanti mengaku pihaknya tidak pernah bekerja dengan target mendapatkan juara. Menurutnya, apa yang dilakukan sekolah hanyalah melakukan apa yang seharusnya dilakukan demi peningkatan mutu pendidikan. 

“Kita melakukan apa yang memang harus dilakukan oleh semua sekolah, bukan hanya SD Negeri 9. Kalau semua sekolah bisa melakukan itu dengan penuh kesadaran dan komitmen, maka yakinlah Kubu Raya akan bisa terdepan dan berkualitas,” katanya.

Listiyanti menyatakan pentingnya implementasi, bukan sekadar konsep di atas kertas. Dengan aksi nyata itulah, menurut dia, SDN 9 bisa meraih sejumlah prestasi membanggakan. Di antaranya menjadi sekolah rujukan, sekolah ramah anak, sekolah model sekolah sehat, dan sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi Kalimantan Barat sekaligus wakil Kalbar di tingkat nasional. 

“Dan tahun kemarin kita juga mendapat predikat kepala sekolah berprestasi dan peringkat satu di Kalbar mewakili ke tingkat nasional,” tambahnya. (hms/bah)