Selasa, 19 November 2019


Satpol-PP Landak Amankan Anak Punk

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 108
Satpol-PP Landak Amankan Anak Punk

AMANKAN - Satpol-PP Landak mengamankan delapan orang anak punk yang berasal dari sejumlah kabupaten di Kalbar dan luar Kalbar. Merekapun akhirnya dibawa Satpol-PP Landak ke Poslantas Sungai Pinyuh untuk dipulangkan lagi ke tempat asalnya.

NGABANG, SP - Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kabupaten Landak mengamankan delapan orang anak punk, Rabu (16/10). Saat diamankankan, anak punk tersebut mengaku ingin mengamen menyuarakan isi hati untuk melawan korupsi melalui nyanyian.

"Kita tanyakan mereka tujuannya. Mereka ingin menyuarakan isi hati mereka untuk melawan korupsi melalui sejumlah nyanyian yang mereka lakukan. Mereka awalnya hendak mengamen di Landak, tapi tidak kita ijinkan dan akan kita antarkan kembali ke Sungai Pinyuh untuk dideportasi ke daerahnya masing-masing,” kata Kabid Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) Satpol-PP Landak, Ya' Jayadi, Rabu (16/10).

Dari delapan anak punk yang diamankan tersebut, satu orang merupakan anak punk wanita, sedangkan yang lainnya pria. Mereka berumur antara 15 sampai 22 tahun. 

Ya' Jayadi menjelaskan, sebelumnya ada masyarakat yang melaporkan terkait aktivitas anak punk tersebut di depan sebuah Bank di pinggir jalan Kota Ngabang. Menerima laporan, pihaknya langsung bekerja cepat mendatangi para anak punk tersebut. Mereka khawatir jika anak punk tersebut akan berbuat yang tidak baik kepada masyarakat lainnya.

"Setelah kita sisir sesuai laporan dari masyarakat, memang kita menemukan ada delapan orang anak punk. Mereka mengaku dari berbagai daerah di Kalbar dan luar Kalbar. Mereka ada yang berasal dari Kabupaten Ketapang, Kabupaten Melawi, Kota Singkawang, Kota Pontianak. Bahkan ada juga yang berasal dari luar Kalbar seperti Samarinda dan Banjarmasin, " jelasnya.

Dia menambahkan, dari pengakuan para anak punk itu, mereka berencana akan kembali ke Pontianak.

"Pengakuan mereka, sebelumnya sempat tidur malam hari di Poslantas Ngabang dan akan kembali ke Pontianak. Setelah kita tanyakan lagi kepada mereka, mereka memang tidak memiliki biaya. Selain itu mereka berencana akan menumpang mobil menuju Pontianak. Kita sangat khawatir dalam hal ini, " ungkap Jayadi.

Diterangkannya, Satpol-PP Landak sendiri berinisiatif akan mencoba bawa para anak punk itu ke daerah Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah.

"Kita akan menyerahkan mereka ke Satlantas Sungai Pinyuh untuk bisa memberangkatkan mereka ditujuannya masing-masing. Dengan demikian, mereka bisa betul-betul kembali ke alamatnya masing-masing. Kita khawatirkan kalau mereka tetap berjalan kaki, kita mengkhawatirkan mereka akan melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan, " terangnya.

Ditambahkan Jayadi, para anak punk tersebut mengaku baru dari Kabupaten Sanggau. Diantara ada yang membawa gitar, bahkan ada yang bertato dan memakai anting-anting dikupingnya.

Sementara itu, salah satu anak punk, Rido mengaku berasal dari Sungai Pinyuh. Mereka memiliki hubungan keluarga.

"Kami memang ada hubungan keluarga. Kamipun anak-anak yang baik, " akunya.

Dia juga mengakui sampai di Kota Ngabang dari Kabupaten Sintang pada Selasa malam lalu.

"Kami memang mau ke Pontianak. Di Sintang, kita memang melakukan ngamen selama tiga hari, " katanya. (dvi)

Kerap Distigma Negatif

Pengamat sosial, Viza Julian mengatakan, anak punk tidak selalu berasal dari keluarga broken home, karena dalam kelompok anak punk itu sendiri ada keberagamaan asal-usul, mengingat para remaja saling mempengaruhi satu sama lain. 

Namun tidak bisa dinafikkan juga, di antaranya ada membentuk komunitas tertentu, karena kondisi keluarga yang tidak bisa mengakomodir kebutuhan mereka. 

"Tidak sedikit juga remaja menjadi anak punk terpengaruh oleh teman yang lain. Bisa dikatakan dipengaruhi faktor lingkungan yang berdampak, sehingga mereka memutuskan bergabung dengan komunitas anak punk," kata Viza, belum lama ini.

Selama ini asumsi terhadap anak punk, khususnya di Kalbar, mereka distigmakan anak jalanan mengganggu ketertiban, sedikit dianggap preman dan lain-lain. Ini berbeda dengan fenomena punk asli, karena ide dari anak-anak punk pada awalnya tentang kebebasan. Mereka ingin menikmati hidup sesuai dengan bagaimana mereka mau. 

Secara umum anak punk menurutnya, tidak banyak yang benar-benar melakukan kejatahan, tapi potensi untuk ke sana tentu ada. Bahkan sebaliknya, mereka bisa menjadi kelompok yang berpotensi untuk menjadi korban kejahatan oleh komunitas lainnya. 

“Jadi bagaimana pun, komunitas ini harus dibina dan salah satu pihak yang paling bertanggung jawab adalah Dinas Sosial dan orang tua mereka,” katanya. 

Kalau bicara soal ideal, mestinya anak punk diberikan pendidikan yang benar-benar untuk memastikan mereka tidak kembali ke jalan. 

“Tapi itu membutuhkan biaya yang besar, alokasi waktu dan pemerintah kita, tidak punya cukup sumber daya tenaga maupun keuangan,” katanya. (iat/ien)