Kamis, 21 November 2019


Pelaku Diduga Makcomblang Ditangkap

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 156
Pelaku Diduga Makcomblang Ditangkap

Ilustrasi Wesi

MEMPAWAH, SP – Praktik selubung Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus kawin kontrak diduga bergerak sistematis di Kabupaten Mempawah. 

Setelah sehari sebelumnya atau Minggu (20/10), tim gabungan mengamankan empat orang, masing-masing dua orang diduga makcomblang yaitu Akiong dan Aju dan dua Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok yaitu Qu Ningbo dan Qu Saoqing, polisi kembali mengamankan satu orang bernama Lie Tjhin yang diduga juga makcomblang praktik pengantin pesanan itu, Senin (21/10). 

Ketua DPW Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kalimantan Barat, Iswandi yang turut menggerebek empat pelaku diduga terlibat TPPO mengatakan bahwa Lie Tjhin kabur ketika penggerebekan di Dusun Kembang Lada, RT 07 Rw 03, Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah pada Minggu (20/10).

"Saat kita melakukan penangkapan kemarin, Lie Tjhin ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Namun, dia beralasan hendak mengambil paspor dan tak kunjung kembali," ungkap Iswandi kepada Suara Pemred. 

Iswandi mengatakan bahwa penangkapan Lie Tjhin yang warga Jalan Krendang Timur, Kecamatan Tambora,  Jakarta Barat itu saat dia hendak mengantarkan makanan kepada suaminya, Akiong yang lebih dulu diamankan di Polres Mempawah. 

"Setelah dia (Lie Tjhin) kabur, kami terus mencari informasi keberadaannya. Kami dapat info dia menyewa mobil rental dan hendak mengantarkan makanan ke suaminya (Akiong) di Polres Mempawah. Kami pun langsung menghubungi Polres untuk diamankan dan dimintai keterangan. Sebab, dia mau kabur ke Jakarta setelah ketemu suaminya itu,” ungkap Iswandi. 

Akiong pun, kata Iswandi, diduga bukan suami sah Lie Thjin.

"Informasi warga sekitar status perkawinan mereka tak jelas atau disebut kumpul kebo," kata Iswandi.

Berdasar rekam jejak, Lie Tjhin diduga kuat jadi makcomblang kawin kontrak dengan WNA. Pasalnya, anak tirinya pun juga pernah dijodohkan dengan WNA asal Tiongkok untuk pengantin pesanan.

"Kami harap polisi dapat mengungkap kasus ini sejelas-jelasnya dan sebenar-benarnya. Pemerintyah daerah juga diharap merespons fakta ini dengan memberikan sosialisasi ke semua lapisan masyarakat," kata Iswandi.

Sementara Kasat Reskrim Polres Mempawah, AKP Sutrisno membenarkan bahwa pihaknya kembali mengamankan satu di antara pelaku yang diduga makcomblang atas dugaan TPPO dengan modus kawin kontrak.

"Kita masih melakukan penyidikan," kata Sutrisno singkat. 

Diberitakan sebelumnya, tim gabungan menggerebek empat orang yang diduga terlibat TPPO dengan modus kawin kontrak di kawasan Dusun Kembang Lada, RT 07 Rw 03, Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Minggu (20/10). 

Tim gabungan itu terdiri atas DPC/DPD Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Mempawah, BAIS Mempawah, Koramil Sungai Kunyit, Polsek Sungai Kunyit dan KPAI Mempawah. 

Ketua DPD SBMI Kalimantan Barat, Iswandi mengatakan penggerebekan dilakukan berawal adanya informasi yang dihimpun dari masyarakat bahwa di kawasan Dusun Kembang Lada terdapat orang yang diduga terlibat TPPO dengan modus kawin kontrak.

"Kita melakukan investigasi selama empat hari sebelum dilakukan penangkapan. (Investigasi dilakukan) terkait adanya tindak pidana perdagangan orang di Mempawah yang korbannya F (16) wanita masih berstatus pelajar SMP kelas 9 warga Desa Bukit Batu," katanya.

Saat rumah itu digerebek, sedang diadakan upacara kawinan secara adat. Di dalam rumah itu terdapat Akiong dan Aju, warga Sungai Duri sebagai makcomblang TPPO kawin kontrak dan dua orang lainnya yaitu Qu Ningbo dan Qu Saoqing, WNA asal Tiongkok yang tak bisa berbahasa Indonesia.

"Kita bawa ke Polres Mempawah tiga orang. Dua orang makcomblang dan teman pria yang kawin yaitu Qu Saoqing dahulu. Sedangkan Qu Ningbo sedang melakukan kawin secara adat dengan F (16)," jelasnya. 

"Dua orang makcomblang ini sudah bisa disebut masuk kategori mafia TPPO. Karena infonnya mereka ini sudah beberapa kali beroperasi di Mempawah. Makanya kita bawa tiga orang dulu, sementara yang sedang melakukan kawin adat (Qu Ningbo) akan dipanggil usai pelaksanaan kawinnya," tegasnya.

Diungkapkan bahwa dalam menjalankan aksinya, makcomblang menjanjikan kepada keluarga korban uang sebesar Rp25 juta, seperangkat mas kawin saat prosesi pernikahan serta akan disediakan apartemen di Tiongkok.

Modus TPPO seperti ini sudah banyak terjadi. Untuk kasus-kasus TPPO yang ditanganinya, makcomblang akan mendapatkan uang sebesar Rp400 juta hingga Rp800 juta jika mendapatkan orang yang mau dikawin kontrak.

“Namun, infonya saat ini makcomblang hanya mendapatkan Rp350 juta per satu orang agar bisa dinikahi dan dibawa ke negeri Tiongkok," tegasnya.

Berdasar persyaratan pernikahan, Iswandi mengatakan bahwa kasus ini sudah masuk unsur TPPO. Sebab, syarat perkawinannya sangat amburadul seperti tak ada surat persetujuan dari kedutaan, tak ada surat dari desa, tak ada surat domisili, bahkan pengantin wanitanya pun masih di bawah umur.

"Ini sudah masuk TPPO, namun jika hasil pemeriksaan tak terpenuhi, maka kita akan mengambil upaya hukum lainnya," tegasnya. (ben/bah)

Sosialisasi Kejahatan

Anggota DPRD Kabupaten Mempawah, Subandrio mengatakan instansi terkait perlu melakukan sosialisasi tentang kejahatan kawin kontrak. 

"Hal itu merupakan tugas dan tanggung jawab instansi terkait untuk melakukan sosialisasi," katanya.

Pencegahan secara dini sangat penting dilakukan. Sosialisasi harus dilaksanakan hingga ke desa-desa.

"Lebih baik melakukan upaya pencegahan agar warga Mempawah tak jadi korban kawin kontrak," tegasnya. (ben/bah)