Minggu, 08 Desember 2019


Kisah Inspiratif Pengusaha Bakso Jon Kelana

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 725
Kisah Inspiratif Pengusaha Bakso Jon Kelana

GIGIH - Salah satu restoran bakso milik Witono (37), pengusaha bakso terkenal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perjalanan hidup pengusaha dari Solo ini sangat inspiratif. (website MJK)

Witono Bangkit Setelah Bebas Dari Narkoba


Witono (37) salah seorang pengusaha bakso yang cukup terkenal di Banjarmasin,Kalimantan Selatan pada sembilan tahun lalu atau tepatnya pada 2008 kini berupaya bangkit untuk mengembalikan masa keemasannya setelah dia terjerat obat-obatan terlarang.

SP - Bakso Jon Kelana merupakan salah satu bakso yang kala itu cukup terkenal dan digemari warga Banjarmasin. Selain promosi yang cukup gencar, cita rasa baksonya juga dinilai lain dari pada yang lain.

Kala itu, bakso yang dikelola Witono, mampu melayani tidak kurang dari 2.100 porsi per hari. Dapat dibayangkan, dengan harga Rp5 ribu per mangkuk, maka omset per harinya tidak kurang dari Rp10.500.000 per hari.

Omset Rp10 juta lebih per hari, bukanlah uang sedikit pada tahun itu, apalagi hampir setiap hari pelanggan bakso terus bertambah. Kesuksesan mengelola usaha bakso dan uang yang banyak, justru menjadi awal kehancuran bagi Witono dan keluarganya.

"Sebelumnya, saat saya menjadi atlet bulu tangkis, saya juga terjerat obat-obatan tersebut. Saat itu, saya masih berumur 19 tahun, dan berada di puncak keemasan dengan prestasi yang cukup gemilang," katanya.

Sejak mengenal narkoba, prestasi di bidang olahraga Witono pun hancur, sehingga dia tidak bisa melanjutnya cita-citanya.

Melalui dukungan penuh keluarga dan pengobatan serta terapi secara terus- menerus, akhirnya Witono bebas dari jeratan narkoba. Ia berusaha bangkit dari keterpurukannya, dengan memulai usaha bakso, yang merupakan usaha turun-temurun.

Memulai usaha dari nol sejak 1994, akhirnya usahanya membuahkan hasil, hingga pada 1999, Witono memutuskan memberikan nama usahanya dengan nama bakso Jon Kelana.

Nama bakso tersebut, cukup terkenal hingga akhirnya pada 2008, pada masa-masa keemasannya, nama bakso tersebut menghilang. Banyak pelanggan yang mencari, namun ternyata tidak lagi buka, sehingga dikira bakso tersebut mengalami kebangkrutan.

"Pada tahun itulah, saya kembali terjerat narkoba, seluruh harta kekayaan, mulai rumah, mobil dan semuanya habis terjual, hingga saya tidak bisa lagi membeli barang haram tersebut," katanya.

Menurut dia, selain kenyamanan mendapatkan uang, salah satu penyebab banyaknya orang terjerumus ke obat-obatan terlarang karena salah memilih teman.

"Awalnya diajak ke pesta ulang tahun, kemudian diminta menemani teman ulang tahun, lama-lama menjadi terjerat, karena merasa tidak nyaman dengan teman. Maka, kita harus sangat hati-hati dalam memilih teman," katanya.

Karena namanya cukup melegenda, tidak perlu waktu lama, bakso Jon Kelana dengan cepat dikenal kembali oleh masyarakat. Kendati baru 1,5 bulan dibuka, bakso tersebut telah mampu membuka tiga cabang, dan dalam waktu dekat akan kembali membuka sembilan cabang.

"Saya targetkan, akan membuka cabang di seluruh Indonesia, bahkan di lima Benua, seluruh konsepnya sudah sangat matang," katanya.

Witono hanyalah salah satu dari ratusan bahkan mungkin ribuan korban peredaran narkoba di daerah ini. Genderang perang terhadap narkoba, harus terus ditabuh secara bertalu-talu, untuk membangkitkan semangat seluruh pihak, bukan hanya aparat, pemerintah dan terkait lainnya, tetapi juga masyarakat dari seluruh lapisan, untuk menyatakan perang terhadap barang haram tersebut.

Penangkapan dan hukuman berat bagi bandar dan pengedar, belum mampu menutup peredaran obat-obatan yang menghancurkan otak bahkan bisa membuat kematian ini. Maka perlu ada upaya-upaya lain, yang menjadi benteng kuat, agar banjirnya obat-obatan terlarang ke Kalsel, tidak akan mempengaruhi generasi muda.

Salah satunya adalah meningkatkan kepedulian dan rasa kebersamaan, kasih sayang, antara anggota keluarga, tetangga, masyarakat, teman sekolah, guru, pemerintah, aparat, ulama dan lainnya.

Kini, masyarakat perlu benteng yang kuat, yang terus melindungi mereka dari gempuran-gempuran masuknya Narkoba dari segala sisi, baik darat, laut dan udara.

"Saat seluruh keluarga, saling bahu membahu dan saling menjaga, insya Allah, akan menjadi salah satu penangkal ampuh jeratan narkoba," kata Witono. (antara/lis)