Kamis, 12 Desember 2019


Penerapan Sekolah Lima Hari

Editor:

Syafria Arrahman ST Raja Alam

    |     Pembaca: 748
Penerapan Sekolah Lima Hari

JEMPUT SEKOLAH – Orangtua murid terlihat memapah sang anak ketika menjemput pulang sekolah. Tahun ajaran baru mendatang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai menerapkan sekolah lima hari. (Dok. Suara Pemred)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan baru saja mengesahkan sekolah lima hari yang akan dimulai pada tahun ajaran baru mendatang. Hal ini pun disambut baik oleh para siswa di Kota Pontianak.
Satu di antara siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 8 Kota Pontianak, Ichwan berkata tak masalah jika sekolah diubah jadi lima hari. Menurutnya waktu libur di hari Sabtu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain. Semisal ekstrakulikuler atau mungkin waktu untuk keluarga.

"Kalau kita ikut peraturan saja. Enak juga kalau Sabtu libur, jadi bisa ikut ekskul tidak mepet dengan jam sekolah," tuturnya, Jumat (9/6) siang. Perihal waktu belajar harian yang akan bertambah, menurutnya tentu tak akan terlalu lama. Selama ini, dia merasa nyaman dengan kondisi sekolah.

Sehingga tak masalah kalau jam belajar ditambah. "Di sekolah nyaman, pokoknye betah," ucapnya singkat. Di lain pihak, Hari (42) satu di antara orangtua murid merasa kebijakan ini cukup baik. Dia pun sudah pernah mendengar adanya wacana itu sewaktu ramai-ramai bahasan tentang full day school. Apa yang akan diterapkan di tahun ajar mendatang diyakininya bisa membuat waktu anak bersama keluarga jadi lebih banyak.

"Kalau tidak salah di Pontianak, SD juga sudah lima hari. Belajar kan tidak harus di sekolah terus," jelasnya. Hanya saja dia memberi catatan, jangan sampai kebijakan baru itu nantinya malah membebani siswa. Seperti harus mengejar materi ajar dan lain sebagainya. Menurutnya, jika hari Sabtu diliburkan, siswa tak harus selalu diberi pekerjaan rumah.

"Kalau pun ada, jangan banyak-banyak. Paling tidak PR bisa bantu kontrol anak dalam belajar," pungkasnya. Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menyebutkan, Kota Pontianak sudah lebih dulu menerapkan sekolah lima hari. Siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) telah melangsungkannya dan tak ada kendala.

"Tapi guru Sabtu juga tetap harus hadir, ada kegiatan lainnya,  kalau murid tidak hadir di sekolah," tuturnya. Perihal fasilitas sekolah, katanya pun sudah memadai. Fasilitas yang ada menunjang sekolah lima hari yang telah diterapkan. Kantin-kantin sekolah juga diyakininya baik dan sehat.

"Tapi kita minta bagaimana orangtua bisa memperhatikan anaknya juga dalam memberikan bekal makanan yang sehat, contohnya saja saya, anak saya setiap hari dibekalkan makanan," ceritanya.

"Kalau secara keseluruhan SD dan SMP tidak ada masalah menerapkan sekolah lima hari. Saya tidak tahu kalau SMA karena sudah di provinsi," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Sutarmidji juga menyinggung perihal hasil ujian nasional SMP. Di Indonesia katanya, kurikulum yang berlaku ada dua, yakni 2006 dan 2013.

Kota Pontianak sendiri menggunakan kurikulum 2013. "Kemudian penurunan itu untuk semua SMP yang ada di Kalbar, tapi Pontianak  masih tetap menjadi yang tertinggi. Hanya mungkin masalah itu saja, dan masalah yang lainnya tidak ada," sebutnya.

Tiap tahun soal ujian pun makin meningkat. Menurutnya itu jadi tantangan guru ke depan. Guru harus meningkatkan kompetensi yang dimiliki. "Kalau ujian berbasis komputer kita bisa semua tahun depan. Salah satu alasan kita tidak bisa ikut,  karena server pusat itu tidak memadai," pungkasnya.

Manfaatkan Waktu


Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak, Satarudin mengatakan sebenarnya penerapan sekolah lima hari sudah berjalan di Kota Pontianak. SD dan SMP telah melaksanakannya beberapa waktu lalu. Dari apa yang telah diterapkan, tinggal dievaluasi.

Apalagi saat ini kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang sekolah lima hari telah ditetapkan. "Tinggal apa yang sudah kita terapkan dievaluasi, lalu sinergiskan dengan kebijakan dari Kemendikbud. Saya rasa tidak akan masalah," ucapnya, Jumat (9/6).

Dari pantauannya, apa yang sudah berjalan di Pontianak cukup baik. Siswa tidak merasa terbebani. Peran penting ada pada orangtua siswa. Anak harus diberi perhatian lebih, lantaran punya waktu lama di sekolah. "Orangtua bisa bekalkan anak makanan.

Memang kantin sekolah rata-rata sudah bagus, tapi jauh lebih bagus kalau itu masakan sendiri," ucapnya. Adanya waktu libur tambahan di hari Sabtu, bisa dimanfaatkan untuk kegiatan siswa lain. Semisal ekstrakulikuler.

Konsentrasi siswa tak harus terpecah jika ekstrakulikuler dilakukan di luar hari sekolah pada umumnya. Mereka bisa lebih fokus. Tak hanya itu, hari libur tersebut bisa dimanfaatkan untuk menambah kedekatan siswa dengan orang rumah mereka. Memang diakui sebagian orang tua ada yang bekerja di hari Sabtu.

Tapi biasanya akhir pekan hanya setengah hari saja yang jadi kewajiban. "Kita menyambut baik ini, apalagi di Pontianak sudah berjalan dan terbukti tak ada kendala berarti. Anak-anak bisa lebih segar ketika masuk hari Seninnya," pungkasnya. (bls/and)