Minggu, 08 Desember 2019


BNPT: Paham Teror Mengincar Mahasiswa Galau

Editor:

Angga Haksoro

    |     Pembaca: 270
BNPT: Paham Teror Mengincar Mahasiswa Galau

Pontianak, SP - Kampus dianggap rentan menjadi tempat penyebaran paham radikal. Hasrat mahasiswa yang selalu ingin tahu sesuatu yang baru sering dimanfaatkan orang untuk menyebarkan paham menyimpang.  

Hal itu disampaikan Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris saat menghadiri Seminar Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura.  

Seminar mengangkat tema “Peningkatan Ketahanan Bangsa untuk Menjaga Keutuhan NKRI”, dilaksanakan di Auditorium Untan di Jalan Muhammad Isya Pontianak, Sabtu (10/11).  

Idris mengatakan, saat ini teroris tidak dapat diditeksi hanya dengan melihat penampilan fisik seseorang. Ciri-ciri fisik seorang yang diduga teroris dapat menyerupai orang biasa dalam kehidupan sehari-hari.  

Tersangka teror hanya dapat dilihat melalui cara pandangnya terhadap permasalahan bangsa. Teroris dapat dilihat dari ideologi mereka yang menyimpang. "Apa pun namanya yang penting tujuannya mengubah ideologi Republik Indonesia menjadi negara Islam, itulah tujuan teroris,” kata Idris.  

Teroris juga selalu menggunakan cara kekerasan mengatasnamakan agama untuk menjalankan aksinya. Ini menyalahi ajaran agama, dimana semua agama mengajarkan umatnya tentang cinta kasih. “Oknum-oknum (teroris), sering menyasar mahasiswa yang galau,” ujar Idris.  

Menurut Idris, dalam Al Quran kata jihad ditulis 41 kali dan tidak ada satupun yang menyebut jihad dapat dilakukan dengan cara bunuh diri. Hal ini sering disalahartikan oleh sebagian orang.  

“Teroris itu tidak paham jihad. Beragama itu memanusiakan manusia,” kata Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris.  

Selain itu, menurut Irfan Idris, kampus tempat mencetak akademisi penerus bangsa. Mahasiswa seharusnya jangan pernah mau dikotak kotakan dalam perbedaan suku, agama, dan etnis.  

Ketua BEM FISIP Untan, Adi Afrianto mengatakan seminar ini diadakan sebagai upaya memberi pemahaman kepada orang banyak, khususnya mahasiswa agar mampu menjaga keutuhan bangsa.  

Adi menyampaikan penyebaran paham radikal di Indonesia sangat masif dan cepat. “Tidak ada satu wilayah pun di Indonesia yang luput dari penyebaran paham radikal.”  

Kampus saat ini menjadi salah satu sasaran penyebaran paham radikal. Ini dianggap sebagai masalah serius, karena di kampus seharusnya lahir akademisi yang mampu mempertahankan NKRI. “Bahkan ada oknum guru besar sebuah kampus yang terindikasi terkena (simpatisan) paham radikal,” kata Adi.  

Adi berharap mahasiswa sebagai kaum terdidik mampu menetralisir dan meminimalisir penyebaran paham-paham radikal. Dia berharap Kalimantan Barat terbebas dari penyebaran paham-paham radikal.  

Seminar ini juga dihadiri Anggota DPR RI, Erwin TPL Tobing dan sejumlah pejabat di lingkungan kampus Untan. (din)