Rabu, 23 Oktober 2019


Modus Mata Pelajaran Tambahan, Guru SD Perkora Muridnya Sendiri

Editor:

Admin

    |     Pembaca: 1039
Modus Mata Pelajaran Tambahan, Guru SD Perkora Muridnya Sendiri

Guru pelaku perkosaan muridnya sendiri

PONTIANAK, SP - Kasus pemerkosaan anak di bawah umur kembali terjadi. Kali ini pelakunya adalah seorang guru di Sekolah Dasar (SD) di Pontianak Selatan. Korban adalah muridnya sendiri berusia 11 tahun. 

Wakasat Reskrim Polresta Pontianak, IPTU R Rizal mengatakan, pelaku berinisial IA (61). Aksi pemerkosaan dilakukannya sebanyak tiga kali, di kebun dekat sekolah.

"Modusnya iming-iming memberikan tambahan pelajaran matematika. Kejadian pertama hari Sabtu di bulan Desember 2018, sekitar pukul 10.00 WIB," kata Rizal, kemarin. 

Hari itu, korban baru selesai mengikuti les privat di rumah temannya, di mana yang mengajar sendiri adalah tersangka. Usai mengajar, IA mengajak korbannya untuk mengerjakan tugas. 

"Awalnya sempat menolak, namun IA memaksa korban dengan cara menarik tangannya sampai ke motor," ujar Rizal 

Dengan sepeda motor tersebut, IA membawa korban ke sebuah pondok di kebun yang tak jauh dari lokasi sekolah. Sesampainya di sana, IA langsung melancarkan aksinya dengan cara memaksa korban untuk berbaring, bahkan membuka paksa pakaian korban. 

Perbuatan itu diulangnya kembali pada hari Rabu (16/1). Kali ini di dua lokasi, yakni di dalam kelas enam pada jam istirahat, sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu kebetulan mata pelajaran diisi oleh IA. Ketika jam istirahat tiba dan korban ingin keluar kelas, IA memanggil korbannya, serta memberi perintah kepada korban agar duduk di kursi dan secara spontan melakukan tindakan asusila. 

Sekitar pukul 14.00 WIB, saat jam sekolah telah usai dan korban ingin pulang ke rumah, IA memanggil serta mengajak korban untuk mengikutinya. Kala itu korban sempat bertanya kepada IA akan mengajaknya ke mana, namun IA hanya menjawab agar korban mengikut saja. 

Dengan iming-iming akan membantu korban mengerjakan tugas pekerjaan rumah mata pelajaran matematika yang sebelumnya diberi IA sewaktu mengajar tadi siang, IA membawa korban ke kebun, di lokasi pertama kali dirinya melancarkan aksi bejatnya tersebut. Di sana perkosaan kembali dilakukan.

Pada perbuatan ketiga kalinya, korban sempat mempertanyakan kepada IA mengapa IA berprilaku seperti itu. Namun celaka, IA justru mengancam korban akan membuat hidup korban tidak akan tenang jika seandainya perbuatan dirinya tersebut dibeberkan. 

Waktu itu hari Kamis (24/1) sekitar pukul 09.00 wib, korban tengah duduk sendirian di dalam kelas. Kemudian IA mendekatinya dan berprilaku tidak senonoh terhadap korban. Setelah itu ketika pulang sekolah, IA kembali memaksa korban untuk mengikutinya ke kebun lagi. Korban menolak, namun ditarik dengan paksa agar korban naik ke atas motor. Di sanalah ancaman itu didapatkan korban. 

Karena tidak tahan dengan perbuatan gurunya tersebut, akhirnya korban mengadu kepada kakak kandungnya. Kemudian dari hasil aduan itulah kakak kandung korban membuat laporan ke Jatanras Polresta Pontianak. 

Pada hari Jumat (25/1), Jatanras Polresta Pontianak melakukan penyelidikan tentang keberadaan IA. Dari hasil penyelidikan, didapati saat itu IA tengah berada di sekitaran wilayah Jalan Purnama. 

Ketika Jatanras Polresta mendatangi lokasi tersebut, ternyata IA telah bergerak ke jalan Perintis, Kota Baru. Di sanalah IA diamankan sekitar pukul 13.00 wib.  

IA adalah seorang laki-laki berusia 60 tahun, warga Pontianak Selatan. Laki-laki kelahiran kota Ketapang ini merupakan seorang ayah dari tiga orang anaknya, dan saat ini ia merupakan seorang guru berstatus PNS di sebuah Sekolah Dasar di Pontianak Selatan. 

Atas perbuatannya ini, IA dijerat tindak pidana persetubuhan dan atau cabul terhadap anak di bawah umur. Dengan ancaman penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun ditambah denda Rp5 miliar. (sms)