Kamis, 05 Desember 2019


Mahasiswa Papua di Kalbar Ajak Jaga Persatuan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 829
Mahasiswa Papua di Kalbar Ajak Jaga Persatuan

KIBARKAN BENDERA - Peserta Apel Gelar Kekuatan Nusantara mengibarkan bendera merah putih di lapangan Hokky Kota Sorong Papua Barat pada 2016. Pemerintah daerah, TNI dan Polri melaksanakan kegiatan Nusantara Bersatu dengan melibatkan 27.000 masyarakat, pel

PONTIANAK, SP - Mahasiswa asal Provinsi Papua yang sedang studi di Kalbar menegaskan akan tetap menjaga persatuan dan kesatuan di Indonesia. Mereka menyatakan sikap tidak akan ikut-ikutan dalam situasi yang tengah terjadi saat ini. 

Hal itu disampaikan langsung oleh orangtua angkat mahasiswa Papua di Kalbar, Stepanus Paiman, Rabu (21/8). Pernyataan Paiman merespons kerusuhan yang pecah di Manokwari, ibu kota Provinsi Papua hingga terjadi pembakaran gedung DPRD Papua Barat, Senin (19/8). 

Kata dia, jumlah mahasiswa yang berasal dari Papua dan tengah studi di Kalbar sebanyak 97 mahasiswa. Kesemuanya juga telah menyatakan sikap untuk tidak memperkeruh situasi-situasi yang telah terjadi beberapa hari terakhir. 

Kata Paiman, menyikapi situasi yang kurang kondusif saat ini adalah berdoa agar situasi mereda dan kembali seperti mula. Apalagi, NKRI harga mati adalah prinsip yang harus dipegang teguh, termasuk mahasiswa Papua. 

Sebelumnya, dia menjelaskan status orangtua angkat yang disandangnya adalah diangkat secara resmi oleh seluruh mahasiswa yang kuliah di Kalbar. Artinya, ketika ada permasalahan yang merundung mahasiswa-mahasiswa asal Papua, maka akan dikompromikan dan dicarikan solusinya secara bersama-sama. 

"Pada prinsipnya anak-anak muda Papua yang ada di Kalbar dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat Kalbar," ucapnya.

Dia mengatakan, sebagai orangtua angkat, dirinya selalu memberi target agar mahasiswa Papua di Kalbar dapat menyelesaikan studinya paling lama empat tahun. Dengan begitu, mahasiswa-mahasiswa ini harus tekun belajar dan fokus terhadap tujuan mereka. 

"Sehingga mereka (mahasiswa Papua) segera kembali dan menerapkan ilmunya di tanah Papua," ujarnya. 

Sebetulnya, mahasiswa Papua ini kuliah di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Meskipun begitu, jarang sekali keberadaannya bisa didapatkan. 

Walaupun begitu, bagi yang pernah mengenal mereka akan meninggalkan kenangan yang mendalam, seperti yang dirasakan oleh alumni Fakultas Pertanian Untan, Harto Purdakas. Dirinya punya satu kawan akrab yang kenal sejak awal masuk kuliah. 

"Aku kenal sama dia (mahasiswa asal Papua) dari awal kuliah dulu tahun 2011 sampai selesai kuliah walaupun dia lebih dulu selesai dari aku," ungkap dia. 

Kata dia, temannya yang berasal dari Papua ini mudah akrab dan beradaptasi dengan mahasiswa lain. Dialek bahasanya terdengar keras, namun, kata Harto, jika diterjemahkan ke bahasa lokal, juga memiliki arti percakapan yang sama seperti lumrahnya. 

"Misalnya dia manggil-manggil kita (menyapa) kayak keras gitu, tapi kan memang nadanya kayak gitu. Sama juga kayak orang Dayak, Melayu gitu, walau ada bahasa yang terdengar yang asing kita dengar tapi artinya tetap sama, lembut. Ini hanya soal gestur bahasa masing-masing kita saja," ujarnya. 

Mahasiswa Papua inipun dikenal rajin dan ulet. Bahkan, kata Harto, temannya yang berasal dari Papua ini kerap memberi dia motivasi untuk segera menyelesaikan studi di kampus. 

Tak hanya itu, di dalam kelaspun mereka dinilai mampu bersaing dengan mahasiswa asal Kalbar. Mislanya diceritakan oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Untan, Viza Julian. 

Viza bercerita beberapa semester di mata kuliah yang dirinya ajar, terdapat beberapa mahasiswa asal Papua. Walaupun jumlahnya hanya terhitung satu atau dua orang, namun dari segi akademis mereka di atas rata-rata. Bahkan dari sikap mereka lebih sopan. 

Walaupun dari segi keaktifan di dalam kelas selama ini belum ada yang terlalu menonjol. Namun, hal ini tidak terlalu berkorelasi dengan kemampuan akademik mereka. 

"Ini mungkin hanya karena perasaan yang tidak nyaman saja, karena mereka berada di lingkungan baru. Jadi masih agak malu-malulah," kata dia. 

Dari segi pergaulan, Viza bercerita mereka juga cepat berbaur dengan mahasiswa lain. Walaupun ada beberapa laporan yang sempat didapatinya bahwa ada beberapa mahasiswa yang berkumpul sesama mereka yang berasal Papua saja. 

Namun begitu, hal ini dianggap Viza sebagai hal yang lumrah dan pada dasarnya juga manusia lebih cenderung untuk berinteraksi terhadap sesama. 

"Misalnya dulu saya kuliah di Jogja, saya juga lebih cenderung bergaul dengan sesama anak-anak Pontianak juga. Sedangkan mereka secara fisik kan kelihatan anak-anak Papua, tapi seakan-akan mereka mengelompokkan diri. Padahal sebenarnya itu juga dilakukan banyak anak-anak lainnya juga," ungkap dia. 

Dikenal Gigih

Sementara Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pontianak, Andi Nuradi, bercerita beberapa tahun lalu dirinya pernah tinggal satu rumah selama satu bulan penuh bersama sejumlah pemuda asal Papua di Jakarta. 

Kala itu dirinya menjadi salah satu peserta dalam kegiatan pelatihan kepemudaan. 

Kata Andi, sebetulnya untuk bercengkerama dengan orang-orang Papua ini bukanlah hal yang sulit. Sebab pada dasarnya mereka adalah orang yang ramah dan sopan.  

"Setelah beberapa hari kenal. Saya sudah nyanyi-nyanyi atau cekikikan sambil cerita-cerita," kenangnya. 

Dari perkenalan itu, kata Andi, orang-orang Papua ini enak diajak bercerita. Misalnya cerita yang masih diingat Andi mengenai perjalanan orang-orang Papua ini untuk menempuh bangku sekolah hingga kuliah di Jakarta. 

"Sampai bagaimana mereka dulunya hidup dalam suasana militer ketika kecil. Dari kisah mereka, saya berpikir orang-orang Papua dianugerahi postur tubuh yang kokoh untuk gigih," ungkapnya. 

Humoris

Sementara Ketua Bidang Perempuan, Kesehatan dan Anak, dan Penanggulangan Bencana Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar, Angeline Fremalco mengatakan, yang dapat disimpulkan jika bicara mengenai masyarakat Papua yakni sifat humoris. 

"Saya mengenal banyak kawan-kawan dari timur khususnya Papua. Mereka itu orang-orang yang lebih humoris dan rata-rata menyenangkan," ucapnya.

Selain itu, orang-orang Papua selalu terlihat ceria dan lebih ekspresif. Maksudnya orang-orang Papua ini lebih cenderung mengungkapkan apa yang terlintas di pikiran mereka. 

Selain itu, menurut catatan di Polda Kalbar, masyarakat Papua yang tinggal di Kalbar beraktivitas sangat baik dengan masyarakat, terutama di kegiatan keagamaan di tempat ibadah. 

Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go. 

Dia menegaskan, masyarakat Papua yang tinggal di Kalbar, bersosialisasi kepada masyarakat dengan baik. Bahkan, hampir semua kegiatan yang dilakukan bersifat positif. 

Donny berharap, masyarakat di Kalbar tidak boleh terpengaruh dengan situasi di tempat lain, apalagi percaya dengan informasi hoaks tanpa sumber tepercaya.

"Mari ciptakan suasana aman, daman dan tenteram bagi seluruh masyarakat," tutupnya. (sms/bah)