Rabu, 23 Oktober 2019


Pojok Pustaka, Perpustakaan Zine Pertama di Pontianak

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 228
Pojok Pustaka, Perpustakaan Zine Pertama di Pontianak

Aldiman (tengah) menerima kunjungan dua mahasiswa IAIN Pontianak di Pojok Pustaka, Kamis (19/9).

Istilah zine mungkin belum begitu familiar di Pontianak. Meski demikian, media cetak altenatif yang biasanya diterbitkan secara personal atau kelompok kecil dan diproduksi dengan cara fotokopi ini, kini mulai digandrungi. Salah satu yang memproduksi dan menyediakannya adalah Pojok Pustaka.

Pojok Pustaka merupakan perpustakaan mini di Park Life Cafe, Jalan Karimata, Pontianak Kota, yang dikelola Aldiman Leonardo Cighra Ananta Sinaga. Sebuah ruang literasi alternatif yang menyediakan buku dan zine dari seluruh Indonesia.

Sejak 2006, Aldi—sapaan akrabnya—mulai membuat dan mengoleksi zine. Harta karunnya itu disimpan di kamar. Dia ingin memperkenalkan zine ke sejawatnya. Namun dia tak tahu, harus dengan cara apa. Hingga suatu ketika, seorang teman menawarinya ruang kosong di kafe miliknya. Kesempatan itu tak disiakan. Alhasil, 14 Agustus 2018 mimpi itu diwujudkan.

“Saya berpikir, orang lain bisa, berarti saya juga bisa membuat perpustakaan mini," ceritanya, Kamis (19/9) malam.

Lelaki kelahiran 13 Maret itu tidak sendiri dalam mengelola Pojok Pustaka. Bersama sejumlah rekan, mereka turut memproduksi zine. Temanya beragam, namun lebih banyak menyoal lingkungan sekitar si pembuat.


Zine
adalah singkatan dari fanzine atau magazine. Sebuah media cetak alternatif yang biasanya diterbitkan secara personal atau kelompok kecil, dan diproduksi dengan cara fotokopi.

Namun ada yang membedakan. Zine dibuat dalam ukuran kecil, biasanya hanya empat halaman. Paling tebal 30 halaman.

"Sebenarnya zine itu majalah alternatif, sama seperti majalah komersil, cuma ini kecil dan konten zine bebas tergantung si pembuat. Jadi beragam, zine tentang agama juga ada,” jelasnya.


Aldi pun sering membuat zine. Tak sendiri, dia bahkan berkolaborasi dengan pacarnya membuat zine berjudul ‘Self Worth’. Dalam perkembangannya, media alternatif itu berisi perkara musik dan seni. Tapi belakangan, isu-isu politik dan negara banyak diangkat. Dalam produksinya, zine lekat dengan seni crafting. Distribusinya dilakukan antarkomunitas bisa juga dibagikan secara daring dalam bentuk fail.

“Saya juga pernah buat spontan waktu itu, misalnya lagi kesal, nulis, nulis, nulis akhirnya jadi deh satu zine," ujarnya.

Peminat zine kini makin ramai. Keberadaan Pojok Pustaka pun membuat Aldi banyak bertemu kawan baru sesama pecinta zine. Mereka kerap berdiskusi, salah satunya dengan bedah karya dan buku. Koleksi buku di sana lumayan lengkap. Mulai dari agama, filsafat, sosial, politik, budaya, ilmu pengetahuan, hingga sastra.


Siapa saja boleh berkunjung. Tidak ada pungutan biaya. Jika ingin pinjam buku atau zine, juga dipersilakan. Ruang baca alternatif ini buka mulai pukul 09.00 WIB hingga 22.30 WIB, mengikuti jadwal buka kafe.


“Harapan saya bisa terus menerbitkan zine dan workshop-nya bisa terus berjalan,” tutupnya. (muliana/rizky dipayani putri/balasa)