Kamis, 21 November 2019


Kratom dalam Pusaran Kontroversi

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 1405
Kratom dalam Pusaran Kontroversi

PONTIANAK, SP – Belum jelasnya legalitas kratom buat petani dan pengusaha was-was. Petani di Kapuas Hulu mengeluhkan pembeli yang minim. Apalagi Senin (14/10) lalu, 12 ton daun kratom diamankan polisi di Palangka Raya. Daun tersebut hendak dibawa ke Pontianak dari Kalimantan Timur.

Satu di antara pengusaha kratom Kalimantan Barat, Heri mengatakan perlu solusi dan duduk bersama antara pemerintah dan pelaku usaha agar bisnis ini lancar seperti sedia kala.

“Saat ini ada dilema, pemerintah menegaskan setiap pengiriman kratom mesti sesuai antara barang dan dokumen. Sementara dari sisi pembeli, tidak berani menerima kiriman dengan nama kratom dengan berbagai alasan,” ujarnya, Rabu (16/10).

Lesunya pasaran kratom sekarang, dikarenakan ketatnya pengawasan pintu masuk komoditas kratom di negara tujuan terutama Amerika Sarikat. Beberapa tahun lalu pengiriman kratom sering menggunakan nama lain seperti rubesia, inches powder, pacholy dan lain-lainnya.

“Melihat fenomena ini membuat pemerintah negara tujuan protes dan meminta pemerintah Indonesia menertibkan pengiriman kratom yang tidak sesuai antara barang atau pemalsuan dokumen,” katanya.

Selama ini kratom dikirimnya ke Amerika Serikat. Dalam satu bulan bisa mencapai 10 ton.

“Tentu angka saat ini lebih rendah dari sebelumnya karena berbagai hambatan. Hal ini lah perlu duduk bersama mencarikan solusi karena kratrom sendiri menjadi sumber pendapatan petani juga,” jelasnya.

Sejauh yang diketahuinya, isu kratom lebih berbahaya dari narkoba masih asumsi. Hal itu karena belum pernah ada bukti korban kematian, ketagihan dan sakau akibat konsumsi kratom. Secara hukum, kratom juga belum diatur dalam undang-undang. Baik dalam Peraturan Menteri Kesehatan mengenai penggolongan narkotika maupun dalam undang-undang tentang narkotika.

“Terkecuali pada di Badan POM ada pelarangan penggunaan kratom pada jamu tradisional dan suplemen makanan, kapsul dan ekstrak serta campuran bahan makanan. Jadi belum ada undang-undang yang bisa digunakan untuk menahan produk kratom yang masih dalam bentuk bahan baku remahan dan tepung,” jelasnya.

Petani kratom Putussibau Selatan, Kapuas Hulu, Ilyas merugi akibat minimnya pembeli. Dia berharap kondisi ini segera teratasi agar perekonomian wilayahnya kembali hidup.

"Kratom saat ini sudah banyak yang siap dipanen, namun kami lebih memilih tidak memanen karena tidak ada pembeli," tuturnya.

Padahal di wilayah itu, kratom adalah kunci ekonomi warga. Usaha karet mereka sudah tak menghasilkan. Jika pasar kratom terus menurun bahkan peredarannya dilarang, bukan tidak mungkin akan berdampak panjang.

"Sudah dua bulan terakhir kita bertahan dengan kondisi sulit ini," katanya.

Petani lainnya, Ambo menyampaikan jika kratom dilarang, dia akan tetap mempertahankan tumbuhan tersebut. Batang tanaman yang juga dikenal dengan nama purik itu, bisa untuk bahan mebel dan penghijauan pantai akibat abrasi sungai.

"Kami sudah menghabiskan modal yang besar untuk menanam kratom ini," katanya.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Kratom Indonesia, Wawan Nopianto mengatakan selama ini pihak berwenang di wilayah Kalteng-Kalsel-Kaltim tidak dilibatkan dalam segala rapat koordinasi mengenai kratom di tingkat pusat. Bisa jadi hal itu mengakibatkan terjadinya penangkapan 12 ton kratom di Palangka Raya.

"Mereka belum mengetahui perkembangan berita kratom tersebut dan ini mungkin salah satu cara mereka untuk dilibatkan. Karena pemerintah pusat hanya tahu jika kratom cuma berasal dari Kalbar dan dengan adanya penangkapan ini, pusat akan tahu jika kratom juga terdapat di daerah Kalimantan lainnya," jelasnya.

Perihal sebutan kratom mengandung zat adiktif, menurutnya masih perlu kajian dan analisa dalam.

"Kita jauh tertinggal dibanding Malaysia karena Malaysia sudah selesai masa kajian dan sekarang mereka buka kembali jalur ekspor kratom dan menetapkan kratom sebagai obat tradisional yang diatur dalam UU," jelasnya.

Dia menjelaskan, sampai saat ini pemerintah daerah sudah mendukung pihaknya untuk mengajukan legalisasi kratom ke pusat. Semua dimulai dari penertiban izin usaha dan pajak berkala.

"Karena jika pelaku usaha tidak punya izin usaha, maka pemerintah tidak dapat masukan pajak dari usaha tersebut dan semua instansi tahu kalau kratom ini komoditi ekspor terbesar, badan usaha dan tertib pajak adalah dasar buat kita ajukan legalitas kratom," jelasnya.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Palangka Raya, Kalimantan Tengah mengamankan dua truk bermuatan 12 ton daun kratom di depan pos polisi bundaran besar Jalan Yos Sudarso yang hendak dikirim ke luar negeri.

"Daun kratom ini berasal dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur hendak dibawa ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat dan rencananya akan dikirim ke luar negeri," kata Kapolres Palangka Raya AKBP Timbul RK Siregar, Senin (16/10).

Diamankannya dua truk bermuatan daun kratom itu, saat anggota polisi melakukan kegiatan di malam hari dan melihat muatan dua truk melebihi kapasitas. Anggota di pos lalu lintas tersebut langsung memberhentikan dua truk tersebut. Alhasil setelah diperiksa surat menyurat serta muatan dalam truk, petugas menemukan sekitar 12 ton daun kratom yang sudah dibungkus menggunakan karung.

Dengan temuan tersebut, petugas juga melakukan tes urine terhadap dua sopir dan satu kernet.

"Dari hasil tes urine terhadap tiga orang tersebut kondektur truk berinisial AS (29) dinyatakan positif mengkonsumsi metamfetamin dan amfetamin sedangkan sisanya negatif," katanya.

Ketiga pria tersebut diamankan di Mapolres Palangka Raya guna menjalani pemeriksaan mendalam oleh penyidik. Namun Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalteng AKBP I Made Kariada mengatakan mereka tidak bisa diproses secara hukum oleh polisi.

Pasalnya, hingga kini tanaman jenis tersebut belum masuk dalam tanaman yang dilarang, karena belum tertulis dalam undang-undang di Negara Kesatuan Republik Indonsia.

"Efek daun kratom itu memang sama saja dengan penggunaan narkoba, tapi belum masuk dalam undang-undang kita," ujarnya.

Made mengakui, pihaknya (BNN) sudah pernah melakukan pengujian di laboratorium untuk membuktikan apakah tanaman tersebut mengandung narkoba.

“Hasil uji laboratorium, tanaman kratom, memang mengandung narkotika kelas satu," ujarnya.

Yang jadi masalah untuk proses hukumnya, dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, tanaman jenis kratom tersebut belum tercantum. "Dasar hukum kita melakukan penyelidikan belum ada,” ujar Made.

Penelitian Kemenkes

Peneliti Badan Litbangkes Puslitbang SD-Yankes Kementerian Kesehatan RI mengusulkan tiga hal usai terjun langsung meneliti budidaya kratom di Kapuas Hulu Agustus lalu. Salah satunya, mereka merekomendasikan agar kratom dikembangkan sebagai bahan baku obat.

"Usulan kami, dilakukan pengembangan kratom sebagai bahan baku obat, pembentukan tata niaga kratom perlu dilakukan, dan status legalitas kratom perlu segera diputuskan," tutur peneliti Badan Litbangkes Puslitbang SD-Yankes Kementerian Kesehatan RI, Ondi Dwi Sampurno, Jumat (30/8).

Menteri Kesehatan menugaskan Badan Litbangkes untuk mengkaji kratom secara mendalam. Kegiatan ini untuk memberikan gambaran pemanfaatan kratom di masyarakat, dan dampaknya pada aspek kesehatan, ekologi, dan sosial ekonomi. Semua digunakan sebagai masukan kebijakan dalam pengaturan kratom.

"Tujuan kami mengkonfirmasi hasil pertemuan RTD (Round Table Discussion) tentang kratom dengan lintas sektor di Solo, dan mendapatkan sampel untuk pengujian praklinik dan profil fitokimia daun kratom," katanya.

Penelitian dilakukan di empat kecamatan, yakni Putussibau Selatan, Putussibau Utara, Kalis, dan Embaloh Hilir. Sumber informasinya didapat dari Bappeda, Dinas Kesehatan, KKPH, PMD, kepolisian, asosiasi kratom, pelaku usaha baik itu pengepul, petani, dan pekerja pengolahan kratom. Mereka juga mewawancarai pengguna kratom, FORCLIME, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, petugas penyuluh pertanian, fasilitator desa, perangkat kecamatan, dan Puskesmas.

"Pengumpulan informasi dilakukan melalui diskusi, wawancara, observasi lingkungan, pengambilan spesimen seperti benih, bibit, bahan stek, daun, remahan, dan serbuk. Kemudian analisa data sekunder," paparnya.

Hasil penelitian menunjukkan kratom mengandung mytraginin yang tergolong New Psychoactive Substance (NPS), sehingga diperlukan pengaturan penggunaan dan distribsusinya. Kemenkes pun tengah menggodok aturan itu.

Hasil lain, dari aspek kesehatan, tidak terdapat perubahan pola penyakit pada masyarakat usai konsumsi kratom. Mereka memanfaatkannya untuk menambah stamina, mengurangi nyeri, asam urat, hipertensi, diabetes, insomnia, penyembuh luka, diare, batuk, meningkatkan nafsu makan, kolesterol, dan tipes.

“Tidak ditemukan keluhan kesehatan terkait penggunaan kratom, maupun dampak kesehatan pada pekerja yang sering bersinggungan dengan kratom. Tidak juga ditemukan efek samping setelah penggunaan rutin, dan tidak menimbulkan gejala ketergantungan,” katanya.

Kratom dikonsumsi dengan merebus daun segar atau serbuk, untuk diminum. Beberapa responden menambahkan madu, atau air jeruk. Ada pula yang memakainya untuk mengobati luka dengan menaburkan daun yang diremas, atau serbuk halusnya.

Namun dalam pengolahan, ditemukan cara pengeringan yang tidak memenuhi standar higienis sehingga menyebabkan kontaminasi mikroba. Ditemukan pula proses produksi atau pascapanen yang kurang memenuhi kesehatan kerja.

Sementara dari aspek sosial ekonomi, kratom menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan keluarga. Di Kecamatan Embaloh Hilir malah 90 persen masyarakat memperoleh penghasilan dari usaha kratom. Alhasil, angka putus sekolah menurun, pendidikan masyarakat meningkat, dan mampu menyekolahkan ke perguruan tinggi di luar Kapuas Hulu.

“Kratom memberi kesibukan yang lebih tinggi, atau waktu lebih panjang bagi petani dibanding dengan karet," paparnya.

Selain itu, kratom turut menggerakkan usaha transportasi darat dan air. Kebiasaan mengonsumsi miras pun berganti ke konsumsi kratom. Dari sisi kriminalitas, pencurian, perkelahian dan keributan akibat mabuk alkohol pun menurun.

“Harga kratom terstandar di tingkat petani maupun pengepul, tetapi mengalami penurunan sejak adanya isu pelarangan kratom. Informasi yang beredar di media sosial baik pelarangan maupun bahaya penggunaan kratom menyebabkan masyarakat takut menanam dan menggunakan kratom,” jelasnya.

Ketidakjelasan status legalitas menyebabkan usaha kratom belum bisa berkontribusi dalam pendapatan daerah dan tidak bisa memanfaatkan dana desa. Dulu, pemanfaatan kratom hanya ditemukan di hutan dan digunakan kayunya untuk furnitur dan pembatas lahan. Kini, kratom dibudidayakan dan diambil daunnya dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Dari aspek ekologi, kratom ditanam di pekarangan, kebun, dan pinggiran sungai atau tempat terbuka. Kratom dipilih masyarakat karena tumbuh cepat, bisa dipanen setelah enam bulan, sehingga dapat mengganti penghasilan dari menyadap karet.

“Pilihan tanaman lain adalah kopi, gaharu, kakao, petai, buah-buahan. Sebagian besar masyarakat menanam kratom dengan cara monokultur," paparnya.

Lantaran ditanam di tepi sungai, kratom pun berfungsi mencegah abrasi sungai, penghijauan, dan reboisasi. Kratom sesuai ditanam di Kapuas Hulu yang sering mengalami pasang surut, dan genangan air. Tanaman lain tidak dapat hidup di tempat seperti itu. Kratom pun disebut mampu mengurangi emisi gas CO2. (ant/iat/sap/bls)

Polemik Panjang

PADA dosis rendah, kratom akan bekerja seperti stimulan. Orang yang telah menggunakan kratom dengan dosis rendah mengaku lebih berenergi, lebih waspada, dan lebih mudah bersosialisasi. Pada dosis yang lebih tinggi, kratom digunakan sebagai obat penenang, menghasilkan efek euforia, menumpuk emosi, dan sensasi.

Bahan aktif utama kratom adalah alkaloid mitragynine dan 7-hydroxymitragynine. Ada bukti, alkaloid ini dapat memiliki efek analgesik (menghilangkan rasa sakit), anti-inflamasi, atau relaksasi otot. Karena alasan ini, kratom sering digunakan untuk meredakan gejala fibromyalgia.

Daun ini biasanya dikeringkan dan dihancurkan atau dijadikan bubuk. Umumnya bubuk kratom juga akan dicampur dengan daun lain sehingga warnanya bisa hijau atau cokelat muda. Kratom juga tersedia dalam bentuk pasta, kapsul, dan tablet.

Di Amerika Serikat, kratom sebagian besar diseduh sebagai teh untuk mengurangi rasa sakit dan efek opioid.

Menurut Pusat Pemantauan Obat dan Kecanduan Narkoba Eropa (EMCDDA), kratom dengan dosis kecil menghasilkan efek stimulan yang biasanya terjadi 10 menit setelah pemakaian dan dapat bertahan hingga 1,5 jam.

Sejak lima tahun belakangan, kratom tengah menjadi polemik di antara peneliti dan pembuat kebijakan. Sementara para peneliti masih terus melakukan riset untuk memastikan efek samping penggunaan kratom, para pemangku kebijakan takut kratom disalahgunakan.

Perdebatan itu hanya berkisar dari pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya belum diketahui seperti: Apakah kratom benar-benar berbahaya? Seberapa besar kratom bisa bikin kecanduan? Hingga seberapa kuat kratom mampu menghilangkan rasa sakit?

Kratom belum dipelajari secara mendalam, sehingga belum secara resmi direkomendasikan untuk penggunaan medis. Studi sangat penting dilakukan untuk pengembangan obat baru. Studi pada kratom dilakukan untuk mengidentifikasi efek berbahaya dan interaksi berbahaya dengan obat lain.

Studi-studi ini juga membantu mengidentifikasi dosis yang efektif, tetapi tidak berbahaya. Kratom berpotensi memiliki efek kuat pada tubuh. Kratom mengandung hampir semua alkaloid seperti opium dan jamur halusinogen.

Alkaloid memiliki efek fisik yang kuat pada manusia. Sementara beberapa dari efek ini dapat menjadi positif. Ini adalah alasan mengapa studi lebih lanjut dari kratom diperlukan. Produksi kratom juga belum diatur.

Badan Obat dan Makanan Amerika (FDA) tidak memantau keamanan atau kemurnian tanaman herbal ini. Tidak ada standar yang ditetapkan untuk memproduksi kratom dengan aman.

Sejak Oktober 2016, pemerintah AS pun akhirnya menyerahkan legalitas kratom ke masing-masing negara bagian. Sebagian besar akhirnya melegalkan, ada yang melarang, dan beberapa belum berani mengambil keputusan.

Meski demikian, karena daun tersebut terus-terusan disalahgunakan, pemerintah AS juga ambil sikap tegas dengan membatasi jumlah kratom yang masuk ke negaranya. Di sisi lain, dukungan agar kratom diperlakukan secara ‘adil’ juga terus bermunculan.

Salah satu yang menarik datang Marc T Sowgger, profesor dari Universitas Rochester, dan Elaine Hart, seorang peneliti. Dilansir New York Times, mereka menyebut: “Kratom secara diam-diam bisa jadi obat alternatif... dan penelitian kualitatif kami sendiri terhadap orang-orang yang menggunakan kratom menunjukkan bahwa, dengan sedikit efek samping yang berbahaya, orang-orang berhasil menggunakan kratom untuk keluar dari kecanduan opioid dan secara efektif mampu mengobati rasa sakit mereka.” (tir/bls)