Selasa, 19 November 2019


Tercium Dugaan Dibunuh

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 26925
Tercium Dugaan Dibunuh

PONTIANAK, SP - Seorang warga binaan Lapas Klas II A Pontianak ditemukan tewas dalam posisi tergantung dengan seutas tali rapia di WC atau toilet Lapas, Selasa (15/10).  

Dugaan sementara pihak kepolisian bahwa kematian warga binaan bernama Bong Min Alias Amin (46) ini dibunuh oleh sesama warga binaan. Sebab, dari temuan di lokasi kejadian tidak ada ditemukan ciri-ciri korban bunuh diri.  

Hal tersebut disampaikan Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kota, AKP Rully Robinson saat menerangkan awal mula ditemukannya mayat ini.  

"Seperti lidah yang menjulur, tidak ditemukan pada korban. Dan posisi kaki korban menapak ke lantai WC," ungkap Rully.  

Korban merupakan warga Penjajab, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas. Ia masuk ke Lapas Klas II A Pontianak pada 2015 lalu dengan tindak kejahatan narkotika.  

"Masa tahanannya selama delapan tahun," ujar Rully.  

Di Lapas Klas II A Pontianak, korban merupakan penghuni blok B5. Ia pertama kali ditemukan oleh sesama warga binaan yang menghuni blok tersebut. Saat ditemukan, korban sudah dalam keadaan tak bernyawa dengan menggunakan baju kaus warna abu-abu dan celana pendek loreng.  

Berdasarkan keterangan saksi berinisial MR (38), yang disampaikan Rully, saat itu sekitar pukul 06.00 WIB. MR dibangunkan oleh penghuni lain berinisial BA yang mengatakan kepadanya bahwa korban sudah lama di dalam WC namun tidak bersuara.  

Merasa khawatir, MR kemudian mengintip korban melalui ventilasi WC dan didapati korban sudah dalam keadaan tergantung.  

"Selanjutnya saksi meminta kepada penghuni lain untuk melaporkan hal tersebut kepada petugas jaga," kata Rully.  

Sementara itu, saksi lain berinisial LO (25) beberapa jam sebelum kejadian sempat melihat korban tengah duduk di depan pintu WC, tepat waktu Salat Subuh. 

Ketika ditanya, korban, kata Rully, mengatakan kepada LO bahwa dirinya sedang sakit perut. 

Sementara Komandan Jaga Malam Lapas Klas II A Pontianak, kata Rully, langsung mengecek ke dalam kamar blok tersebut setelah dirinya mendapatkan laporan adanya temuan mayat salah seorang narapidana. 

 "Ketika petugas datang posisi pintu WC masih terkunci dan kemudian saksi berusaha membuka pintu dengan cara mendobrak pintu tersebut," kata Rully.  

Setelah pintu berhasil dibuka, korban kemudian langsung dibawa ke RSUD Dr Sudarso Pontianak menggunakan ambulans Lapas Kelas II A Pontianak untuk dilakukan VER guna mengetahui penyebab pasti kematian korban.

 Menurut Rully, hasil analisa sementara tidak menutup kemungkinan korban meninggal bukan karena bunuh diri, melainkan ada dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh sesama penghuni Blok B5.  

"Dugaan ini mengingat korban merupakan warga binaan dalam kasus narkoba dan dalam kurun waktu satu tahun lebih, korban sendiri akan bebas. Sehingga dianggap membahayakan jaringan narkobanya yang berada di luar," katanya.  

 Oleh sebab itu, kata dia, pihaknya perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab kematian korban dengan cara melakukan VER atau autopsi serta pemeriksaan para saksi. (sms/bah)

Rajin Salat 

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwol Kemenkum HAM Kalbar, Suprobowati mengatakan korban merupakan seorang mualaf. Sebelum masuk ke dalam Lapas Klas II A Pontianak, korban sempat mendekam di Lapas Sambas dan Singkawang. 

 Alasan pemindahannya adalah untuk mengantisipasi terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di dalam lapas ketika korban bertemu dengan teman lainnya yang ia kenal dan pernah melakukan tindak pidana bersama-sama. 

 "Mungkin ketemu temannya sesama mereka, pasti akan dipindahkan karena takut akan menciptakan rencana baru lagi, makanya kami pisahkan. Karena kami tidak tahu di dalam. Di sana juga ada Litmas yang bertugas menilai perilaku warga binaan. Tim intelegen kami bergerak terus, apalagi wilayah Kalbar sendiri kita tahu masuk dalam zona merah," kata Suprobowati.  

Sementara itu, di Blok B5 Lapas Klas II A Pontianak sendiri merupakan khusus bagi warga binaan narkoba. Dalam satu blok terdapat beberapa kamar dan lokasi kejadian tepat di kamar 5.   

Dalam satu kamar dihuni sebanyak 14 warga binaan dan terdapat satu WC berukuran cukup kecil yang bisa digunakan oleh penghuni kamar. 

Penghuni kamar itu di antaranya adalah AT dengan putusan pidana selama enam tahun, AW putusan pidana selama tujuh tahun, AJ putusan pidana lima tahun enam bulan, BR putusan pudana selama sembilan tahun, CA putusan pidanan selama empat tahun, EC putusan pidana enam tahun dua bulan, HH putusan pudana enam tahun, IS putusan pidana tujuh tahun, JH putusan pidana tujuh tahun, LO putusan pidana delapan tahun, MR putusan pidana enam tahun delapan bulan, RR putusan pidana lima tahun, dan WN putusan pidana sembilan tahun penjara. 

Ketika informasi meninggalnya korban didapat, Suprobowati bersama tim lain langsung bergerak menuju Lapas. Di lokasi kejadian, mayat masih dalam posisi yang sama.

“Kami keluarkan semua (warga binaan) untuk mensterilkan lokasi kejadian. Posisinya tergeletak dan sudah meninggal. Kami datang itu masih utuh, masih di dalam kamar mandi posisinya, kan gak boleh disentuh. Jadi, napi yang ada di dalam dikeluarkan semuanya," kata Suprobowati. 

Setelah itu, Suprobowati meminta petugas lain untuk memanggil dokter Lapas untuk mengecek kondisi korban sembari menunggu pihak kepolisan datang ke Lapas. 

Di kurun waktu itu, dirinya sempat bertanya ke beberapa warga binaan lain yang sekamar dengan korban. Hasilnya, saksi mengatakan tidak ada terjadi sesuatu antara korban dengan warga binaan lain, misalnya pertengkaran, perselisihan atau perkelahian. 

Kata dia, saat itu suasana masih dalam kondisi seperti biasa, walaupun perselisihan itu ada, petugas jaga pasti akan tahu dan akan segera mengambil langkah untuk mengantisipasi hal lain yang tidak diinginkan terjadi.

 “Maka petugas tidak ada kecurigaan apa-apa karena tidak ada perselisihan keributan, datar saja (suasana di dalam kamar),” katanya. 

Menurut dia, korban ditemukan oleh saksi sekitar pukul 05.00 WIB, tepatnya setelah Salat Subuh. Korban ditemukan sudah dalam posisi kaki terkulai di atas lantai dan badannya tersandar di dinding WC. Dia meyakini korban tergantung dengan seutas tali rapia yang diikat pada sebuah paku. 

“Tali itu tidak dilapis, hanya diikat di paku dan digantung ke leher,” kata dia ketika wartawan menegaskan apakah tali itu cukup kuat untuk menahan beban korban. 

Semasa korban hidup, Suprobowati bercerita dirinya pernah suatu kali bertemu dengan korban, tepatnya di Lapas Sambas sebelum akhirnya dipindahkan ke Singkawang dan terakhir di Lapas Klas II A Pontianak.

 Dia menilai korban terlihat cukup rajin beribadah. Salat lima waktu selalu dikerjakan. Aktivitas itupun taat dilakukannya ketika sudah dipindahkan ke Lapas Klas II A Pontianak. Namun, semenjak itu, Suprobowati tidak pernah lagi mendapatkan kabar lagi mengenai korban. 

Hanya saja, kata Suprobowati, dalam memperingati Hari Dharma Dika Lapas, korban sendiri ikut serta dalam perlombaan yang diadakan Lapas. 

“Sepertinya tidak ada masalah. Sepertinya gitu lho,” katanya. 

Selain itu, korban juga tengah menjalani proses Litmas Bapas untuk diusulkan integrase. Artinya, bebas tahanan korban ini masih menunggu proses itu selesai dan akan ditindaklanjuti lagi. (sms/bah)