Selasa, 19 November 2019


Melestarikan Budaya Menjunjung Kearifan Lokal

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 95
Melestarikan Budaya Menjunjung Kearifan Lokal

SAPRAHAN - Sebanyak 30 kelompok peserta dari kader PKK se Kota Pontianak menampilkan hidangan saprahan dalam Lomba Inovasi Saprahan dalam rangka Hari Jadi Kota Pontianak ke-248, Kamis (17/10). Ist

Hidangan menu makanan saprahan tersaji di atas lantai beralaskan permadani di Gedung Pontianak Convention Center (PCC). Sebanyak 30 kelompok peserta dari kader PKK seKota Pontianak menampilkan hidangan saprahan dalam Lomba Inovasi Saprahan dalam rangka Hari Jadi Kota Pontianak ke 248, Kamis (17/10). 

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menjelaskan, saprahan merupakan satu di antara budaya yang telah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda. Selain Saprahan, terdaftar pula Arakan Pengantin, Paceri Nanas, Meriam Karbit dan lainnya. 

Ia berharap Pontianak menjadi salah satu kota budaya di mana inovasi dan kreativitas harus terus ditingkatkan. 

"Saya berharap dengan lomba inovasi saprahan ini memberikan nilai edukatif bagi generasi muda untuk terus kita pertahankan budaya ini," ujarnya.

Saat ini, banyak juga rumah makan dan restoran yang menghidangkan makan saprahan. Edi menekankan, intinya bagaimana pada saat makan bersama itu memiliki nilai atau filosofi dan kearifan lokal yang memberikan nilai positif bagi semua. 

"Mudah-mudahan melalui kegiatan ini bisa menumbuhkembangkan ekonomi kreatif dan pertumbuhan ekonomi, baik dari sisi kuliner, fashion dan kreativitasnya," ungkapnya.

Menurutnya, makan saprahan diselenggarakan untuk menerima tamu, sebagai penghormatan kepada tamu, acara pernikahan dan sebagainya. Makan saprahan bersama dengan duduk bersila menjadikan silaturahmi semakin akrab. 

"Inilah budaya Melayu yang patut kita pertahankan dan lestarikan," katanya.

Sementara Wakil Gubernur Kalbar, Ria Norsan mengapresiasi digelarnya Lomba Inovasi Saprahan sebagai upaya pelestarian budaya. Ia menyebut, ada banyak makna filosofi yang terkandung dalam saprahan, di antaranya mempererat tali silaturahmi dan tidak ada perbedaan status sosial dalam saprahan. 

"Semuanya sama, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi," ucapnya.

Sebagai budaya nenek moyang, saprahan perlu dibudayakan. Apalagi sejak ditetapkannya saprahan sebagai warisan budaya tak benda dan budaya kearifan lokal yang dimiliki. Adanya penetrasi budaya modern masuk ke Indonesia, kata dia, tidak menutup kemungkinan budaya-budaya kearifan lokal akan tergerus apabila tidak dilestarikan. 

"Kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi. Saya khawatir, kalau ini tidak dilestarikan, takutnya anak cucu kita nanti tidak tahu bagaimana budaya saprahan itu. Setidak-tidaknya kita lakukan di rumah kita sendiri," terangnya.

Adapun Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie Kamtono mengatakan, lomba saprahan tahun ini memasuki tahun kelima yang digelar setiap memperingati Hari Jadi Kota Pontianak. 

Berbeda dari tahun sebelumnya, saprahan 2019 ini ditambah dengan unsur inovasi untuk menggali kreativitas para kader PKK dan generasi muda dalam kreasi menu berbahan dasar ikan. 

"Penambahan ini bukan berarti TP PKK ingin mengubah tradisi saprahan, tetapi ingin memperkaya tradisi yang sudah ada, mencoba menyelaraskan antara tradisi dan program pemerintah, salah satunya program gemar makan ikan," jelasnya.

Ikan adalah salah satu sumber protein hewani yang paling kaya nutrisi, sehingga TP PKK menyelaraskan antara budaya saprahan dengan gerakan memasyarakatkan makan ikan. 

Lomba Inovasi Saprahan merupakan salah satu program kerja Tim Penggerak PKK Kota Pontianak yang bertujuan melestarikan budaya daerah sebagai warisan budaya yang membanggakan bagi Kota Pontianak. 

"Sasaran digelarnya lomba ini adalah agar masyarakat lebih mengenal budaya daerahnya," jelasnya.

Sementara salah satu juri, Syafaruddin Usman menyampaikan menu ikan yang dimasukkan dalam lomba saprahan menurutnya tidak masalah karena hal itu disesuaikan dengan kondisi. 

Kalau masyarakat yang mampu, mungkin lauk pauknya daging, sebaliknya masyarakat yang pendapatannya pas-pasan, ikan menjadi alternatif pilihan sebagai lauk pauk dalam makan saprahan. 

"Hal itu tidak masuk dalam kriteria penilaian. Tapi inovasi dalam rangka menggalakkan gerakan gemar makan ikan," ucapnya.

Disampaikan ada empat kriteria penilaian yakni cita, citra, etika dan estetika. Cita itu menyangkut kelengkapan yang sudah pakem. Citra kaitannya dengan rasa makanan yang disajikan. Etika itu bagaimana cara penyampaian dan estetika keindahan penataan hidangan.

"Tahun ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya, lebih meningkat bahkan lebih rapi. Dan masakannya juga rasanya lebih enak," pungkasnya.

Makan Saprahan merupakan adat istiadat budaya Melayu. Berasal dari kata "saprah" yang artinya berhampar, yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan bersila di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.

Dalam makan saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah. Sedangkan peralaran dan perlengkapannya mencakup kain saprahan, piring makan, kobokan beserta kain serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Untuk menu hidangan di antaranya, nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya. Kemudian untuk minuman yang disajikan adalah air serbat berwarna merah. (dino/hms/bah)