Rabu, 19 Februari 2020


Bocah 9 Tahun Tewas Dianiaya, Ibu Kandung dan Bapak Tiri Jadi Tersangka

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 574
Bocah 9 Tahun Tewas Dianiaya, Ibu Kandung dan Bapak Tiri Jadi Tersangka

GELEDAH - Petugas polisi saat menggeledah rumah kediaman keluarga Axcelle Raditya Ramadhan, bocah berusia sembilan tahun yang tewas karena diduga dianiaya oleh orangtuanya sendiri di Komplek Star Borneo 8 Regncy 1 Blok F, Desa Pal 9 Sungai Kakap, Kubu Ray

PONTIANAK, SP - Polresta Kubu Raya telah menetapkan dua orang tersangka dalam kasus penganiayaan berujung kematian Axcelle Raditya Ramadhan, bocah berusia sembilan tahun. Kedua tersangka adalah ibu kandung dan ayah tiri korban berinisial RY dan AA.

Kasat Reskrim Polres Kubu Raya, IPTU Charles BN Karimar mengatakan, keduanya diduga kuat telah menganiaya Axelle yang merupakan anaknya sendiri secara bersama-sama selama dua hari berturut-turut, sejak Rabu (1/1) hingga Kamis (2/1).

"Penganiyaan dilakukan oleh kedua orangtuanya secara bersamaan. Penetapan tersangka dilakukan sejak Kamis (9/1) kemarin. Keduanya kini ditahan dan sedang menjalani penyidikan mendalam," ujarnya.

Alasan penganiayan ini disebabkan kedua tersangka merasa jengkel terhadap korban yang menurut tersangka tidak mau mendengar omongan mereka. Sayangnya, setelah penganiayaan itu, Axelle mengalami demam tinggi, sebelum akhirnya meninggal dunia pada Selasa siang.

Akibat perbuatannya, kedua tersangka dijerat pasal berlapis, yakni pasal 80 ayat 1, 2, 3 dan 4 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, pasal 44 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga serta pasal 351 ayat 3 KUHP.

Diberitakan sebelumnya, bocah berusia sembilan tahun bernama Axcelle Raditya Ramadhan, warga Komplek Star Borneo 8 Regncy 1 Blok F, Desa Pal 9 Sungai Kakap, Kubu Raya, meninggal dunia dengan kondisi luka lebam di sekujur tubuhnya.

Dari hasil outopsi, terdapat beberapa luka lebam di bagian wajah sisi sebelah kanan, luka di dagu, memar di tangan sampai pinggu sebelah kiri, serta di bagian belakang tubuh korban. Sementara di bagian dalam, ulu hati dan otak korban mengalami pendarahan.

"Dan beberapa bagian lain mengalami pendarahan. Serta mengeluarkan busa beberapa saat setelah meninggal dunia," kata Kapolresta Kubu Raya, AKBP Yani Permana, Rabu (8/1) kemarin.

Axcelle dimakamkan warga sekitar pada Rabu (8/1) kemarin setelah sholata Ashar di Pemakaman Muslim di dekat komplek kediamannya. Acara pemakaman ini juga dihadiri ibu kandung Axcelle. Sementara bapak tirinya saat itu sudah diamankan Polres Kubu Raya.

Ketua RT setempat, Asmari mengatakan sempat curiga saat sebelum Axcelle dimakamkan. Sebab, dari fisiknya tetutama bagian wajah banyak bekas-bekas luka lebam. Kecurigaan itu ditanyakannya langsung ke ibu kandung Axcelle, RY.

"Dia (RY) bilang bekas jatuh pas main sepatu roda di dekat komplek, tapi kan polisi bilang ada dugaan penganiayaan," ungkapnya.

Selain kedua tersangka, polisi juga mengamankan barang bukti berupa satu gagang sapu yang telah patah, yang diduga sebagai alat penganiayaan dan skateboard. (sms/ien)

Mengaku Terjatuh Saat Bermain Sepatu Roda

Ketua RT setempat, Asmari sebelumnya mengungkapkan, meski tinggal di lingkungan RT 021 RW 06, sebagai Ketua RT, Asmari mengaku dirinya justru tidak mengetahui keluarga RY dan AA tinggal di komplek tersebut. Pasalnya, selama ini keluarga tersebut tidak pernah melapor kepada dirinya.

"Aturan disinikan kalau ada warga baru harus menyerahkan fotokopi KK, tapi mereka tidak ada. Jadi tak pernah ketemu. Ketemunya pas kemarin," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang ia dapat, ibu kandung korban bukan warga asli Kubu Raya, namun dari pula Jawa. Sementara bapak tirinya warga Pontianak.

Asmari mengaku sempat melihat wajah korban. Kondisinya terdapat beberapa lebam, merata di bagian kiri dan kanan wajah. Tak hanya itu, dirinya juga sempat memfoto beberapa aktivitas anggota kepolisian menggeledah rumah korban. Bagian kamar dan lemari kamar tersebut.

Saat ditanya olehnya, ibu kandung korban ini mengaku bahwa penyebab kematian anaknya karena jatuh saat bermain sepatu roda di sekitat komplek.

"Dia (ibu korban) kayak panik gitu. Dia bilang penyebab meninggal karena jatuh main sepatu roda tapikan polisi bilang ada dugaan penganiayaan," tuturnya. (sms/ien)