Rabu, 23 Oktober 2019


40 Persen Warga Sambas Alami Stunting

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 362
40 Persen Warga Sambas Alami Stunting

Stunting – Sejumlah anak yang berumur sama dan memiliki perbedaan tinggi badan yang mencolok. Kasus ini erat kaitannya dengan kurangnya kebutuhan gizi sehingga menghambat pertumbuhan anak atau disebut stunting.

SAMBAS, SP – Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili mengatakan akan terus berupaya melakukan penanganan stunting di wilayahnya sesuai Surat Mendagri Nomor 440/7607/Bangda tentang Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi di Kabupaten/Kota.

"Pemerintah meminta daerah melaksanakan upaya keterpaduan program atau kegiatan dan anggaran terkait upaya penurunan stunting,"kata Atbah, Minggu (7/7.

Ada beberapa langkah yang harus menjadi perhatian daerah, yakni kata Atbah dengan penerapan delapan aksi integrasi intervensi gizi spesifik dan sensitif bagi keluarga sasaran prioritas.

Langkah pertama analisis situasi program penurunan stunting, penyusunan rencana kegiatan, rembuk stunting, pembentukan peraturan bupati tentang peran desa.

Kemudian pembinaan kader pembangunan manusia, sistem manajemen data stunting, pengukuran dan publikasi data stunting serta reviw kinerja tahunan.

"Daerah juga diminta membentuk atau menunjuk tim koordinasi yang bersedia mengkoordinasikan pelaksanaan intervensi penurunan stunting terintegrasi dengan seluruh pemangku kepentingan," jelas dia. 

Pemerintah kabupaten juga akan menggunakan pedoman dan petunjuk teknis yang telah ditetapkan sebagai panduan pelaksanaan delapan aksi integrasi.

“Upaya lainnya yaitu memperkuat pelaksanaan intervensi penurunan stunting terintegrasi dengan menyediakan kebijakan kampanye perubahan perilaku dan komunikasi antar pribadi untuk percepatan penurunan stunting,” tutur Atbah.

Kepala Dinas Kesehatan Sambas, Fatah Maryunani mengatakan hampir 40 persen masyarakat Sambas mengalami stunting atau memiliki tubuh lebih pendek dari standar.

“Berdasarkan data kita ada 40 persen warga Sambas yang mengami stunting,” katanya.
Untuk mencegah stunting, kata Fatah penangannnya perlu dilakukan sejak dini, bahkan sejak dari masa kehamilan. Kebutuhan gizi ibu hamil perlu diperhatikan.

"Jadi ketika masa kelahiran bayi sehat dan terhindar dari stunting, namun juga dijaga pemberian ASI dan gizi lainnya saat anak tumbuh kembang," katanya.

Penyelesaikan masalah gizi, menurut Fatah tak lepas dari peranan pemerintah daerah. Diperlukan peraturan bupati untuk mencegah kurang gizi.

"Adanya perbub, Sambas lebih dimudahkan untuk mendapatkan bantuan pemerintah pusat dalam mencegah masalah gizi," jelasnya.

Pemkab Sambas telah menerbitkan regulasi untuk menangani stunting melalui Peraturan Bupati Sambas Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penurunan Stunting. 

“Kita memberikan perhatian masalah stunting yang dimulai dari masa remaja, kehamilan hingga lahiran balita,” tutur dia. (noi/jee)