Rabu, 23 Oktober 2019


Menangkal Radikal dengan Membumikan Budaya Melayu

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 205
Menangkal Radikal dengan Membumikan Budaya Melayu

Puak Melayu – Pemuda yang tergabung dalam komunitas Puak Melayu foto dengan menggunakan pakaian khas Malayu. Komunitas ini dididirikan untuk menghidupkan khazanah Melayu di Sambas.

Agama dan budaya sejak dulu saling mengisi. Di Sambas, hal ini terbukti menjaga kehidupan sosial di sana lestari. Saat paham radikal hadir mengancam, Pemuda Puak Melayu Sambas berusaha ambil peran.

Sebagaimana yang terlihat di Sambas, saat sekumpulan pemuda mendadak jadi pusat perhatian. Di sebuah kafe di Kecamatan Tebas, mereka duduk dengan pakaian Melayu. Bercelana panjang di atas mata kaki, berbaju rompi lengan panjang. Kain melekat di pinggang setinggi setengah tiang, dilengkapi sengkek kebanggaan.

Seluruhnya terbuat dari kain benang emas songket Sambas. Meski tanpa keris kebesaran, tampilan mereka menggetarkan hati puak Melayu Sambas. Gagah tanpa sebutan kiri atau kanan.

"Tujuan kami adalah mencari dan menggali falsafah hidup tamadun Melayu, kami ingin mengingatkan kembali, mendeskripsikan bagaimana rasa bangga dengan memakai pakaian khas lelaki Melayu," ujar Azman satu di antara pemuda tersebut, kemarin.

Sebenarnya mereka khawatir, nilai-nilai Melayu lepas dari kehidupan masyarakat. Bersimbol pakaian, mereka ingin semua diingatkan. Tak boleh ada yang hilang. Terlebih, ada banyak pemahaman berkembang di masyarakat.

"Kami biasa memakai pakaian Melayu seperti ini di kafe atau tempat nongkrong muda-mudi di Kecamatan Tebas. Kami ingin mengenalkan kembali nilai khazanah Melayu yang sarat nilai religi serta moral,” sebutnya.

Dia menjelaskan sebagai Melayu, bangsa yang kuat secara religi, santun serta memiliki moral yang tinggi. Adat agama yang utama, bukan paham yang bertujuan porak-poranda.

"Kami juga masih sangat memerlukan bimbingan dari tokoh masyarakat, para tetua dan mereka yang lebih paham tentang ragam bangsa Melayu," ujar Azman.

Penampilan bak Hang Tuah ini juga diakui menarik banyak mata. Tak cuma remaja dan warga biasa, Pangeran Ratu Muhammad Tarhan, Raja Kesultanan Sambas juga memberikan apresiasi positif.

"Mantap komunitas ini, nanti kita atur waktu bertemu saat saya pulang ke Sambas, kita kopi bareng," ujar Pangeran Ratu yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di Bandung.

Tak sekadar berbusana, mereka mendeskripsikan ragam Melayu dalam pelbagai cara dan media. Di antaranya lukisan, tarian, nyanyian dan seni melipat sengkek atau tanjak.

Visualisasi adat dan budaya, kata Azman merupakan bukti budaya dan agama seiring saling mengisi. Sedangkan radikalisme anti keduanya.

"Berbudaya Melayu berarti berislam seperti yang diajarkan nabi dan para wali, dengan demikian pemuda yang mencintai budaya, sudah barang tentu beragama, dan asimilasi ini memberikan kita jalan hidup yang damai," pungkasnya. (nurhadi/jee)