Senin, 18 November 2019


Duka Cita

Editor:

Indra W

    |     Pembaca: 475
Duka Cita

ilustrasi.

Doi, belaje bajit-bajit bah, auk talah jadi uyang. Nusah baka Mamak tuk nyang nada sekulah.1”  

Perempuan berambut sedikit ikal dengan potongan sebahu itu, baru membuka suara setelah satu loyang persegi panjang terisi bulatan-bulatan donat mentah.   

Auk, Mak.2”  

Jam dinding menunjukkan pukul 23.00 WIB. Di luar, hanya terdengar suara kodok bersahut-sahutan.  

Mamak na nghanuk nada utan pakai, nada utan kelihat. Asal empuk talah sekulah, Mamak udah besuko.3”  

Perempuan bermata sipit itu masih bicara sambil memotong adonan yang telah mengembang jadi bulatan-bulatan kecil. Perempuan muda di sampingnya, anaknya, memungut bulatan-bulatan pada loyang, kemudian melubangi bagian tengah, membentuk pola donat. Anaknya tak menjawab apa pun pada perempuan yang dipanggilnya “Mak”, setelah dilihatnya sang ibu menghapus setitik air di mata. Pura-pura tak dilihatnya kejadian itu. Ia tahu, ibunya sedang bernostalgia pada masa muda.
***  

Juni 1993  

Ia tersenyum sambil berjalan menjauh dari gedung SMA Negeri 1 Putussibau. Senyumnya begitu lebar sampai terbawa tawa.  

“Cita! Hei, tunggu aku.” Ia hanya menoleh dan menyambut sang pemilik suara dengan senyum.  

“Ada apa, Maria?”  

“Aku melihatmu tingkahmu aneh sejak tadi. Ada apa, Ta?”  

“Aku... aku diterima, Mar.” Ia langsung menghambur dalam pelukan Maria.  

“Serius? Serius kamu, Ta?”  

“Iya, serius, Mar. Aku peringkat ke-9.” Ia kini berjingkrak-jingkrak.  

“Hebat kamu, Ta. Selamat, ya.” Maria agak tertunduk.  

“Ah, terima kasih. Kamu gimana, Mar?” Ia sedikit merendahkan suaranya dan berjalan menyeimbangi langkah Maria.   “Sepertinya aku harus mencoba daftar di sekolah lain, Ta.”  

“Mar ....” Ia menghentikan langkahnya dan menghadap Maria dengan ekspresi iba.  

“Tidak apa-apa, Ta. Kamu diterima, aku senang. Sekali lagi, selamat ya. Hahaha ....” Ia pun ikut tertawa tanpa tahu apa alasannya. “Oia, jangan lupa beritahu orang tuamu. Cepatlah pulang ke kampung.”  

Mereka masih tertawa sepanjang jalan menuju ke Dogom, tempat ia bekerja dan menumpang tinggal selama sekolah. Tempat tinggalnya dan tempat Maria hanya berjarak beberapa rumah.
*** 

Cita menyanyikan beberapa lirik lagu dalam angkutan umum satu-satunya yang bisa mengantarkan ia kampung. Pada menit-menit berikutnya, ia mengambil buku tulis dan pensil dari dalam tas. Di buku tulis usang itu, sebagian kertas sudah terisi resep masakan, resep kue, lirik lagu, dan puisi. Perempuan berkulit kuning langsat itu suka menulis untuk mengusir kebosanan dan menghibur dirinya yang seringkali bergadang membuat kue di tempat tinggalnya di kota kabupaten. Kali ini, ia memilih menulis puisi.  

Aku ingin jadi langit  

Luas dan  

Tak terhingga  

...    

Bus mini yang sudah karatan dan berisik itu terseok-seok berhenti pada halte renta. Ia berhenti menulis dan mengemasi barang-barang yang dimuat pada tas ayam pemberian ayahnya. Kemudian beranjak membayar ongkos, turun, dan mulai jalan kaki masuk sebuah persimpangan jalan. Kurang lebih tiga jam perjalanan, sampailah ia di jalan tikus menuju bukit. Beberapa temannya telah menunggu di samping jalan itu. Mereka telah pulang sehari sebelumnya untuk bersilaturahmi dengan keluarga di kampung terakhir, sebelum jalan tikus.  

Cita dan kawan-kawannya mulai masuk hutan lebat. Burung-burung bersahut menyanyi lagu-lagu tanpa lirik. Mereka harus hati-hati, jalan yang tak begitu sering dilalui manusia itu licin karena dominasi batu dan lumut. Di kejauhan, mereka mendengar suara enggang yang merdu, yang membuat rindu. Mereka terus mendaki jalanan terjal hingga mencapai puncak bukit dan beristirahat.  

Setelah dirasa cukup waktu memulihkan tenaga, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Rute berikutnya adalah jalanan menurun yang curam. Mereka hanya mengandalkan akar-akar kayu untuk mengamankan diri, seperti orang utan yang beberapa kali mereka jumpai. Sepanjang jalan itu hanya dipenuhi oleh kebisuan. Selain karena masih memercayai bahwa tak boleh mengucapkan sembarang kata di dalam hutan, mereka pun menghemat tenaga dengan harapan segera sampai di kampung.  

Ada suara air terjun menembus indra dengaran. Mereka mulai berbincang-bincang. Ada bekas-bekas ladang yang telah diganti pohon karet, langsat, dan durian. Tanpa terasa, aliran Sungai Suruk sudah di depan mata. Airnya yang jernih dan sejuk membuat satu per satu mereka tersenyum, pertanda sebentar lagi tiba.
***  

Umai4, aku diterima di SMANSA.”  

Lapor Cita pada malam hari saat ia dan keluarganya berkumpul sambil menikmati tumpik5 di ruang tengah rumah panggung. Ibunya tak ada tanda-tanda hendak bicara. Sebaliknya, berisik adik-adiknya begitu mengusik gendang telinga.  

“Umai ....”  

“Ta, tumpiknya masih panas. Makanlah.”  

“Umai, ada apa?”  

Hening cukup panjang. Hanya dipenuhi suara kunyahan tumpik yang gurih.  

“Kami tidak memiliki uang untukmu melanjutkan sekolah, Cita. Kerjaan Apak6 tidak menghasilkan uang sama sekali. Kasihan adik-adikmu.”  

“Mai ...,” suaranya mulai bergetar.  

“Ada laki-laki dari Sintang tinggal di rumah paman. Sepertinya, ia orang baik. Kami telah berencana menjodohkannya denganmu. Kata paman, calonmu itu pun setuju.”  

Hening kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Api pelita mulai bergerak ke sana-kemari, bersusah payah bertahan dari kencangnya embusan angin. Cita tak tahu harus berkata apa, ia memilih masuk ke kamar dan terisak di sana.
***  

Desember 1994  

Umurnya 18 tahun lewat beberapa bulan. Baru tamat SMP. Maklumlah, ia dulu lahir prematur, imunnya tak begitu kuat. Sewaktu SD sering sakit-sakitan, beberapa kali pingsan di sekolah. Dilatarbelakangi kejadian itu, ia harus berhenti sekolah selama dua tahun untuk masa pemulihan. Jadi, usianya tergolong cukup tua untuk usia siswa tamatan SMP.  

Meskipun sering sakit, Cita termasuk anak yang berprestasi. Tak jarang ia mendapat juara pertama di kelasnya. Dan lagi, ia sering diikutsertakan dalam lomba menulis dan baca puisi. Makanya, ia bercita-cita menjadi penyair dan guru.  

Namun kini, Cita tak punya pilihan lain, selain menyetujui dinikahkan dengan lelaki pilihan ayah dan ibunya. Jika tak dituruti, ibunya yang pernah sakit jiwa mengancam akan bunuh diri. Sementara itu, keenam adiknya masih kecil, masih membutuhkan banyak biaya. Ia sebagai anak sulung, harus merelakan cita-citanya kandas begitu saja.  

Persiapan pernikahan hampir selesai dilakukan. Besok ia akan resmi menjadi istri dari lelaki jangkung yang tujuh tahun lebih tua darinya. Menurut informasi yang baru didapatnya, lelaki itu telah bergonta-ganti menjalin hubungan dengan perempuan lain, bahkan ada perempuan yang berencana menyusulnya ke kampung meminta pertanggungjawaban. Astaga! Terlambat sudah untuk mengatakan “tidak!”.Ia hanya ingin menulis puisi.  

Aku ingin menjelajah kaki-kaki langit  

yang biru,  

yang baru.  

Aku ingin menjelma awan-awan di langit  

bebas bergerak  

bebas berarak  

ke mana pun.    

Aku ingin,  

tapi anganku dipasung angin.    
***  

September 1995  

Pukul 09.00, telinga Cita menangkap parau tangis bayi. Ia baru saja siuman. Seluruh badan dirasakannya begitu remuk, seperti habis bertarung dengan raksasa. Ingatan pertama langsung merasuk kepalanya: beberapa hari lalu adalah hari ulang tahunnya yang ke-19. Tak ada yang mengingat. Tangisan bayi semakin nyaring menusuk pendengarannya.  

Ia berusaha membuka mata dan mencari sumber suara yang menyayat-nyayat hati itu. Ternyata, pemilik suara berada di samping pembaringannya. Setelah bersusah payah memiringkan badannya dibantu sang ibu dan bidan kampung, Cita menatap bayi itu dalam menit-menit panjang yang tak bisa diterjemahkan maknanya.  

“Hai, Doi,” ucapnya begitu lirih, “kado terindahku.” Ia tak bisa menahan isak.  

Dikecupnya kening bayi yang belum bisa membuka mata itu berkali-kali. Berkali-kali. Kelak, jadilah puisi, Nak. Doanya dalam benak.  

“Amin.” Ia menutup dengan peluk.

Pontianak, Maret 2017


Keterangan bahasa Dayak Suruk:

1. Doi (sayang), belajarlah yang baik, supaya bisa menjadi orang (sukses). Jangan seperti Mamak yang tidak sekolah ini.

2. Iya, Mak.

3. Mamak tidak apa-apa tidak memiliki barang (pakaian) untuk dipakai, tidak memiliki barang yang kelihatan. Yang penting kalian bisa sekolah, Mamak sudah bersyukur.

4. Ibu

5. Makanan khas Dayak Suruk yang berbahan dasar tepung beras

6. Ayah    


Penulis, Shella Rimang, mulai merasa agak tua. Sedang berusaha menabung untuk keliling dunia.