Selasa, 19 November 2019


Resensi Rumah Ajaib

Editor:

Indra W

    |     Pembaca: 492
Resensi Rumah Ajaib

Sampul buku "Rumah Ajaib".

Judul buku      : Rumah Ajaib
Penulis buku   : Adong Eko
Penerbit          : Pustaka Rumah Aloy
Tahun terbit     : Cetakan pertama, Juni 2018
Tebal buku      : ix + 214 halaman
ISBN              : 978-602-5761-22-5  

Buku Rumah Ajaib karya Adong Eko merupakan kumpulan reportase tentang korban penyalahgunaan narkoba di Kalimantan Barat. Berbagai kalangan usia dan profesi yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, telah memantik rasa simpati dan empati penulis—yang awalnya berpandangan seperti masyarakat pada umumnya: korban penyalahgunaan narkoba sebagai “sampah” atau pelaku kriminalitas. Namun, seperti manusia normal lainnya, korban penyalahgunaan narkoba juga orang-orang yang membutuhkan perhatian, motivasi, dan dukungan agar dapat terbebas dari pengaruh zat adiktif.

Buku Rumah Ajaib terdiri atas beberapa bagian. Bagian pertama, penulis memaparkan tentang apa itu Rumah Ajaib dan bagaimana perjumpaannya dengan relawan-relawan di sana. Bagian selanjutnya, penulis menyampaikan tentang kisah pendiri Rumah Ajaib dan bagaimana jatuh bangun sebuah tempat rehabilitasi. Lebih jauh, penulis menjelaskan tentang pertemuan para relawan dengan Rumah Ajaib, misalnya tentang dokter Agus yang bergabung karena keprihatinan dan jatuh cinta terhadap dokter perempuan yang kini menjadi istrinya.

Adong Eko yang berlatar belakang wartawan kriminal, cukup piawai mengolah kata dalam buku Rumah Ajaib. Kepiawaiannyalah yang membuat buku non fiksi yang cukup tebal itu, nyaman dibaca. Misalnya pada bagian Dalam Sujud, penulis menceritakan bagaimana kisah awal perempuan bernama Sunaini mengenal dunia luar dan narkotika tanpa menghakimi tokoh tersebut. Ia menulis dengan penggabungan gaya penulisan berita dan cerita. Ada fakta, ada pula opini yang dicantumkan.

Berbagai latar belakang korban penyalahgunaan narkoba, digali oleh Adong Eko, misalnya bagian Gadis SMP Pecandu Narkoba. Penulis menuliskan kisah gadis muda yang sudah mengenal sabu sejak kelas 2 SMP. Okta, anak sulung yang awalnya merupakan anak rumahan, merasa kurang perhatian karena sering diabaikan kedua orang tua. Ruang yang terlanjur kosong dalam hidupnya, memperkenalkan Okta dengan tempat hiburan malam dan barang haram. Akibatnya, ia harus putus sekolah dan kehilangan masa depan.

Kisah lain tentang kehilangan masa depan bahkan kehilangan calon pasangan hidup, ditulis Adong Eko pada bagian Putus Kuliah Hingga Gagal Nikah. Ray Risna, sang tokoh yang jatuh bangun ketika ingin “tobat” menjadi pemakai, kini telah jadi konselor di rumah rehabilitasi Rahayu. Di bagian kisah Ray, penulis cukup panjang memaparkan perjalanan seorang pria yang memang sudah belasan tahun jadi pecandu. Namun lagi-lagi, tak terselip sedikit pun kata yang melecehkan tokoh-tokoh dalam tulisannya.

Hal menarik muncul pada bagian Jangan Menunggu Tumbal. Kali ini, tokoh dalam tulisan Adong Eko adalah aparat kepolisian. Penulis memaparkan kisah aparat yang bertugas di Kesatuan Narkoba (Satnarkoba) Polresta Pontianak, mengenal narkotika. Bripka Natalia Kristiono, yang awalnya hanya ditugaskan sebagai penyamar, malah terjerumus jadi pecandu. Nahas, kegilaan Lesus—demikian panggilan Bripka Natalia Kristiono—pada sabu, akhirnya mempertemukan dia dengan sebuah kenyataan pahit. Putra bungsunya meninggal dunia setelah tercebur ke dalam kolam, saat dia sedang dalam pengaruh obat.

Ada banyak pelajaran berharga dalam buku Rumah Ajaib. Pria yang berkeinginan menulis buku karena sering menulis berita feature itu, banyak kutipan menarik. Salah satunya di halaman 166, paragraf akhir. Kutipan itu merupakan kutipan yang penulis kutip dari pernyataan tokoh dalam tulisannya. “.... Yang namanya manusia kalau sudah berbuat salah selalu diingat meski sudah berusaha menjadi baik. Itu saya alami. Tetapi bukan itu masalahnya, yang menjadi masalah adalah kemauan. Mau tidak untuk sembuh. Kalau mempedulikan omongan orang, saya ini sudah tidak ada baiknya. Tetapi bagaimana membuktikan bahwa kita sudah lepas dan ingin berbuat baik bagi sesama.”  


Peresensi Shella Rimang, Agustus 2018