Rabu, 23 Oktober 2019


Kisah Cerobong Asap Milik Kapal Portugis di Sekadau

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1738
Kisah Cerobong Asap Milik Kapal Portugis di Sekadau

PORTUGIS- Cerobong asap kapal milik Portugis dipajang di Desa Sungai Ayak Dua, Kecamatan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau, Senin (6/2). (SP/ Akhmal)

Terakhir singgah di pesisiran Sungai Kapuas,  Belitang Hilir,

Peninggalan benda bersejarah merupakan bukti bahwa suatu tempat atau daerah tersebut pernah berinteraksi dengan pihak lain. Adanya ekspansi dari beberapa negara luar, seperti Belanda, Inggris, Portugis, dan Jepang, ternyata meninggalkan benda-benda bersejarah.
Salah satunya,  terlihat di Desa Sungai Ayak Dua, Kecamatan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau.

Benda ini berupa cerobong asap kapal milik Portugis. Cerobong asap ini masih tegar berdiri, dan kondisinya sangat terjaga. Pada cerobong asap tersebut tertulis, benda ini diproduksi tahun  1892.

Benda ini dimiliki  pedagang Portugis, yang mencari rempah-rempah di alam Indonesia, khususnya di pesisiran Sungai Kapuas. Catatan identitas terlihat jelas di bawah kaki mesin, yaitu Ruston Proctor & Limited, Lincoln.


Keberadaan cerobong asap kapal ini ada sejak tahun 60-an. Saat itu diketahui kalau kapal ini sering singgah sampai dua tahun di setiap persinggahannya. Terakhir, singgah di pesisiran Sungai Kapuas,  Belitang Hilir, letaknya di Sungai Ayak. Lama-kelamaan kapal ini tidak terawat,  lalu kapal tenggelam dan ditinggalkan oleh para anak buah kapal tersebut dan mereka melalui jalur lain untuk pulang ke negara masing-masing.

“Keberadaannya membuktikan kalau kapal-kapal bangsa asing, pernah masuk ke pedalaman Sekadau, terutama Sungai Ayak. Artinya, di wilayah kita ini ada berbagai komoditas yang mereka butuhkan,” kata Bambang, satu di antara warga Sungai Ayak, Bambang, baru-baru ini.

Mulanya, cerobong asap ini berada di dasar Sungai Kapuas. Saat warga Sungai Ayak mengetahui keberadaannya, mereka pun memindahkannya. Kurang lebih sekitar 20 tahunan terendam di bantaran sungai, tidak mengurangi fisik cerobong ini.
 Tahun 1999, warga dan pihak pemerintah kecamatan memindahkannya ke darat. 

"Pada 2005, mulailah dibangun tempat khusus dengan perawatan yang terbaik,” papar Bambang.

Perawatan terbaik ini, membuat tempat penyimpanan cerobong asap menjadi perhatian, sehingga dikunjungi banyak orang. Pemerintah pun memagari kawasan ini, tidak lupa juga dibuatkan tempat duduk bagi pengunjung.

“Saat ini semakin banyak masyarakat yang datang, mereka menjadikan cerobong asap sebagai objek dan latar belakang. Peninggalan ini bisa menjadi satu di antara daya tarik tersendiri,” katanya. (akhmal musriadi musran/bah)
 

Baca Juga:
Dandim 1204/ Sanggau: Setiap 25 Hektare Langsung Tanam