Senin, 18 November 2019


Polusi Udara Sekadau

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 114
Polusi Udara Sekadau

BAGIKAN MASKER - Personel Polsek Belitang membagikan masker kepada para pengendara motor, menyusul buruknya kondisi udara Kabupaten Sekadau dampak dari bencana kebakaran hutan dan lahan.

SEKADAU, SP - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sekadau membagikan 17.500 masker kepada masyarakat, terutama untuk para pelajar. Pembagian masker dilakukan BPBD Sekadau di berbagai lokasi, terutama di lembaga pendidikan tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di Kota Sekadau.

Pembagian masker oleh BPBD Sekadau dibantuk Polsek Sekadau Hilir.

“Kenapa siswa, karena mereka turunnya pagi, pulangnya siang. Sedangkan kadar udara yang jelek terjadi pukul 05.00 WIB - 10.00 WIB,” ujar Sekretaris BPBD Kabupaten Sekadau, Eddy Prasetyo disela-sela aksi pembagian masker, Selasa (13/8).

Setelah membagikan masker kepada para pelajar, BPBD membagikan masker kepada masyarakat umum yang berada di Bundaran Tugu PKK. 

Eddy mengatakan, masyarakat lain termasuk di kecamatan mendapatkan distribusi masker dari BPBD Sekadau dengan menyampaikan permohonan. 

“Masker yang tersisa saat ini 25.000 lembar. Kalau ada permintaan akan kami bagikan,” ucapnya.

Mengenai titik panas (hotspot) per Januari hingga 12 Agustus 2019 tercatat 95 hotspot di Kabupaten Sekadau. Dari jumlah tersebut, hotspot terbanyak di Kecamatan Nanga Taman, dan Nanga Mahap.

“Cuma ini tingkat kepercayaannya dari nol sampai 100 persen. Nanti dipilah lagi, yang dikhawatirkam titik api di kawasan HPL,” kata Eddy.

Kawasan HPL (hak pengelolaan lahan) adalah areal penggunaan lain. Areal penggunaan lain bisa milik masyarakat ada juga milik perusahaan.

Ia mengimbau agar masyarakat agar tidak membakar lahan karena kualitas udara saat ini kurang baik. 
Eddy meminta perusahaan tidak diam. Perusahaan diminta untuk membantu penanganan titik api.

“Berdasarkan instruksi Gubernur Kalbar ada sanksi bagi perusahaan yang membuka lahan dengan cara membakar,” ungkapnya.

Berdasarkan pemantauan  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ada  dua titik panas yang terdeteksi di lingkungan perusahaan pada 4 Agustus lalu. BPBD Sekadau langsung melakukan pengecekan menggunakan navigasi menemukan titik api tersebut berada di areal perusahaan.

“Namun, itu milik masyarakat. Bukan kebun sawit. Jadi lahannya berada di tengah-tengah kebun sawit. Warga buka ladang dibakar untuk persiapan menanam padi,” pungkasnya.

Kepala SMP Negeri 1 Sekadau Hilir Albinus menyambut baik pembagian masker oleh BPBD Sekadau di lingkungan sekolah yang ia pimpin, Selasa (13/8) pagi. Sejauh ini, kata dia, pihak sekolah belum membatasi kegiatan belajar terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan polusi udara di Sekadau. 

“Sejauh ini belum ada. Karena kondisinya masih terang. Jadi, dampak asap belum nampak,” kata Albinus.

Kegiatan belajar mengajar di sekolah masih normal, seperti biasa. Albinus mengatakan, kecuali bila ada situasi yang mengharuskan pihak sekolah menghentikan kegiatan ekstra di luar kelas.

“Kalau memang seperti ini kondisinya (menghentikan kegiatan di luar kelas) kita akan lakukan demi kesehatan anak-anak,” tegasnya.

Kapolsek Belitang Ipda Agus Junaidi beserta anggota, Selasa pagi, turun tangan membagikan masker kepada pengendara motor. Pembagian masker dilakukan di seputaran Jalan H.M. Saleh Ali, persisnya di depan Mapolsek Belitang.

Kapolsek beserta anggota memberhentikan para pengendara sepeda motor kemudian memberikan masker. 

“Demi menjaga keamanan dan kenyamanan bagi warga yang sedang berkendara maka semaksimal mungkin Polsek Belitang memberikan pelayanan dan pengamanan bagi pengendara sepeda motor,” katanya. 

Ia juga memberikan teguran kepada warga yang mengendarai sepeda motor tidak menggunakan helm dan kelengkapan lainnya. Dia meminta para pengendara menggunakan kelengkapan berkendaraan.

“Kami juga mengimbau kepada warga Kecamatan Belitang agar berhati-hati melewati jalan raya pada saat ini, karena memasuki musim kemarau dan bersama-sama mencegah terjadinya karhutla,” ujar Agus.  (akh/has)