Senin, 18 November 2019


Harga Telur Ayam Masih Anjlok

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 68
Harga Telur Ayam Masih Anjlok

PEDAGANG TELUR - Seorang pedagang telus sedang memilih telur di lapak tempatnya berjualan. Di Singkawang, harga jual telur mengalami kenaikan sejak sebulan terakhir.

SINGKAWANG, SP - Harga telur ayam di sejumlah Pasar Tradisional Kota Singkawang sampai saat ini masih bertahan dan anjlok diharga Rp18-19 ribu per kilogram (kg).

"Hingga kini, telur ayam masih dikisaran antara Rp18 ribu-Rp19 ribu per kg," kata Kepala Disperindagkop dan UKM Singkawang, Muslimin melalui Kasi Distribusi Barang dan Perdagangan Luar Negeri, Helmi Aswandi, Minggu (20/10). 

Turunnya harga telur ayam, kata dia, sudah terjadi sejak satu bulan yang lalu. Penyebabnya, selain permintaan berkurang, sementara stok telur ayam juga cukup banyak di pasaran. 

Sementara pada bawang merah, saat ini naik menjadi Rp22 ribu per kg dari sebelumnya berkisar antara Rp16-18 ribu per kg. 

"Penyebab kenaikan karena sudah melewati musim panen, sehingga harga kembali normal," ujarnya. 

Meski demikian, kenaikan harga masih di bawah ketetapan pemerintah sebesar Rp34 ribu per kg berdasarkan Permendag Nomor 96 Tahun 2018 tentang harga acuan pemerintah. 

Kemudian, pada bawang putih tetap di kisaran Rp26-27 ribu per kg. Untuk gula pasir, menurutnya, sejak minggu lalu memang sudah terjadi kenaikan, yang sebelumnya Rp12.500 per kg, sekarang sudah menjadi Rp13 ribu per kg. 

Menurut pengakuan para pedagang, kata dia, harga gula pasir sudah mengalami kenaikan di tingkat agen. Yang sebelumnya Rp580 ribu per karung (ukuran 50 kg), sekarang naik menjadi Rp600 ribu per karung. 

"Hanya saja untuk stok gula pasir, sampai saat ini masih tersedia," ungkapnya.

Sementara minyak goreng curah masih tetap stabil di harga Rp10 ribu per kg. Sedangkan minyak goreng kemasan Bimoli, di kisaran harga Rp14-15 ribu per liter. 

Khusus minyak goreng curah, tambahnya, per 1 Januari 2020, harus sudah wajib kemasan. 

"Jadi, tidak ada lagi yang berbentuk curah. Hal itu berkenaan dengan Permendag Nomor 09 Tahun 2016 tentang perubahan kedua Permendag Nomor 80 Tahun 2014, tentang minyak goreng wajib kemasan," jelasnya.

Dasar yang melatarbelakangi dikeluarkannya aturan wajib kemasan untuk minyak goreng curah, yakni, pertama, dalam rangka keamanan pangan dan hiegenis. Kedua, bahwa minyak goreng kemasan termasuk SNI wajib. 

"Jadi, mau tidak mau dikeluarkanlah aturan tersebut," tuturnya.

Dia pun memastikan, bakal tidak ada lagi minyak goreng curah di tingkat eceran (warung) per 1 Januari 2020. Jika masih ditemukan, maka pihaknya tak segan-segan melakukan penarikan. 

Untuk beras, lanjutnya, yang medium masih dijual rendah di pasaran, yakni di kisaran harga Rp6.500-9.000 per kg. Sedangkan yang premium, masih tetap stabil di harga Rp13.500-Rp14 ribu per kg. 

Sementara untuk cabai rawit, masih dijual dengan harga tinggi di pasaran. 

"Untuk cabai rawit yang lokal saja, masih di kisaran Rp80-90 ribu per kg. Sedangkan cabai yang didatangkan dari Pulau Jawa, dijual di kisaran Rp68-70 ribu per kg," katanya. 

Menurutnya, kenaikan cabai rawit lokal sudah terjadi sejak dua bulan yang lalu. 

Kemudian untuk cabai keriting dan cabai besar merah di pasaran, saat ini sedang kosong. 

"Ikan tongkol dan gembong masih dijual di kisaran Rp35-40 ribu per kg. Sedangkan daging ayam berkisar antara Rp40-42 ribu per kg," ujarnya. (rud/lha)