Selasa, 12 November 2019


Kepsek Tewas Ditusuk Suami Ponakan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 143
Kepsek Tewas Ditusuk Suami Ponakan

DIAMANKAN - Turit (40) pelaku penusukan korban Sukimin (54), Kepala SD 24 Mensiap Baru Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, saat diamankan warga, Kamis (17/10). ist

SINTANG, SP- Sukimin (54), Kepala SD 24 Mensiap Baru Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalbar, tewas setelah ditusuk Turit (40), salah seorang kerabatnya sendiri, Kamis (17/10).

Peristiwa tragis ini dengan cepat menyebar di media sosial. Dari foto yang beredar, korban yang saat itu memakai baju batik dan celana berwarna hitam, serta masih mengendong ransel, tampak terkapar bersimbah darah dibagian perutnya.

Kapolres Sintang AKBP Adhe Hariadi saat dihubungi di Sintang, membeberkan, peristiwa naas yang dialami Sukimin tersebut terjadi di Kelansam SP 1 Mensiap Baru. Sebelum ditusuk, sempat terjadi cekcok antara korban dengan pelaku.

"Korban saat itu hendak berangkat ke sekolah. Namun di perjalanan dicegat oleh pelaku Turit (40). Sempat terjadi cekcok, korban kemudian langsung ditusuk,” katanya, Kamis (17/10).

Korban mendapat dua tusukan di bagian perut sebelah kanan mengunakan pisau dan meninggal di tempat.

Menurut Kapores, penusukan berujung tewasnya Sukimin ini dipicu permasalahan keluarga. Yakni permasalahan adalah antara mantu ponakan dengan paman istrinya. Motif pembunuhan karena pelaku kesal terhadap korban yang sering ikut campur urusan rumah tangganya.

“Jadi istri pelaku itu masih keluarga dengan korban (keponakan). Mereka sering cekcok, korban lalu membela keponakannya itu,” terangnya.

Dendam itu bermula pada tahun 2017 ketika pelaku menikah siri dengan PR, yang terhitung masih keponakan korban. Kemudian di tahun ini, karena tidak ada kecocokan maka pelaku berpisah dengan PR. 

Sekitar Agustus lalu, pelaku mendapat surat dari perangkat Desa Mensiap Baru untuk mengurus perceraian dengan istri sah pelaku yang berada di Jawa.

"Apabila tidak dapat melengkapi surat tersebut, pelaku diwajibkan pergi dari Desa Mensiap Baru," katanya.

Sukimin, ujar Kapolres, yang merupakan paman istri siri pelaku selalu ikut campur urusan pribadi pelaku, saat masih menikah dengan PR dan setelah pelaku berpisah dengan PR.

“Sukimin adalah orang yang mengatakan pada pelaku, jika tidak bisa menghadirkan surat cerai dengan istri sah yang berada di Jawa. Pelaku harus pergi dari Desa Mensiap Baru,” ungkapnya.

Kemudian, Kamis (17/10) sekitar pukul 06.30 WIB pelaku akan pergi ke Sintang dengan membawa sebilah pisau (dilapisi koran) dan disimpan di pinggang pelaku. Kemudian saat di perjalanan, tepatnya di depan gereja, pelaku bertemu dengan korban.

Pelaku menghentikan korban dengan maksud hendak menyerahkan surat sebagai bentuk protes pelaku terhadap keputusan keluarga dan perangkat Desa Mensiap Baru. 

"Saat bertemu dengan korban, saya  menyampaikan rasa tidak terima atas apa yang mereka lakukan terhadap saya, yakni berupa pengusiran dari desa dan meminta surat perceraian dengan istri sah saya yang berada di Jawa," beber Kapolres menirukan ucapan pelaku.

Saat itu, pelaku ternyata emosi kemudian mengeluarkan pisau dari celana dan menusuk korban ke perut bagian depan dan samping. Korban yang jatuh terbaring setelah ditusuk berteriak minta tolong. Kemudian datang warga menolong korban. Namun korban akhirnya tewas.

Saat kejadian, pelaku langsung diamankan oleh warga sekitar sebelum polisi tiba di TKP. Oleh warga, pelaku diikat dengan tali.

“Pelaku juga sempat dihakimi beberapa warga sebelum kedatangan kita. Tapi tidak sampai bonyok. Pelaku juga diikat dengan tali,” kata Kapolres.

Kasat Reskrim Polres Sintang Indra Asrianto mengatakan, pelaku sudah ditangkap dan saat ini sedang diinterogasi.

“Sedangkan korban saat sedang dalam proses visum di RSUD Ade M Djoen Sintang,” ujarnya. (ant/ien)

Hukum Seberat-beratnya

Agung anak pertama korban mengaku ayahnya telah ditunggu oleh pelaku sejak usai salat subuh.

“Pelaku menghadang bapak saat pulang salat subuh di depan rumah warga yang satu komplek dengan rumah kami,” ujar Agung.

Agung tak menduga ayahnya harus mengalami kejadian tragis itu. Dia mengetahui ayahnya menjadi korban penusukan saat akan berangkat ke sekolah. 

“Kejadiannya di depan gereja di tempat kami. Bapak ditemukkan udah tergeletak di sana,” terangnya.

Agung menyesalkan sikap pelaku, apalagi mereka masih ada hubungan sekeluarga. Istri pelaku masih sepupu Agung alias ponakan korban. Dia pun meminta pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai perbuatannya.

“Memang benar ada konflik dalam keluarga. Namun sebenarnya konflik yang terjadi bukan antara bapak dengan si pelaku,” katanya. (ien)