Selasa, 17 September 2019


Ground Breaking Proyek PLN, Warga Desa Gotong Royong Bantu Persiapan

Editor:

M. Eliazer

    |     Pembaca: 76
Ground Breaking Proyek PLN, Warga Desa Gotong Royong Bantu Persiapan

General Manager PLN UIW Kalbar, Agung Murdifi memberi sambutan saat ground breaking proyek PLN di Kalbar tahun 2019 yang nantinya akan menerangi 60 desa/dusun di Kalbar

SANGGAU, SPGround breaking pembangunan listrik desa se-Kalimantan Barat tahun 2019 yang dilakukan PLN UIW Kalbar disambut antusias masyarakat. Selama satu minggu sebelum ground breaking dilakukan, masyarakat Dusun Tuan, Terindak, dan Empayan bersama membersihkan jalan dan lokasi yang akan dijadikan lokasi peresmian, yang digelar Senin (20/5) di Desa Mandong, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau.

Di Desa Mandong akan dibangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 7,228 kms, Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 2,024 kms dan trafo gardu distribusi dengan total kapasitas sebesar 300 kVA. Dengan pembangunan dan perluasan jaringan listrik ini nantinya PLN akan melistriki sekitar 171 rumah warga.

Kepala Desa Mandong, Andreas, mengungkapkan, keberadaan listrik pastinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat yang umumnya berkebun sawit dan karet.

"Adanya listrik, segala aktifitas akan mudah dilaksanakan tidak tergantung dengan waktu. Anak-anak akan lebih mudah dan nyaman belajar dimalam hari. Segala aktifitas usaha pastinya akan tumbuh di tengah-tengah masyarakat, apalagi Desa Mandong inikan letaknya tidak jauh dari jalan provinsi, mungkin sekitar tujuh kilometer dari jalan raya Sosok," ungkap Andreas.

Menurut Andreas, untuk penerangan di rumah, pada umumnya warga menggunakan mesin genset (generator setting), dengan rata-rata penyalaan setiap malam sekitar dua hingga tiga jam.

"Untuk menghidupkan mesin genset warga harus mengeluarkan biaya Rp800-Rp900 ribu per bulan untuk beli bahan bakar, tentunya cukup berat bagi ukuran masyarakat desa. Dengan adanya listrik yang akan segera masuk di desa kami pastinya akan memangkas pengeluaran rutin yang selama ini harus kami keluarkan," ungkap Andreas.

Sementara itu Warga Dusun Tuan, Maria (46) mengatakan, selama ini nyaris tidak ada aktifitas yang dapat dilakukan jika malam tiba, semua serba terbatas.

"Bagi warga dusun yang cukup mampu mesin genset adalah pilihan terbaik untuk penerangan di rumah saat malam tiba. Namun bagi kami yang kurang mampu lampu pelita menjadi alternatif daripada gelap sama sekali, sementara terkadang sulit untuk mencari minyak tanah,” ujarnya.

“Listrik bagi kami adalah sesuatu yang sangat kami nantikan, rasanya mimpi jadi kenyataan jika nanti listrik menerangi tiap-tiap rumah warga," lanjut Maria.

Maria juga berencana ingin membuka usaha kecil-kecilan di rumahnya. Wanita yang sehari-harinya menganyam rotan untuk dibuat berbagai peralatan rumah tangga ini mengaku dengan adanya listrik kehidupannya akan lebih baik lagi.


"Saya ingin membuat berbagai penganan kecil yang dapat saya titipkan di warung-warung kopi. Jika ada uang, saya juga mau membeli kulkas untuk membuat es batu, mana tahu ke depannya saya juga bisa jualan es batu atau minuman segar. Saya yakin, listrik akan membuat segalanya akan menjadi lebih mudah dan nyaman. Terima kasih PLN yang telah membuat kehidupan kami menjadi lebih baik lagi," kata Maria bersemangat. (jee)