Kamis, 19 September 2019


12 Tahun Menunggu, Gayung Bersambut Segera Terang

Editor:

M. Eliazer

    |     Pembaca: 162
12 Tahun Menunggu, Gayung Bersambut Segera Terang

Warga Desa Selakau Tua, Kecamatan Selakau Timur, Kabupaten Sambas membantu membawa tiang listrik PLN, beberapa waktu lalu.

SAMBAS, SP – Dalam waktu dekat Desa Gayung Bersambut, Kecamatan Selakau Barat, Kabupaten Sambas akan terang. Penantian warga selama hampir 12 tahun, segera terwujud.

Menerangi wilayah tersebut sebenarnya bukan perkara gampang. Ada berbagai hambatan yang menjadi penghalang sulitnya menerangi desa yang berbatasan dengan Kota Singkawang tersebut.

Infrastruktur jalan yang tidak memadai, jumlah rumah warga yang akan dialiri listrik dan berpengaruh pada besaran nilai investasi yang akan dikeluarkan, serta proses perawatan dan perbaikan paska terpasangnya jaringan listrik, merupakan beberapa kendala yang harus dihadapi.

Namun dengan keseriusan dan dukungan masyarakat, dalam waktu dekat, Desa Gayung Bersambut dipastikan akan merdeka dari kegelapan.

Pasalnya dalam waktu dekat dusun mereka akan segera dialiri listrik. Saat ini proses pembangunan jaringan listrik hampir selesai. Pada September 2019 jika tidak ada halangan, masyarakat sudah dapat merasakan listrik dari PLN tersebut.

"Kita sebentar lagi merdeke. Merdeke dari kegelapan. Akhirnya kami merasakan listrik dari PLN," ujar warga Dusun Gayung Bersambut, Desa Selakau Tua, Kecamatan Selaku Timur, Kabupaten Sambas, Hadi Yudiarto, kepada awak media saat berkunjung ke desa tersebut dalam kegiatan Media Touring Wartawan bersama PLN Group Kalbar Tahun 2019, kemarin.

Selama ini, Hadi menyebutkan untuk penerangan dan penggunaan peralatan listrik di malam hari banyak warga menggunakan genset, waktu penggunaannya pun sangat terbatas, hanya sekitar dua atau tiga jam saja. Hal itu dikarenakan biaya operasionalnya cukup tinggi. Lampu pelita menjadi solusi.

"Tentu mahal kalau menggunakan genset. Untuk membeli solar kami harus mengeluarkan uang sekitar Rp20 ribu permalam, itupun hanya bisa dipakai untuk tiga jam saja, belum lagi untuk biaya perawatan jika sesekali gensetnya rusak. Pastinya perbulan kami harus mengeluarkan biaya antara Rp600 hingga Rp700 ribu. Bagi kami warga dusun pastinya terasa sangat berat," kata dia.

Hadi dan beberapa warga lainnya, untuk mendukung masuknya listrik ke desa tersebut selain rela bergotong-royong untuk mengangkut material juga rela pohon sawitnya harus ditebang, karena dilalui jaringan listrik. Ada sekitar 60 batang sawit miliknya dari sekitar 500-an batang sawit milik warga yang ditebang. 

Setiap batang sawit tersebut satu rupiah pun tidak ada tuntutan ganti rugi dari warga. Padahal sawit yang ada mayoritas sudah berproduksi atau sudah berumur sekitar 6-8 tahun. Jika dikonversikan untuk ganti rugi diperkirakan warga yakni Rp800 ribu- Rp1 juta per batang.

"Kami tidak mau ganti rugi, demi kepentingan bersama dan asal listrik masuk, kami ikhlas pohon sawit, karet dan lainnya ditebang tanpa ganti rugi," jelas dia.

Menurut General Manager PLN Unit Induk Wilayah Kalbar, Agung Murdifi, khusus Dusun Gayung Bersambut, kendala terberat dan  menjadi salah satu  faktor daerah tersebut lama tersentuh listrik PLN adalah akses jalan. Jalan yang sempit dan jembatan yang ada tidak bisa dilalui oleh kendaraan yang memasukan material seperti tiang, trafo dan kabel listrik.

Namun, pada 2019 ini tantangan yang ada terjawab dengan komitmen dan kerelaan warga yang bersedia untuk bergotong - royong mengangkut material. Masyarakat dengan rela dan ikhlas tanpa dibayar bahu membahu memikul tiang listrik agar bisa masuk ke dusunnya. Bahkan untuk menyeberang sungai melalui air, tiang harus diberi pelampung dan dibawa melalui sungai.

"Ini merupakan hal yang luar biasa. Saya mengapresiasi Kerelaan dan keikhlasan seluruh warga dalam membantu dan bersinergi dengan para pekerja dalam mensukseskan pelaksanaan proyek lisdes tersebut," ungkap Agung.

Diakuinya, untuk mengalirkan listrik ke Dusun Gayung Bersambut, PLN  membangun jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 8,586 kms dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 5,597 kms serta 2 unit gardu distribusi dengan total kapasitas sebesar 200 kVA. Keseluruhan pembangunan jaringan listrik menelan biaya sekitar Rp2,8 miliar.

Agung juga mengingatkan kepada seluruh warga agar berhati-hati jika ada oknum tertentu yang akan mengambil keuntungan dengan cara illegal namun merugikan, warga pasca selesainya pembangunan jaringan listrik. Terutama yang terkait dengan proses permohonan pasang baru.

"Jangan mudah percaya jika ada oknum yang menawarkan jasa bisa mengurus pasang listrik dengan cara yang mudah, cepat dan murah namun ujung-ujungnya merugikan masyarakat. Nanti akan ada sosialisasi resmi dari PLN Unit Layanan setempat terkait proses pengajuan pasang baru serta berapa biaya yang harus dikeluarkan warga," tegas Agung.

Pemdes Sambut Baik

Pemerintah Desa Selakau Tua melalui Kepala Dusun Gayung Bersambut, Yanto menyambut baik program Lisdes PLN. Pasalnya apa yang ada adalah harapan terbesar dan harapan seluruh masyarakat, untuk bisa menikmati listrik seperti warga desa atau dusun lainnya di NKRI.

Ia pun sangat mengapresiasi dukungan, kekompakan dan kerja sama dari berbagai pihak dalam mendukung Program Lisdes dari PLN, sehingga bisa terealisasi dengan cepat. Menurutnya tanpa dukungan dan gotong-royong warga maka entah kapan dusun mereka merdeka dari kegegelapan.

"Kami dari masyarakat dan Pemdes telah berjuang 12 tahun untuk mengusulkan adanya listrik di dusun kami ini. Alhamdulillah dan terima kasih kepada PLN dan masyarakat serta pihak yang telah mendukung ini semua," ucap dia. (jee)



























  •