Warga Keluhkan Jalan Lumar Rusak Berat

Bengkayang

Editor Kiwi Dibaca : 772

Warga Keluhkan Jalan Lumar Rusak Berat
ilustrasi
BENGKAYANG, SP – Kondisi ruas jalan berstatus provinsi yang ada di Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang  yang dibangun sejak Presiden RI dijabat Soeharto kini kondisinya mulai rusak.

"Badan jalan sudah banyak yang berlubang," keluh Ahan, warga Dusun Sempayuk, Desa Belimbing, Kecamatan Lumar ditemui di Jalan Jerendeng AR Bengkayang, Selasa (17/5).

Dikatakan bahwa badan jalan sebenarnya tidak akan berlubang bila kendaraan bermuatan yang melintas di bawah delapan ton. Namun kenyataan di lapangan, rata-rata kendaraan mengangkut muatan di atas delapan ton sehingga badan jalan cepat rusak dan berlubang.

Apalagi pabrik kelapa sawit saat ini sudah ada di Kecamatan Ledo, Sanggau Ledo dan Seluas. Tentunya banyak kendaraan yang membawa tandan buah segar kelapa sawit dari arah Lumar, dan Bengkayang menuju Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tersebut.

Begitu juga dari arah Seluas, Jagoi Babang, Sanggau Ledo dan Ledo yang membawa kernel dan CPO Kelapa Sawit melintas badan jalan tersebut menuju Pontianak.

"Semoga pemerintah segera memperbaiki badan jalan yang rusak," harap Ahan.

Ahan merincikan, badan jalan provinsi yang berlubang di Desa Belimbing dimulai dari Ujung Rumah Tahanan Negara Klas Dua B hingga berbatasan dengan Desa Lamolda, Kecamatan Lumar. Badan jalan yang rusak parah ada di Dusun Sempayuk, tepatnya di kampung Sempayuk dan Panahan.

Hal senada juga diutarakan Herman, warga Kelurahan Sebalo, Kecamatan Bengkayang. Setiap malam, belasan truk pengangkut kelapa sawit dari arah Ledo menuju Singkawang atau Pontianak. Begitu juga sebaliknya, terkadang dari arah Jalan Pontianak dan Singkawang ke Ledo.

"Saat saya tanya, minimal sembilan ton Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit mereka angkut sekali jalan," ungkap Herman.

Herman menerangkan, para sopir pengangkut TBS kelapa sawit beralasan kalau membawa sembilan ton sekali angkut baru dapat hitungan upah.  Bila pemerintah ada jembatan timbang di Kabupaten Bengkayang, kata Herman, tentunya para sopir angkutan TBS Kelapa Sawit tidak berani mengangkut di atas delapan ton. (cah/bah)