Beda Nasib Dua Komoditas Andalan Bengkayang

Bengkayang

Editor Kiwi Dibaca : 697

Beda Nasib Dua Komoditas Andalan Bengkayang
KEBUN SAHANG – Perkebunan sahang warga Bengkayang, yang saat ini sedang lesu, karena harganya anjlok. Petani pun mensiasati dengan tidak menabung sahang, dan menjualnya saat harga naik. SUARA PEMRED/YOPI CAHYONO
BENGKAYANG, SP -  Lada atau dikenal dengan sebutan sahang, adalah satu di antara komoditas pertanian andalan warga Kabupaten Bengkayang. Sejak 2016, harganya yang menembus Rp150.000 per kilogram, semakin membuat warga berlomba-lomba menanam bahan penyedap rasa ini.  

Tetapi, sejak beberapa waktu lalu, harga sahang, terutama sahang putih hanya Rp65.000 per kilogram. Hal ini tentunya jadi masalah tersendiri bagi para petani.  

“Mendekati Hari Raya Idul Fitri dan masuk tahun ajaran baru sekolah, harganya anjok. Bahkan, hingga setengahnya,” kata Niko, petani di Kecamatan Bengkayang, yang ditemui Suara Pemred, di Jalan Uray Dahlan Suka, Minggu (11/6).  

Tentunya petani yang mengandalkan sahang untuk menyekolahkan anaknya, mau tidak mau harus menjual sahang putih walaupun harganya turun drastis.   

Tidak hanya sahang putih, namun juga harga sahang hitam juga ikut anjlok saat ini. Dengan harga hanya Rp25.000 per kilogram. Sementara pada 2016, harga sahang hitam mencapai Rp50.000 per kilogram.  

Parjo, petani dari Kecamatan Lumar mengatakan, walaupun harga sahang turun drastis. Ia tetap memelihara kebunnya. Ia pun bersiasat dalam menjual hasil tanamannya.  

"Kalau harga turun,  kita simpan dan jangan dijual, hingga harga normal, baru kita jual," kata Parjo.  

Walaupun merugi, beberapa petani di Bengkayang menganggap sahang putih yang disimpan di gudang sebagai tabungan. Bila harganya kembali membaik dan menembus Rp100.000 per kilogram, mereka baru menjualnya.  

“Saya tetap semangat memelihara tanaman sahang, walaupun harganya anjlok. Sahang putih tahan lama, dan dapat disimpan selama bertahun-tahun asalkan kering," terangnya.   

Kondisi sebaliknya berlaku pada komoditas jagung, yang juga jadi andalan petani di Kabupaten Bengkayang. Saat ini, jarga makanan pengganti nasi ini, sedang bagus dan sangat disyukuri petani.  

"Kita semangat menanam jagung, karena harganya tinggi. Jagung yang merupakan tanaman tiga bulanan, sangat digemari karena membutuhkan waktu relatif singkat dibandingkan tanaman lain,” kata Tomas, petani Kecamatan Bengkayang.   Untuk menanam jagung,  dapat dilakukan dengan sistem tumpang sari. Baik itu dengan kelapa sawit yang baru berusia setahun, dengan padi ladang, maupun karet yang baru ditanam.   

"Sekarang harga jagung kering mencapai Rp3.800 per kilogram. Saya sudah lima tahun ini menanam jagung, dan lumayan lah pendapatan dari jagung usai dipanen.  Dapat membiayai anak-anak sekolah," ungkapnya. (cah/mul)   

Komentar