Tak Bayar TBS Petani, Pabrik Kelapa Sawit PT WKN Ditutup Secara Adat Dayak

Bengkayang

Editor Mul Dibaca : 6780

Tak Bayar TBS Petani, Pabrik Kelapa Sawit PT WKN Ditutup Secara Adat Dayak
DITUTUP - Warga (petani) yang berasal dari tiga kecamatan, yakni Kecamatan Sanggau Ledo, Kecamatan Seluas dan Kecamatan Jagoi Babang menutup pabrik PT WKN secara adat Dayak, Sabtu (5/1). SUARA PEMRED/NARWATI
BENGKAYANG, SP - Perkebunan Kelapa Sawit  PT Wawasan Kebun Nusantara PMKS Sungai Kumbah, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang resmi ditutup secara adat Dayak oleh petani, Sabtu (5/1).  

Penutupan itu dilakukan karena masyarakat merasa dirugikan oleh pihak perusahaan, sebab hampir tiga bulan  Tandan Buah Segar (TBS) petani belum dibayar.  

Awalnya,  TBS sawit petani lokal ditolak oleh perusahaan, karena anjloknya harga sawit dunia, sehingga merambah pada perusahaan sawit di daerah, termasuk PT WKN. Sawit yang harga awalnya Rp1.800, turun drastis menjadi Rp850 perkilogramnya.  

Sejak itu, PT WKN tutup dan tidak membeli TBS petani. Tetapi sejak dibuka dan masuknya kembali PKS untuk TBS petani lokal dari 2 November 2018 sampai 5 Januari 2019 buah TBS petani belum dibayar hingga sekarang.  

Sebanyak 500 warga masyarakat (petani) yang berasal dari tiga kecamatan, yakni Kecamatan Sanggau Ledo, Kecamatan Seluas dan Kecamatan Jagoi Babang menutup PT WKN secara adat Dayak, dengan mengembok gerbang kantor. Penutupan ini, setelah adanya perjanjian antara petani, pemilik DO dan komersil.  

Tokoh Masyarakat Kecamatan Seluas, Gustian mengatakan, penutupan secara adat Dayak itu dilakukan di areal pabrik sebagai segel untuk PKS tidak boleh beroperasi sesuai kesepakatan pada tanggal 2 Januari 2019, sampai pada pembayaran dilakukan.  

"Dalam surat keluhan dari masyarakat yang ditandai oleh Marketing TBS Luar, Hakki Muttakin yang juga disaksikan oleh Mil Manager,  Jan My Father H Silalahi, yang dinyatakan masyarakat meminta kepada pihak WKN untuk membayar TBS yang sudah jatuh tempo kepada pemenang DO dan petani sawit luar," ungkap Gustian.  

Selain itu, dalam perjanjian tersebut juga menerangkan apa bila PT WKN mengatur lebih lanjut tentang pembayaran dengan tepat pemegang DO yang menampung TBS luar, baru pagar gembok akan buka secara adat kembali.  

"Tetapi, jika tidak ada solusi sesuai dengan kesepakatan pada pertemuan dengan menagemen, atau belum melunasi pembayaran DO yang tertunda, maka pabrik tidak boleh dibuka," kata dia.  

Penutupan secara Adat oleh masyarakat petani lokal, kata Gustian, bukan hanya karena TBS tidak dibayar, namun juga ada persoalan lainnya.  

Sementara itu, Asisten Marketing TBS Luar PT WKN,  Ronal mengatakan, ketidakbayaran TBS petani itu bukan karena sengaja tidak dibayar, tetapi karena pihaknya juga belum mendapat bayaran dari pihak perusahaan (pusat).  

"Sebab CPO masih dalam posisi di tempat penampungan, tidak bisa ke luar akibat pengaruh ekonomi global," terangnya.  

Turut hadir dalam pengamanan,  SSK Sabara Polres Bengkayang yang dipimpin Wakapolres Bengkayang, Kompol Dwi Sulistiono,  SSK Polsek Seluas, SSK Polsek Jagoi Babang, dan dua personel Koramil Seluas. (nar/bob)