Senin, 23 September 2019


Cerita Rika, Alumni Pondok Reyot Bengkayang Dibantu Biaya Kuliah oleh Sutarmidji

Editor:

Admin

    |     Pembaca: 2520
Cerita Rika, Alumni Pondok Reyot Bengkayang Dibantu Biaya Kuliah oleh Sutarmidji

Rika, mahasiswi FKIP Untan, alumni pondok reyot Bengkayang mendapat beasiswa hingga lulus kuliah dari Gubernur Kalbar, Sutarmidji.

BENGKAYANG, SP - Sejatinya, Rika hanya ingin singgah sebentar. Dia hanya punya waktu sehari nostalgia dan melihat adik-adiknya, usai pemberitaan soal pondok reyot di Desa Sempayuk, Lumar, Bengkayang, Sabtu (2/2).

Tapi siapa sangka, niat tulus itu jadi petunjuk semesta.
Kedatangan Rika, ternyata berbarengan dengan kehadiran Gubernur Kalbar, Sutarmidji.

Keduanya sama-sama digerakkan rasa iba melihat perjuangan 24 siswa yang terpaksa tinggal jauh dari orang tua untuk melanjutkan sekolah. Keriuhan di lokasi membuatnya ikut larut hingga jadi bagian dialog Gubernur dengan para pelajar di halaman Balai Desa Belimbing, Kecamatan Lumar.

Tukar cerita itu menarik antusias warga. Terlebih bagi Rika, yang entah dapat bisikan dari mana, Sutarmidji memanggilnya. Mahasiswi semester dua Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura ini memang pernah tinggal di pondok reyot tersebut.

Sutarmijdi bertanya banyak perkara. Mulai dari aktivitas Rika, bagaimana kehidupannya di pondok dulu, soal biaya hidup dan kuliah di Pontianak, dan lain sebagainya. Anak petani karet itu menjawab apa adanya. Di situlah tiba-tiba semesta bergerak.

“Saya akan tanggung biaya kuliah kamu, Rika,” ucap Gubernur yang akrab disapa Bang Midji itu.

Rika geming, seakan tak percaya. Mantan Wali Kota Pontianak itu lantas memberinya uang tunai Rp4 juta. Jumlah yang sama dengan biaya kuliahnya per semester. Semester-semester berikutnya, Gubernur minta dikabari jika sudah masuk jadwal pembayaran.

“Kalau sudah masuk pembayaran, kasih tahu saya. Nanti uangnya langsung saya bayarkan setiap semester,” ujar Midji.

Gadis kelahiran Sempitak, Kabupaten Sambas itu, kaget.
“Saya merasa mimpi, saya benar-benar terharu. Dari awal tidak ada kepikiran untuk mendapatkan bantuan dari Pak Gubernur," ucap Rika.

Gadis itu makin semangat kuliah. Tak terbayangkan olehnya, niat menjenguk dan memotivasi adik-adik di pondok reyot membawanya pada rezeki lain. Orang tuanya kini tak perlu pusing soal kuliah. Tinggal biaya sekolah adik-adiknya dan bagaimana dapur tetap berasap.

Rika yang berasal dari Elok Sempitak, Sambas menyelesaikan 12 tahun sekolah di Bengkayang. Jarak itu lebih dekat ketimbang sekolah di kabupaten sendiri. Jauh dari orang tua sejak masuk SD, dia harus terbiasa dengan kerasnya hidup.

“Saya sempat bekerja sama orang untuk cari uang jajan. Kerjanya ya merumput ladang, kebun orang dan panen jagung," kenang mahasiswi jurusan Sosiologi itu.

Pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dihabiskannya di atas yang sama. Atap dari daun sagu dan berlantai tanah. Ketika masuk SMA, dia ikut orang. Orang tuanya tak mampu menyekolahkan.

“Saya tinggal sama orang. Karena saya pikir masih ada dua adik saya yang tinggal di pondok, yang butuh biaya juga. Sementara orang tua juga tak mampu," ceritanya.

Di pondok reyot dan sempit itulah tekad dan semangatnya terus hidup. Hutan seperti ibu yang menyiapkan rebung, miding dan daun ubi untuk mereka makan. Sementara tanah, layaknya bapak yang menggendongnya hujan atau panas. Rika pun tumbuh jadi gadis mandiri.

“Saya ingin suskses dan buat orang tua saya bangga sama saya dan berharap hidup ke depan lebih baik dan nyaman,” tuturnya.

Walau besar dengan berjarak dari keluarga, Rika tak ingin mengecewakan orang tua. Mereka telah berjuang sekuat tenaga untuk buat anak-anaknya terus sekolah. Tetes keringat dan air mata itu harus dibayar dengan senyum dan prestasi.

Dia pun tak ingin adik-adiknya di pondok patah semangat. Sampai sekarang, mereka masih percaya pendidikan dapat mengubah nasib. Saban pulang kampung, Rika pun selalu berkunjung. Tak semua kacang, lupa kulit.

“Adik-adik di pondok harus tetap semangat. Optimis. Karena masa depan milik semua orang yang mau berjuang,” tutupnya. (narwati/balasa)