Kisah Tiga Lilin dan Antusiasme Perempuan Perbatasan

Bengkayang

Editor M. Eliazer Dibaca : 242

Kisah Tiga Lilin dan Antusiasme Perempuan Perbatasan
Relawan demokrasi bersama warga Dusun Jagoi Belida, Desa Sekida, Kecamatan Jagoi Babang
Hari itu mulai gelap. Matahari di ujung barat tak terlihat lagi. Di ujung batas Negeri, udara dingin mulai menyapa. Hiruk pikuk kota jauh terdengar. Hanya ada beberapa suara jangkrik dan katak.  Merdu sekali. Saat semua orang harus pulang, beberapa perempuan tengah berjuang mencapai pemukiman warga.




Mereka adalah relawan demokrasi atau Relasi. Mereka memberikan sosialisasi Pemilu kepada pemilih, khususnya basis perempuan di perbatasan.

Relawan demokrasi terbagi menjadi 11 basis. Yakni, basis keluarga, pemilih pemula, pemilih muda,  perempuan, basis penyandang disabilitas, pemilih berkebutuhan khusus,  kaum marginal,  komunitas, keagamaan, warga internet, dan relawan demokrasi.

Basis perempuan menjadi sasaran sosialisasi dan pendidikan pemilih. Perempuan tak hanya mengasuh dan mendidik anak. Tapi juga dapat untuk memotivasi dan mengedukasi lingkungan.


Setidaknya, ada 40 perempuan hadir dalam sosialisasi Pemilu di Jagoi Belida. Antusiasme perempuan perbatasan di Indonesia-Malaysia, membuat tim Relasi semangat untuk memberikan sosialisasi.

Padahal, saat sosialiasi, jarak dari kota menuju Dusun Jagoi Belida, Desa Sekida, Kecamatan Jagoi Babang, tidak dekat.  Butuh waktu dua jam lebih dari pusat kota Bengkayang. Perjalanan sore itu, hanya ditemani kabut tebal di sepanjang jalan.

Tim Relasi tiba pukul 18.00 WIB. Mereka disambut ibu-ibu di perbatasan.  Kegiatan dipusatkan di salah satu rumah warga di Sekida. Di rumah Bu Ari sudah penuh oleh ibu-ibu.  Warga antusiasme menyambut sang tamu. 



Sore itu, begitu tim Relasi datang, hidangan kopi dan teh sudah tersedia di atas tikar bidai sebagai alas duduk. Meski dengan fasilitas seadanya, hal itu tak mengurangi semangat para ibu hebat tersebut. Mereka rela meninggalkan pekerjaan rumahnya, cepat pulang dari ladang dan kebun, hanya untuk mengikuti sosialisasi dari Relasi KPU. Mereka sudah duduk melingkar.  


Selama ini, mereka seolah tabu dengan istilah demokrasi. Hal biasa saja. Tak terlalu istimewa. Mereka hanya menyalurkan suara. Tidak terlalu berambisi untuk satu kandidat.


Isu Pemilu di perbatasan tak semeriah isu di televisi, dan Pulau Jawa. Bagi mereka, siapa saja yang terpilih menjadi Presiden dan Wapres, tentu sama saja. Mereka hanya berharap, pemimpin yang mampu berbuat untuk rakyat. Merangkul dan tak lupa diri.


Mereka ingin figur pemimpin yang bekerja untuk Indonesia. Warga perbatasan dijadikan layaknya warga Jakarta, Jawa dan sekitarnya. Tapi proses memilih pada Pemilu serentak 2019, sangat berbeda. Banyak yang tidak tahu. Apalagi ada lima jenis surat suara yang berbeda. Tentu, mereka tidak paham.


Wajar sajalah, hari-hari mereka di bawah terik matahari, bekerja di ladang dan kebun. Untuk menonton berita saja tidak sempat. Oleh karena itu, kabar kedatangan tim Relasi tersebut sudah dinantikan, dan disambut dengan senang hati.


Nuraini, Ketua Tim Relasi Demokrasi Kabupaten Bengkayang, Basis Perempuan, langsung menyapa mereka. Nur datang bersama empat rekannya.


Sosialisasi Pemilu bertujuan memberikan pemahaman, dari sisi kualitas maupun pengaruhnya dalam dinamika sosial-politik. Menumbuhkan kembali kesadaran positif berhadap pentingnya Pemilu dalam kehidupan sehari-hari, berbangsa dan bernegara.


“Perempuan sosok sentral dalam mendidik anak. Selain itu, jumlah perempuan berimbang dengan jumlah pemilih laki-laki,” kata Nur.


Pemilih perempuan rentan dimobilisasi ketika Pemilu dan diluar Pemilu. Tingkat pendidikan perempuan rata-rata lebih rendah, sehingga memainkan peran domestik saja dan urusan publik terabaikan. “Sebab itulah, relawan demokrasi muncul pada basis perempuan,” ujar Nur.


Tugas itu terlihat sepele, tapi cukup memberikankan tantangan. Pasalnya, belum semua masyarakat mau mendengarkan sosialisasi dari KPU. Terutama bagi emak-emak. Mereka ogah dan tak mau tahu.

"Tapi beda dengan sosialisasi kali ini. Perempuan, ibu-ibu di perbatasan, Jagoi Babang. Justru mereka begitu antusias dan semangat, ikut mendengarkan sosialisasi dari kami," kata Nur.


Nur menjelaskan, kedatangan mereka pekan lalu disambut dengan baik. Segala kopi, teh, sudah tersedia di depan. Warga siap mendengarkan sosialisasi dari tim Relasi.


Mengumpulkan warga  bukan perkara mudah. Apalagi kalau tak ada jaringan atau sanak saudara di sana. "Alhamdulillah, di sana ada keluarga. Jadi, bisa mengumpulkan ibu-ibu untuk ikut sosialisasi dari kami," imbuh Nur.


Rata-rata perempuan yang hadir adalah petani. Waktu mereka habiskan seharian di ladang dan kebun. Tak heran bila, untuk melaksanakan sosialiasi, tim harus menyesuaikan waktu dengan mereka.


Ketika sosialisasi baru berlangsung sekitar 10 menit, lampu padam. Ibu-ibu terlihat kesal. Apalagi, saat sedang asyik-asyiknya bertanya jawab. Seolah tak mau kalah dengan keadaan, tim Relasi terus melanjutkan sosialisasi. Senter di telepon genggam jadi alat, agar sosialisasi tetap berjalan.


Sang pemilik rumah, Ari, beranjak ke belakang. Ia mencari sisa-sisa lilin yang ada. Beruntung, ada tiga lilin. Lalu, sebuah korek api dinyalakan. Ujungnya menyentuh benang bagian atas. Kondisi tak lagi gelap gulita.


Sosialisasi berlanjut. Tak terasa dua jam sudah berlalu. Listrik tak kunjung menyala. "Tak heran lagi, di sini memang sering mati lampu," kata sang pemilik rumah.


Meski hanya diterangi lilin, Nanda mengaku senang. Keingintahuan warga perbatasan begitu tinggi. Mereka pun disambut dengan hangat.


"Kita berharap sosialisasi kali ini benar-benar memberikan pemahaman kepada warga. Terutama mendekati hari H-nya. Agar warga tidak golput," ujar perempuan berhijab itu.


Ia pun menaruh harap, kehadiran mereka di tengah warga, mampu meningkatkan partisipasi dan kualitas pemilih menggunakan hak suaranya. "Kita adalah mitra KPU, semoga mampu menjalankan tugas untuk mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat, dalam menggunakan haknya," ucap Nanda.

Sementara itu, Ari sangat senang atas kedatangan tim Relasi KPU. Selama ini jarang ada sosialisasi tentang Pemilu, khususnya di tempat mereka. Adanya sosialisasi tersebut, mereka jadi bisa memahami, cara memberikan hak suara. Baik itu untuk DPRD, DPRD Provinsi, DPD, DPR RI, Capres dan Wapres.

"Senang sekali, karena selama ini jarang ada," ucapnya dengan singkat.


Ia hanya berharap, hasil Pemilu nanti dapat menghasilkan pemimpin berkualitas dan merakyat.


Hal senada disampaikan Jimer. Ia berharap, pemimpin yang terpilih bisa peduli terhadap masyarakat di perbatasan. Dapat membangun perbatasan, baik itu infrastruktur jalan, jembatan dan lainnya.


“Menyelesaikan yang belum selesai, dan melanjutkan pembangunan yang terbengkalai di wilayah perbatasan,” kata Jimer.


Malam itu, semua warga senang. Begitu pun dengan tim Relasi. Meskipun dalam keadaan bayang-bayang gelap, sosialisasi bisa dilaksanakan. Sosialisasi berakhir dengan hikmat. Semua perempuan perbatasan itu, menjadi mengerti. Kerja yang tak sia-sia. Semua wajah ceria, meski dalam gelap. (narwati)






























Komentar