Siswa SD Pedalaman Menginap Demi Ujian Nasional

Bengkayang

Editor K Balasa Dibaca : 573

Siswa SD Pedalaman Menginap Demi Ujian Nasional
DIGABUNG – Para siswa SDN 36 Tengon Upas, Air Besar, Kabupaten Landak ketika digabung untuk belajar dalam satu kelas lantaran kurangnya tenaga guru di sekolah tersebut.
Gloria (14), siswi kelas VI SDN 36 Tengon Upas, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak harus menginap di Desa Parek selama ujian nasional, mulai Senin (22/4). Hitungannya masih desa tetangga, tapi jaraknya tiga jam dengan kendaraan roda dua. Makan waktu jika harus pulang pergi.

Bersama delapan teman lain, dia berangkat Minggu (21/4) sekira pukul tujuh pagi. Diantar sang ayah, dia dibekali satu ekor ayam, beras delapan kilogram dan tikar. Ujian nasional memang bukan tamasya. Tapi itulah cara bertahan hidup dan lulus sekolah di desanya.

Ayam dimasukkan dalam anyaman bambu. Diikat di besi belakang motor. Beras dan bawaan lain berjejalan di gantungan depan. Pukul sepuluh lebih, mereka sampai. Sebelumnya, panitia ujian sudah menyiapkan satu lokal di SDN 30 Desa Parek. Semua peserta ujian yang ‘menumpang’ tinggal di sana.

Sudah jadi kebiasaan, akan ada minimal tiga orang tua murid yang tinggal. Mereka bertugas memantau dan jadi juru masak. Termasuk cari kayu bakar jika kebetulan kurang. Perkakas dapur jadi tanggung jawab panitia. Bekal dan bagaimana siswa di tempat ujian, sudah dirapatkan antara guru dan orang tua.

"Kami disuruh guru bawa satu ekor (ayam) dan beras. Kami ada sembilan orang, jadi sembilan ekor ayam," ujar Gloria.

Walau harus ditinggal ayahnya pulang, bocah itu tak hilang semangat. Tikar yang dibawanya, jadi pengganti peluk orang tua. Gugup dan takut sempat dia rasakan.

"Gak apa jauh. Yang penting saya ujian. Biar cepat-cepat masuk SMP," tuturnya.

Sebagai pusat tempat ujian sekolah dan nasional, Desa Parek setiap tahun menampung sekolah-sekolah di desa sekitar untuk ujian bersama. Siswa tak perpikir soal jajan. Tapi bagaimana ujian berjalan lancar. Bekal uang mereka seadanya, yang penting makan sudah aman.

Apa yang dirasa Gloria bukan yang pertama di keluarganya. Dua kakaknya sudah merasa hal sama.

"Mau gimana lagi. Kan tidak ada tempat ujian yang dekat. Mereka dulu juga ujian di Parek. Lebih lagi anak saya yang tertua baru tamat SMA sekarang, dulu tempat ujiannya lebih jauh, di Tengewe," kata ibu Gloria, Noryana.

Desa Tengewe berjarak lima jam berkendara motor dari Tengon Upas. Namun itu dalam kondisi panas. Jalannya masih tanah.

Noryana sendiri beberapa kali menemani anak-anaknya ujian di lokasi yang jauh dari rumah. Bila tak ikut, akan sulit memantau mereka. Mengatur makan dan istirahat. Namun untuk Gloria dia yakin. Anaknya itu sudah dipesan, “isi soal yang benar, jangan nakal, dan jaga diri”.

Cerita lain datang dari Natalia, alumni SDN 36 Tengon Upas. Ujian nasional jadi pengalaman pertamanya jauh dari orang tua. Bertemu dengan anak-anak yang baru dikenal. Tidur dan makan yang kadang, seenak diri sendiri.

"Awal sih memang repot, tapi kita harus menyesuaikan," kata siswi kelas X salah satu SMA di Bengkayang ini.

Ketika ujian dulu, para siswa harus bangun subuh untuk mandi di sungai. Jaraknya 200 meter dari tempat menginap.

"Takut telat. Terus kalau sudah pagi, sudah ramai orang di sungai, malu," bebernya.

Tinggal jauh untuk pertama kali, terlebih masih kanak dengan tujuan ujian, tentu jadi beban tersendiri. Dia dan beberapa temannya tak jarang berbagi tangis. Mereka rindu orang tua.

“Semakin sore terlintas di pikiran, merindukan kampung, merindukan orang tua, bahkan semua orang . Teman-teman saya juga sempat ada yang nangis karena rindu," ujarnya. (narwati/balasa)