FKUB Bengkayang Minta Masyarakat Tetap Tenang

Bengkayang

Editor elgiants Dibaca : 279

FKUB Bengkayang Minta Masyarakat Tetap Tenang
PEMILU-Upaya distribus logistik Pemilu oleh Penyelenggara maupun TNI dan Polri dalam rangka menyukseskan Pemilu di Kabupaten Bengkayang. FKUB Bengkayang mengimbau masyarakat tetap tenang menunggu hasil penghitungan real count KPU.
BENKAYANG, SP. Menang kalah dalam sebuah kontestasi merupakan hal yang biasa terjadi. Apalagi dalam sebuah pesta demokrasi saat ini. Masing-masing figur ingin menang, dan menduduki kursi panas. Menjadi pemimpin adalah dambaan banyak orang, entah karena ambisi pribadi atau memang murni karena tujuan ingin berbuat untuk masyarakat. Namun, masyarakat tidak perlu terprovokasi oleh berita-berita yang belum jelas dan pasti hasilnya. Apalagi yang saling mengklaim kemenangan. 

Setidaknya itulah yang coba disampaikan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Kabupaten Bengkayang, Hendrikus Clement. Ia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan bekerja seperti semula. 

“Percayakan semua proses kepada KPU  untuk perhitungan sampai pada tahap real count. Kata Hendrikus Clement, Minggu, (21/4)

Hendrikus Clement menyampaikan, siapa pun presiden yang terpilih dan nanti ditetapkan KPU adalah Presiden untuk semua masyarakat Indonesia. 

"Pancasila dan UUD 1945 sudah mengatur bagaimana Presiden berperan memimpin Negara. Rakyat sudah memberikan amanah dan kita tinggal menunggu kiprah pembangunan Indonesia," ujarnya.

Dengan begitu lanjut Hendrikus, sebagai peserta Pilpres juga hartus menampilkan sikap sejuk dan menyampaikan pesan damai dan rukun. Umat beragama diminta jangan terbawa isu sara. Pemilu menurutnya adalah sarana demokrasi yang resmi untuk mencapai kekuasaan secara bermartabat. Elit harus tampilkan sikap ramah, senyum dan bijaksana.

"Pemilu ini, pemilu terumit dan paling kompleks di dunia. Melibatkan perhatian dan tenaga jutaan orang. Kampanye yang melelahkan karena waktu yang lama," imbuhnya. 

Selain itu kata Hendrikus, pemilu ini sulit juga karena  ada 5 kotak suara. Para lansia dinilai kesulitan karena tidak mengenal figur. Tidak ada foto caleg juga menghambat sosialisasi. "Tingkat elektabilitas sulit terukur jika faktor sosialisaai figur kurang, dan sosialisasi pemilu juga kurang untuk kaum orang kebanyakan," sebutnya.

Menurut Hendrikus Clement, pemilu ini juga menguras APBN yang sangat besar.  Dengan partai yang banyak lebih dari lima partai, maka tingkat kompetisi menjadi sengit di Kabupaten/Kota. 

"Tidak ada forum juga dimana caleg partai bisa berdebat yang difasilitasi KPUD,  sehinggs pilih kucing dalam karung tidak bisa dihindari," cetusnya. 

"Kedepannya,  jumlah Parpol cukup lima atau tujuh saja. Dengan demikian figur baik di masyarakat bisa terakomodir. Asalkan parpol terbuka dengan masuknya kader baik dan tidak mengunci pintu agar kader baik di luar tidak masuk ke partai," ucapnya lagi. 

Sementara terkait dengan banyaknya korban yang berjatuhan saat menjalankan tugas selama pemilu berjalan. Terutama pada hari pencoblosan dan pemungutan suara, untuk kedepannya Hendrikus meminta agar penyenggaraan Pemilu sampai pada tingkat KPPS harus diisi dengan orang yang sehat. 

"Jangan hanya caleg dan peserta pemilu yg dicek kesehatannya, penyelenggara pemilu juga sampai tingkat KPPS harus diisi orang orang yang sehat," saran Hendrikus. 

Ia juga mengusulkan petugas KPPS untuk tidak   merokok dan suka minum alkohol. Untuk kasus-kasus yang terjadi mestinya kata Hendrikus ada petugas kesehatan yang standby. Apakah itu perawat atau dokter untuk mengecek kondisi kesehatan petugas.

"Kejadian itu memang musibah, tetapi bisa diantisipasi apabila rekrutmen dan pelaksanaan sungguh cermat dalam memilih orang. Faktor usia juga perlu dipertimbangkan karena penghitungannya sampai dini hari. Jadi kita harus belajar dari kasus ini," ucap mantan Ketua  DPRD Kabupaten Bengkayang Pertama tahun 1999 ini.

Hendrikus berharap kedepannya, baik  Parpol dan penyelenggara Pemilu sampai tingkat desa dan TPS harus terseleksi secara profesional dan demokratis.

"Kiranya pemilu ini bisa melahirkan pemimpin negeri yang sungguh menghargai teladan dan pelayan rakyat. Ia membawa bangsa pada keselamatan dan kebahagiaan bersama. Bukan menggiring pada kejahatan dan keterpurukan bangsa. Setia pada Pancasila dan tanpa diskriminasi untuk semua orang," tuturnya.

Ia juga berharap untuk  legislatif, kiranya menjadi peran check and ballance yang bermutu, bukan membeo dan ikut praktek tidak bertanggungjawab dengan eksekutif dan birokrat yang bermental korup. "Menyuarakan pembangunan untuk seluruh rakyat," ujarnya.

Sementara itu,  anggota DPRD kabupaten Bengkayang, Aloysius mengapresiasi untuk Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Bengkayang yang telah melaksanakan perhelatan Demokrasi yang tetap aman terkendali di Kabupaten Bengkayang.

"Pemilu 2019 ini adalah pemilu yang unik,  unik pertama kalinya pemilu serempak tahun 2019.  Tahapan pemilu secara umum sudah bagus,  kita sangat apresiasi untuk KPUD Bengkayang.  Untuk Pilpres, Pilleg DPD, DPR RI dan DPRD Provinsi tidak ada kendala," ujarnya.
 
Namun untuk DPRD Kabupaten kata Aloysius, menjadi  tantangan bagi KPUD Bengkayang. Karena  pendaftar peserta pemilu hingga pengumuman DCT di tambah lagi proses pendataan pemilih merupakan kerja berat bagi KPU. 

Termasuk pada  tahapan kampanye yang dimulai sejak tanggal 23 September 2018 sampai berakhir pada  13 April 19. Kemudian  masuk masa tenang adalah kerja keras  bagi KPU, sampai pada tahapan  distribusi surat suara di daerah yang sulit di jangkau . 

"Belum lagi harus mempersiapkan TPS dan menyebar surat undangan untuk memilih hingga pelaksanaa pemungutan surat suara," katanya.

Disisi lain, tahapan kampanye yang panjang cenderung melelahkan.  "Masa kampanye yang sangat melelahkan. Tujuh bulan waktu yang panjang,  menguras energi baik bagi penyenggara maupun peserta pemilu," ucapnya kembali.

Selain itu Ia juga menyoroti sistem zona pemasangan Alat Peraga Kampanye yang tidak efektif. Pemasangan sistem zona, dan di luar zona dengan izin pemilik lahan.  

"Di zona bebas masih harus izin dengan pemilik lahan walaupun tidak tertulis. Di luar zona arus ada surat pernyataan tidak keberatan dari pemilik lahan. Ini artinya sama saja.  Kedepan harus ada aturan yang lebih tegas lagi supaya lebih tertib," serunya. 

Selanjutnya sampai  memasuki masa tenang, masih banyak APK yang belum di bongkar. Kemudian untuk  pencoblosan dan Perhitungan surat suara. Aloysius menilai lima kartu atau surat suara terlalu banyak dan sangat merepotkan pemilih dan pertugas di TPS.  Akibatnya, memakan waktu yang lama saat pencoblosan, terlebih saat perhitungan yang memakan waktu sangat panjang.

"Kasihan petugas di TPS harus kerja ekstra mulai pagi ke pagi lagi baru selesai.  Sementara honor yang di terima tidak dibanding dengan kerja keras yang harus di laksanakan," imbuhnya. 

Sampai saat ini saja masih berlangsung perhitungan di tingkat kecamatan, bahkan ada yang baru akan memulai hari senin. Dan ada beberapa TPS harus melakukan pencoblosan ulang,” ulas Aloysius 

 Untuk itu, Aloysius meminta semua element harus sabar menunggu pengumuman resmi dari KPU. Tidak perlu saling mengklaim kemenangan. 

Terakhir, Aloysius mengaku sangat salut untuk KPUD, Bawaslu, Panwaslu,TNI dan Polri yang sudah mengamankan Pemilu hingga tahapan saat ini masih dalam situasi aman dan terkendali. 

"Hasil nya kita bersabar tunggu selesai rekapitulasi dan pengumuman dari KPU," pintanya. 

Ia juga berharap, apapun hasilnya pemilu, bahwa inilah hasil dari pesta demokrasi, pesta rakyat yang di sambut dengan suka cita.  Biarkan rakyat yg memutuskan berdasarkan hati nurani berlandaskan Ketuhanan sesuai sila pertama Pancasila. 

Namun masih disayangkan politik uang menciderai tatanan demokrasi yang sesungguhnya. "Money politic bagaikan hantu, sulit di buktikan dan sulit untuk di basmi di bumi pertiwi, khususnya di kabupaten Bengkayang. Berharap kedepan lebih baik dari hari ini," tutupnya. (nar/nak)