Jumat, 13 Desember 2019


Siswa di Bengkayang Tetap Coret Baju dan Konvoi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 1804
Siswa di Bengkayang Tetap Coret Baju dan Konvoi

AKSI KONVOI- Sejumlah siswa di Bengkayang tampak melakukan aksi konvoi usai menerima surat kelulusan ujian nasional.


BENGKAYANG, SP. Sekolah tingkat SMA di Bengkayang serentak mengumumkan kelulusan pada sore Senin (13/5) sekira pukul 15.00 wib.  Pihak sekolah meminta agar siswa tidak melakukan konvoi dan coret-coret baju sekolah dengan cat Pylox.

Meski sudah dilarang, aksi konvoi dan coret-coret baju masih saja terjadi. Hal itu tampak dari beberapa siswa-siswi yang melakukan konvoi setelah menerima amplop kelulusan dari sekolah masing-masing. Konvoi tersebut berlangsung sampai menjelang Magrib. Dan dilanjutkan malam setelah sholat isya.

Beberapa siswa tidak hanya mencoret baju, tapi juga mengoyak celana dan rok. Baik itu laki-laki dan perempuan. Aksi-aksi tersebut sudah dilarang oleh pihak sekolah, dan karena terlalu senang larangan itu tidak digubris oleh sejumlah siswa.
 
Karena kesal dengan aksi siswa tersebut,  Guru Mata Pelajaran Agama Khatolik Poulinus,  bersama pengawas sekolah dan rekap Absen Jais SMA Borneo Bengkayang sempat menegur dan melempar siswa dengan batu karena tidak menyerahkan cat Pylox, dan melarang untuk mencoret baju dan konvoi.  Siswa yang melawan dan mencoret baju diancam untuk ijazahnya ditahan. 

"Kalau tak dengar nanti pas ambil ijasah saja kita tahan," katanya. 

Sementara itu,  Kepala Sekolah SMA Borneo Bengkayang, Wardi saat memberikan pengarahan kepada 132 siswa-siswi dan para wali yang hadir untuk menerima amplop kelulusan, untuk menerima hasil kelulusan dengan rasa syukur dan tidak konvoi. 

Wardi meminta agar siswa-siswi yang lulus tidak melakukan aksi yang berlebihan. Karena dapat merusak diri sendiri. Ia meminta agar seragam sekolah tetap bersih, dan bisa digunakan untuk adik tingkat atau keluarga yang membutuhkan. 

"Lebih baik seragam kita berikan pada adik kita, atau keluarga kita yang masih sekolah yang butuh pakaian. Dari pada dicoret-coret, dan di koyak," tegasnya.

Dijelaskan Wardi, kelulusan di sekolahnya tentu adalah murni hasil nilai dari UNBK dan ujian sekolah. Pihak sekolah tidak bisa membantu apabila sampai ada yang tidak lulus. 

"Kelulusan itu diri sendiri yang menentukan. Asalkan mengikuti semua peraturan dan prosedur yang ada di sekolah," katanya. 

Lulus SMA katanya, bukan akhir dari perjuangan, namun justru awal dari perjuangan selanjutnya. "Kalian tidak boleh hanya sampai disini saja. Masih panjang perjuangan kalian semua, jadi manfaatkan kelulusan ini dengan baik. Banyak beasiswa yang disediakan pemerintah, silahkan ikut. Kalau pintar bisa kuliah gratis," serunya. 

Sementara itu, Dedi salah satu siswa mengaku tetap mencoret baju dan ikut konvoi sebagai bentuk rasa senang atas hasil ujian mereka.

"Ga serulah kalo ga Coret baju. Tapi tidak konvoi berlebihan. Nanti baju yang sudah di coret, ditanda tangan sama teman-teman bisa disimpan di lemari sebagai kenang-kenangan," kata Dedi.

Dedi dan beberapa temannya yang lain  memang tidak ikut aksi konvoi, dia hanya mencoret-coret baju, disekitar gedung sekolah. Pasalnya, ia hanya ingin merasakan kelegaan kebahagiaan setelah lulus dari bangku SMA. (nar/nak)