TNI Tidak Mengasak Hutan Adat Gunung Bawang

Bengkayang

Editor elgiants Dibaca : 79

TNI Tidak Mengasak Hutan Adat Gunung Bawang
BUKTI - Surat bukti yang ditunjukan Faisal saat klarifikasi kepada Suara Pemred
BENGKAYANG, SP-  Anggota TNI Batalyon 641 Singkawang, Faisal melakukan klarifikasi atas pemberitaan yang menyeret namanya atas penangkapan kayu yang dianggap ilegal dan diambil di hutan adat Gunung Bawang Kabupaten Bengkayang.

Sebelumnya pemberitaan ini diterbitkan oleh harian Suara Pemred Kalbar dengan judul berita: Oknum TNI Gasak Kayu di Wilayah Hutan Adat Bengkayang yang terbit pada tanggal (15/5) lalu. 

Berita ini diterbitkan dengan merujuk pada keterangan sopir truk yang berhasil diamankan warga desa Sakataru, Kecamatan Lembah Bawang Kabupaten Bengkayang sehari sebelumnya sebagaimana disampaikan oleh Kepala Desa setempat.

Berdasarkan keterangan sopir kata Kepala Desa, kayu tersebut dimiliki oleh Faisal yang merupakan anggota TNI yang bertugas di Batalyon 641 Singkawang. 

Faisal mengaku tidak terima atas apa yang disampaikan oleh kepala desa Sakataru, Sugoroto saat aksi penagkapan kayu yang diduga ilegal tersebut. Faisal beralasan keterangan yang diberikan Kepala Desa tidak sesuai dengan kebenarannya.  

Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh Faisal kepada Wartawati Harian Suara Pemred di Bengkayang, Narwaty pada, Senin (20/5).

"Tidak benar adanya apa yang disampaikan oleh narsum. Saya hanya membeli kayu pada masyarakat. Saya tidak ngasak hutan adat. Saya ingin agar nama baik saya kembali, nama kesatuan saya juga kembali," ujarnya Faisal. 

Klarifikasi bertujuan ini lanjut Faisal agar pemeberitaan yang telah dimuat bisa dihapus. Karena Ia menilai berita itu tidak betul adanya. Menurut Faisal, Ia  hanya membeli dengan warga di Sakataru. Dengan dokumen yang ada dan lengkap, untuk membangun rumah. 

"Saya hanya mau agar pemberitaan tersebut di hapus, sehingga nama baik saya dan kesatuan 641  juga kembali," tuturnya. 
Faisal mengaku tidak mau dituduh atas apa yang disampaikan oleh kepala Desa. 

"Saya tidak mau ditunduh mengasak hutan adat. Karena saya hanya pembeli, dan numpang lewat di desa Sukataru. 

“Saya berharap, masalah ini bisa selesai dengan baik. Nama baik dan kesatuan kembali,” pungkasnya. (nar/nak)