Terpuruknya Pusat Ekonomi Pesisir Utara

Bengkayang

Editor elgiants Dibaca : 78

Terpuruknya Pusat Ekonomi Pesisir Utara
MANGROVE - Salah satu pemandangan di pantai Pangsuma Sungai Duri Kabupaten Bengkayang yang juga dikelilingi oleh mangrove.
Abrasi merupakan momok yang cukup menakutkan bagi sebagian warga pesisir utara Kalimantan Barat. Berdasarkan data pengamatan WWF-Indonesia (2009) setidaknya terdapat 193 km pesisir utara Kalimantan Barat yang terancam abrasi.

Salah satu wilayah kritis tersebut terdapat di Desa Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang. Sejak terpapar abrasi sekitar 25 –30 tahun yang lalu terlihat nyata berdampak buruk terhadap perkembangan daerah. 

Wilayah yang sebelumnya menjadi pusat perekonomian di Pesisir Utara kini, semakin terpuruk akibat rusaknya alam, khususnya wilayah pesisir pantai. Penangkapan ikan menurun drastis, jalan raya utama hancur akibat ganasnya ombak laut.

Cerita para orang tua menyebut bahwa dulunya daratan sepanjang pesisir Kabupaten Bengkayang  menjorok ke laut. Bahkan konon kabarnya, 40-50 tahun yang lalu untuk menyeberang ke pulau- pulau cukup dengan berjalan kaki di musim air laut dangkal, yang berjarak lebih dari dua kilometer. 

Disepanjang garis pantai waktu itu ditumbuhi vegetasi mangrove dengan formasi lengkap termasuk bakau, api-api, nipah dan sebagainya. Kemudian perkembangan daerah semakin maju. Sungai Duri berkembang menjadi kota pelabuhan yang disinggahi banyak kapal pedagang dari luar bahkan dari pulau Jawa dan Riau. Perkembangan itu rupanya berdampak negatif terhadap keberadaan ekosistim mangrove. 

Mulai dari alih fungsi lahan menjadi pemukiman baru, hingga penebangan bakau untuk keperluan kayu bakar yang diperlukan untuk rumah tangga dan keperluan usaha. Semua itu menyebabkan terjadinya degradasi besar- besaran pada formasi mangrove yang selama ini menjadi benteng pelindung Sungai Duri dan sekitarnya.

Akibatnya terjadi bencana abrasi yang masif. Daratan yang hilang meliputi area seluas puluhan kilometer persegi, termasuk didalamnya adalah perkebunan warga, fasilitas umum mulai dari jalan raya, sekolah, puskesmas dan lain sebagainya. 

Banyak warga yang terpaksa mengungsi ketika ombak ganas menerjang. Bahkan memilih untuk pindah. Bermukim ditepi pantai tak membuat aman, selalu saja rasa kekhawatiran menghampiri. Apalagi dimusim pasang air laut. Itu yang dirasakan bertahun-tahun oleh masyarakat di Desa Sungai Duri. Tidak ada tindakan alternatif untuk mencegah abrasi. Baik pemerintah maupun masyarakatnya. 

Ketika abrasi sudah dititik yang parah, tahun 2009  mulai ada gerakan kepedulian baik itu dari kelompok masyarakat maupun pemerintah. Salah satu perintis gerakan penyelamatan mangrove itu adalah komunitas GAPSEL Jalan Lama Desa Sungai Duri.

Anggota GAPSEL adalah komunitas  pemuda yang rumahnya menjadi korban abrasi pantai. Sehingga harus pindah ke daerah yang lebih jauh dari bibir pantai. Tujuan awalnya memang murni untuk pelestarian serta mencegah abrasi.

Seperti yang diketahui,  Desa Sungai Duri adalah salah satu desa terbesar di kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang. Dengan luas wilayah mencakup 3.000 kilo meter persegi dan jumlah penduduk ±13.000 jiwa. Sebagian besar penduduk Desa Sungai Duri menggantungkan hidupnya sebagai nelayan penangkap ikan. Sebagian lagi mengusahakan lahan pertanian dan perkebunan. 

Selain itu profesi utama warga Desa Sungai Duri adalah sebagai pedagang. Dengan letak geografisnya yang strategis yaitu terletak di antara kota-kota besar seperti Singkawang dan Pontianak, Desa Sungai Duri dahulu pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat.

Sungai Duri merupakan kawasan yang perlu diselamatkan dari abrasi. Sebagai langkah upaya untuk penyelamatan,  tahun 2015, WWF Indonesia bersama Karang Taruna Akar Bahar  menanam 15.000 bibit pohon mangrove untuk penyelamatan diri dari  ancaman abrasi.

Namun seiring waktu, lokasi disekitar ditanamnya mangrove tersebut menjadi daya tarik pengunjung untuk berekreasi. Kelompok GAPSEL pun bertransformasi menjadi Karang Taruna Akar Bahar supaya keberadaannya menjadi legal dan diakui. Setelah berjalan sekian tahun, KT Akar Bahar juga merambah ke bidang lain seperti sosial, olahraga dan UKM, maka dibentuklah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Akar Bahar, dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Sabuk Mangrove untuk menggarap ekowisata mangrove di Sungai Duri.

Pokmaswas bergerak di bidang pelestarian nya. Sedangkan Pokdarwis menggarap sektor pariwisata nya. Namun keduanya saling bekerjasama dibawah naungan Pemerintah Desa Sungai Duri.

Kepada desa Sungai Duri, Rezza Herlambang yang juga salah satu perintis mangrove, saat itu Ia belum menjadi Kepala Desa menyatakan, hingga saat ini baik itu para nelayan, masyarakat, desa yang ada di Sungai Duri merasakan betul manfaat secara ekonominya. Pasalnya, Ekosistim di kawasan pesisir sudah mulai seimbang lagi. Artinya masyarakat nelayan sudah mendapatkan dampak positif dengan keberadaan ikan, udang dan kepiting yang punya nilai ekonomis tinggi di sekitar hutan bakau.

Sementara itu, beberapa kelompok pengolah hasil laut (terdiri dari istri-istri nelayan) yang dibentuk oleh desa sudah mampu menghasilkan produk olahan seperti kerupuk ikan, dan sirup mangrove yang mampu menambah penghasilan keluarga. 

"Hasil olahan dari laut tersebut sekarang dipasarkan oleh Bumdes di toko galeri produk UMKM di pasar," kata Rezza ditemui belum lama ini. (narwaty)  bersambung..