Minggu, 20 Oktober 2019


Masyarakat Sui Duri Mulai Rasakan Dampak Positif

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 4241
Masyarakat Sui Duri Mulai Rasakan Dampak Positif

MANGROVE - Salah satu pemandangan hutan mangrove yang tampak asri, saat ini masyarakat Desa Sungau Duri Kabupaten Bengkayang mulai merasakan dampak kehadiran hutan mangrove di desa mereka. Ist

Kepada desa Sungai Duri, Rezza Herlambang yang juga salah satu perintis mangrove saat dirinya belum menjadi Kepala Desa menyatakan, hingga saat ini baik itu para nelayan dan masyarakat desa yang ada di Sungai Duri merasakan betul manfaat mangrove secara ekonomi. 

Pasalnya kata Rezza, ekosistem di kawasan pesisir sudah mulai seimbang lagi. Artinya masyarakat nelayan sudah mendapatkan dampak positif dengan keberadaan ikan, udang dan kepiting yang punya nilai ekonomis tinggi di sekitar hutan bakau.

Sementara itu, beberapa kelompok pengolah hasil laut (terdiri dari istri-istri nelayan) yang dibentuk oleh desa sudah mampu menghasilkan produk olahan seperti kerupuk ikan, dan sirup mangrove yang mampu menambah penghasilan keluarga. 

"Hasil olahan dari laut tersebut sekarang dipasarkan oleh Bumdes di toko galeri produk UMKM di pasar," kata Rezza.

Selanjutnya, untuk kawasan penyangga hutan bakau mulai dikunjungi orang untuk rekreasi. Warung yang dikelola oleh anggota Pokdarwis selalu ramai dikunjungi. Masyarakat sekitar pun mendapat dampak positif dengan digarapnya ekowisata mangrove ini. 

"Kedepan akan kita kembangkan lagi sehingga mampu menjadi destinasi wisata favorit di pesisir kabupaten Bengkayang," ucapnya. 
Pemerintah Desa telah berkomitmen untuk melestarikan keberadaan mangrove. Bahkan hal itu sudah dilakukan dan dimasukan ke RPJM 2016-2022. 

"Tahun ini kita rencana akan membangun jembatan Mangrove. Ini langkah untuk melirik sektor wisata mangrove. Kita sudah ajukan bantuan ke Pemprov, dan itu sudah disetujui. Kita juga Pemberdayaan dana desa, mengelola hasil laut, budidaya kepiting. Karena potensi dari mangrove tersebut," cetus Rezza. 

Dampak lain dari adanya  Ekowisata Mangrove ini, selain manfaat yang dirasakan oleh nelayan, para istri dalam kondisi sekarang ini  warga bisa mendapatkan uang dari wisatawan yang masuk ke kesana, dan desa bisa mendapatkan uang kas dari pemasukan tiket yang ada di situ. Warga di sana mulai berdaya dengan adanya wisata mangrove.

Impas positif begitu dirasakan oleh masyarakat. Untuk saat ini masyarakat sudah mendapatkan imbas positif ekowisata mangrove dari hasil warung maupun penjualan olahan hasil laut maupun mangrove. 

"Namun untuk pemasukan desa kita masih dalam tahapan persiapan Perdes tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove sudah dibuat.  Namun peraturan kepala desa tentang penerimaan sektor ini sedang digodok, sehingga nanti penerimaan tersebut mempunyai payung hukum yang jelas dan tidak dikategorikan sebagai pungli," jelasnya. 

Bahkan tahun 2019 ini,  desa memiliki target harus  sudah ada peraturan yang mengatur tentang  hal tersebut sehingga desa mendapatkan hasil dari penerimaan atau retribusi di kawasan ekowisata mangrove. (narwaty) bersambung..