Minggu, 22 September 2019


Oknum Aparatur Desa Cabuli Anak Bawah Umur

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 783
Oknum Aparatur Desa Cabuli Anak Bawah Umur

LUSTRASI – Kasus pencabulan tampak semakin meningkat, bahkan pelakunya kebanyakan adalah orang dekat korban. Di Bengkayang salah satu oknum Aparatur Desa Tangguh, Kecamatan Siding tega mencabuli anak tirinya sediri yang masih berstatus pelajar.

BENGKAYANG, SP- Kasus asusila kembali terjadi di Kabupaten Bengkayang, pelaku adalah Atinus Yeh (40, bapak tiri korban) yang juga merupakan  pengurus Desa sebagai  Kaur Pembangunan Desa di Desa Tangguh, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. 

AY tega menyetubuhi anak tirinya LS (18), yang masih di bawah umur dirumah pelaku sendiri, Dusun Betung, Desa Tangguh, kecamatan Siding,  Kabupaten Bengkayang, Kamis (30/5).

Mengetahui hal tersebut, ibu korban yang juga istri AY, Desi Kong (37) melaporkan ke Polsek Siding, Rabu (19/6). 

Kapolsek Siding, IPDA Aaf Affian saat dikonfirmasi Minggu (23/6/) membenarkan terjadinya  dugaan tindak pidana pencabulan anak dibawah umur.

"Ia benar, telah terjadi dugaan tindak pidana persetubuhan dan pencabulan terhadap anak dibawah umur, pelaku merupakan ayah tiri korban," jelas Aaf.

Kapolsek Siding mengatakan, korban LS anak Acai (Alm) adalah anak dibawah umur dan masih berstatus pelajar. Pelaku sudah berulang kali melakukan tindakan tidak terpuji itu terhadap anak tirinya. 

"Sudah berulang kali, berawal pada bulan Desember tahun 2017, Januari 2018, Desember 2018 dan terakhir pada tanggal 30 Mei 2019, dirumah pelaku di Dusun Betung, Desa Tangguh, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang," ungkapnya. 

IPDA Aaf Affian juga menjelaskan, dari keterangan korban, saat  AY hendak melakukan persetubuhan terhadap LS selalu melakukan pemaksaan dan ancaman, bahkan dengan kekerasan.

"Saat ini pelaku sudah di proses dan ditahan di rumah tahanan Polres Bengkayang, dan untuk penanganan kasus ini Polsek Siding bekerjasama dengan Unit PPA Polres Bengkayang," tuturnya. 

Atas perbuatannya berdasarkan bukti dan hasil pemeriksaan yang dilakukan Kepolisian, pelaku diduga telah melakukan tindak pidana persetubuhan dan atau pencabulan terhadap anak dibawah umur sebagaimana dimaksud dalam pasal 81 ayat (1) dan (2) jo pasal 76 D dan atau pasal 82 ayat (1) jo pasal 76 E Undang Undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 tahun 2002 tetang Perlindungan Anak.

“Pelaku diancam dengan hukuman penjara 15 tahun," tutup Aaf.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Bengkayang, Eddy turut prihatin atas kasus asusila yang dilakukan oleh  oknum aparat desa. Ia berharap kasus  yang telah ditangani oleh Kepolisian agar segera diselesaikan perkaranya, sehingga dapat menjadi efek jera bagi pelaku yang bersangkutan. 

"Yang memprihatinkan justru korban anak dibawah umur tersebut, karena akan mengakibatkan trauma dalam kehidupannya, kalau bisa,  saya berharap ada pendampingan dari psikaiater yang di fasilitasi Pemerintah Daerah terhadap korban yang bersangkutan sehingga membantu untuk memulihkan trauma yang dialaminya," pinta Eddy. 

Selanjutnya kata Eddy,  kepada aparat desa yang menjadi pelaku tindak pidana persetubuhan dan atau pencabulan terhadap anak dibawah umur tersebut segera diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatannya. (nar/nak)

Minta Pelaku Ditindak Tegas

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang, DR. Yan tirut angkat bicara menyikapi kasus asusila yang menimpa salah satu pelajar di Bengkayang. Ia mengatakan pihaknya sudah mengetahui adanya tindakan asusila, dan korban di bawah umur, serta adanya kekerasan dalam rumah tangga. 

Tentunya kata Yan, sebagai lembaga pendidikan, yang menjadi tempat bermainnya anak-anak, tempat dibesarkannya anak-anak, dan tempat untuk  mendidik bahkan tempat untuk menghidupkan anak-anak untuk tumbuh menjadi anak yang berguna bagi bangsa sangat menyesalkan perbuatan tersebut. 

"Kalau dilembaga sekolah ada tindakan kekerasan, tolong lapor kami. Kalau ada di sekolah tentu kita akan tindak sesuai dengan aturan yang berlaku. Dan begitu juga jika itu terjadi di dalam keluarga, dan korbannya ada siswa-siswi yang masih pelajar di kabupaten Bengkayang, maka ini sangat kita sayangkan, dan kutuk hal-hal demikian," ujar Yan. 

Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa keluarga, saudara adalah tempat tumbuh kembang seorang anak, untuk lebih baik kedepannya. Namun, atas kejadian tersebut Ia mengaku sangat menyayangkan, karena pelaku adalah orang terdekat.  

"Kalau dalam keluarga sudah seperti ini, tentu kita mengutuk keras. Bagi pelakunya kami minta untuk ditindak keras sesuai dengan peraturan perundangan pelindung anak. Karena kita tidak mau usia anak yang masih sekolah trauma, sebab sesungguhnya mereka itu memiliki masa depan dan merekalah generasi yang harus membangun Bengkayang. Tapi kalau mereka sudah trauma, dan tak punya masa depan bisa, dan mengawali rasa trauma itu ada tindakan resiko yang besar," ucapnya. 

Yan berharap jika ada kasus serupa terjadi pada anak-anak yang masih berstatus pelajar, dirinya meminta agar ditindak secara tegas dan dihukum. 

"Ini menjadi pelajaran bagi orangtua lain, bagi bapak tiri, bagi mama tiri dan bagi masyarakat kabupaten Bengkayang jangan main-main dengan tindakan asusila dan merusak generasi bangsa. Sayangi lah anak-anak kita," tutupnya. (nar/nak)