Pembangunan Pasar Teriak dikorupsi

Bengkayang

Editor elgiants Dibaca : 156

Pembangunan Pasar Teriak dikorupsi
KORUPSI - Pasar tradisional di Desa Darma Bhakti, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang tampak terbengkalai. Polisi masih menyelidiki dugaan kasus korupsi pembangunan pasar yang sudah di resmikan sejak 2015 lalu ini.
BENGKAYANG,SP - Kepolisian Resor Bengkayang saat ini tengah menyelidiki dugaan tindak pidana korupsi proyek pasar tradisonal yang dibangun  di Desa Darma Bhakti , Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang.

Dugaan korupsi proyek dengan penanggung jawab program atau kegiatan adalah Koperasi Sepakat Bersama Kabupaten Bengkayang tersebut ditafsirkan merugikan keuangan negara sebesar Rp900 juta rupiah.

Proses proyek pembangunan pasar rakyat tersebut sampai saat ini belum di fungsikan, sehingga menyebabkan sejumlah kontruksi bangunan mulai rusak. 

Kepala Kepolisian Resor Bengkayang, AKBP Yos Guntur Yudi Fairus Susanto mengatakan, dalam satu tahun Polres Bengkayang menargetkan minimal tiga penanganan kasus tindak pidana  korupsi, dan pada tahun 2019 ini sudah tiga kasus dugaan korupsi yang sedang di proses. Salah satunya proyek bangunan pasar tradisional di Desa Darma Bhakti tersebut.
 
"Temuan dugaan korupsi pembangunan proyek pasar rakyat ini di tafsirkan merugikan keuangan negara sebesar Rp900juta, dan sudah ditemukan sejumlah bukti-bukti," ungkap Kapolres, Kamis (27/6). 

Menurutnya, Polres Bengkayang sudah melakukan serangkaian penyelidikan atas dugaan korupsi tersebut sejak tahun 2018 lalu. 

Sementara itu, pihak Koperasi Serba Usaha Sepakat Bersama atau Kosama yang bertanggung jawab atas pembangunan pasar tersebut, Heru Kamaruzaman mengatakan, sebagai warga negara yang baik, tentu tetap patuh dan tunduk pada aturan yang berlaku. 

Terkait dengan adanya dugaan tindak pidana korupsi yang disampaikan pihak kepolisian, tentu  tetap mengikuti proses hukum untuk bersama-sama mencari kejelasan.  Ia menjelaskan, dari tahun 2016 sampai sekarang terus menerus memberikan laporan terkait hal tersebut di Polres Bengkayang. 

Heru menegaskan,  berdasarkan Laporan Pelaksanaan Kegiatan Program Pengembangan Revitalisasi Pasar Tradisional Koperasi Sepakat Bersama Kabupaten Bengkayang tahun Anggaran 2013 menyebutkan  pengembangan pembangunan  Revitalisasi pasar tradisional yang dananya bersumber dari hibah Kementerian Koperasi. 

"Itu bukan pasar rakyat, tapi itu pasar tradisional, dengan menyebut kan jenis pekerjaan revitalisasi yang sumber dananya dari APBN bantuan hibah atau Bansos kementerian koperasi  UKM RI tahun anggaran 2013 sebesar Rp. 900juta rupiah," ungkap Heru yang juga merupakan Ketua Pengerus Koperasi KOSAMA. 

Terkait dengan adanya hasil audit yang disampaikan pihak kepolisian, sampai sekarang ini pihaknya belum menerima kesalahan dalam  laporan dari hasil audit temuan BPKP. Namun ia menerima laporan dari penyidik adanya dugaan  temuan sebesar Rp900juta. 

"Tapi  bagi kami jika dugaan kerugian negara Rp900juta berarti itu lost total dari anggaran yang ada. Kami pada prinsipnya sangat keberatan sebenarnya, kita harus melalui prosedur dan proses-proses yang ada. Namun kami juga berterima kasih pada pihak kepolisian yang telah mengembalikan nama baik kami , karena selama ini stigma di internal kami juga sudah cukup berat," ujar Heru. 

Kata Heru, Koperasi Kosama merupakan  koperasi yang betul-betul aktif keanggotaannya, dan kepengurusannya. Seperti pada tahun 2013, koperasi Kosama memang mengajukan pembiayaan untuk pembangunan pasar tradisional. 

Dalam proposal yang diajukan pihak koperasi dalam melakukan revitalisasi pasar tradisional diperuntukkan untuk membangun 20 kios dengan ukuran 2×3 dan itu sudah di SK kan, dan di sepakati.

"Pada tahun 2013 juga melalui rapat luarbiasa kami bersama beberapa pengurus dan perwakilan anggota berencana membangun 40 kios dengan ukuran 4×3. Berkenaan dengan itu, lokasi kami tidak cukup untuk membangun 40 kios, jadi mungkin kita bertahap dengan membangun yang ada dulu 28 kios, sementara juga dalam proposal yang diajukan itu ada 20 kios dengan nilai Rp900juta," ceritanya. 
 
Setelah itu, tahun 2013 koperasi mulai melakukan pembersihan lahan, dan tidak minta ganti rugi dengan negara, pasalnya pasar itulah aset koperasi Kosama kedepannya. Dalam meng-acc  atau meloloskan proposal tersebut pihak koperasi serahkan pada pihak pemerintah, dalam hal ini Kementerian Koperasi. Pasar tradisional milik Kosama tersebut sudah di resmikan pada tahun 2015 lalu namun hingga kini belum di fungsikan karena berbenturan dengan proses hukum yang sedang berjalan. (nar/nak)

Berharap Penaganan Kasus Cepat Berakhir

Salah satu mahasiswa asal Bengkayang, Palentinus berharap proses penyelidikan terhadap dugaan korupsi proyek pasar tradisional di Desa Darma Bhakti , Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang bisa berjalan serius untuk mencari kebenaran.

“Kita berharap ini benar-benar di usut jika memang ada bukti dugaan korupsi atas proyek pasar tradisional itu,” kata Palentinus di Pontianak, Kamis (27/6).

Lebih lanjut mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi yang ada di Kota Pontianak ini menyebut bahwa kehadiran pasar tersebut bisa saja sangat dibutuhkan oleh masyarakat maupun pedagang. Namun lantaran masih berpekara hukum menjadi terhambat.

“Makanya kita berharap ini bisa clear secepatnya agar pasar bisa segera di fungsikan karena juga sudah diresmikan,” imbuhnya.

Palentinus berharap kedepan tidak ada lagi yang mencoba untuk berani melakukan korupsi terhadap proyek pembangunan. Terlebih proyek tersebut untuk kepentingan orang banyak.

“Janganlah, jangan ada korupsi proyek ini dan itu di Bengkayang. Kita ingin Bengkayang maju dan bebas dari praktik-pratik KKN,” harapnya. (nak)