Nasib Gunung Bawang Memprihatinkan

Bengkayang

Editor elgiants Dibaca : 263

Nasib Gunung Bawang Memprihatinkan
KUPU-KUPU - Salah satu jenis kupu-kupu cantik penghuni Gunung Bawang. Keberadaannya kini terancam punah lantaran di buru kolektor binatang. Selain sejumlah hewan, hutan Gunung Bawang juga terancam akibat ilegal logging, padahal Gunung Bawang masuk dalam k
BENGKAYANG, SP - Maraknya aktivitas ilegal logging di hutan lindung Gunung Bawang meresahkan masyarakat terutama para penggiat dan pecinta alam. Pasalnya, aktivitas tersebut dapat  merusak ekosistem yang ada, terutama untuk spesies tertentu.

Masifnya pemburuan di kawasan gunung Bawang beberapa waktu lampau, dan sekarang (masih) menyisakan kekhawatiran yang terus menerus,  bahkan pemburuan tersebut sudah menyasar dikawasan lereng pegunungan. Hal ini makin memperparah keadaan, dan semestinya segera  diambil tindakan untuk mencegah keberlanjutan.

Tidak hanya ilegal logging, juga terjadinya pemburuan terhadap spesies serangga dan kupu-kupu di area hutan lindung,  hutan produksi dan hutan adat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Ketua Komunitas Pencinta Alam Tana'k Panyanggar Kalbar, Hatari atau yang akrab disapa Hata mencurahkan kekhawatirannya akan pemburuan masif yang dilakukan oleh oknum-oknum terntu dikawasan Gunung Bawang. 

Menurutnya, sudah beberapa kali aparat penegak hukum mengadakan razia terkait dengan ilegal logging di kawan gunung Bawang, namun hal tersebut tidak dapat menuntas permasalahan yang ada dilapangan. 

"Ada baiknya, selain dengan cara penegakkan hukum juga dibarengi dengan penyadaran dan pemberdayaan masyarakat disekitar kawasan penyangga hutan lindung Gunung bawang," ujarnya, Minggu (30/6).

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, telah menghilangkan kewenangan pengelolaan hutan tersebut di tingkat Kabupaten Kota.  Menurut Undang-undang ini, kewenangan pengelolaan hutan dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi. Hal ini tentu membuat keresahan tersendiri bagi Kabupaten/Kota dalam pengelolaan kawasan hutan.

"Sebagai sebuah Komunitas, kita selalu berusaha memberi informasi dan sosialisasi kepada masyarakat lewat tatap muka langsung dan media sosial, bahwa betapa pentingnya menjaga kelestarian ekosistem. Apalagi diarea kawasan hutan lindung, yang tentu ada aturan yang membatasi pemanfaatan dan pemungutan hasil hutan," serunya. 

Di gunung Bawang, kata Hata tidak hanya terjadinya ilegal logging tapi juga adanya pemburuan terhadap serangga dan kupu-kupu. Jika hal itu dibiarkan terus menerus justru akan menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem alam dan manusia yang hidup bertopang dari alam itu sendiri. 

"Sangat disayangkan, apabila hal tersebut terus mengancam populasi spesies yang berperan besar sebagai penyeimbang alam dalam rantai ekosistem yang menentukan hijau dan lestarinya alam," katanya. 

Pentingnya menyelamatkan keberadaan Kupu-kupu, karena selain dikenal sebagai serangga yang sangat indah, penyerbuk tanaman dan membantu bunga-bunga berkembang menjadi buah, tapi  bagi petani, dan orang pada umumnya Kupu-kupu juga sangat bermanfaat untuk membantu jalannya penyerbukan tanaman.

Selain itu Kupu-kupu juga berfungsi menjaga kelangsungan ekosistem, bahkan dapat membantu para ilmuwan memantau perubahan iklim dan banyak lagi fungsi lainnya.

"Oleh karena keindahannya Kupu-kupu dan serangga sangat diburu oleh para kolektor dengan harga yang menggiurkan, bahkan untuk kupu-kupu atau serangga langka harganya bisa jutaan rupiah per ekor. Karena nilai bisnisnya menggiurkan, terjadilah perburuan liar yg tidak terkendali, dan bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan ekosistem," pungkas Hata. 

Berdasarkan UU No 23 tahun 2014 kewenangan pengelolaan hutan yang meliputi Pelaksanaan perlindungan hutan di hutan lindung dan hutan Produksi, pemanfaatan dan pemungutan hasil hutan ini menjadi kewengan Daerah Provinsi.

"Harapan dari kita di KPA, bahwa Pemprov bisa bersinergi dengan Pemkab yang melingkupi kawasan tersebut untuk bisa menyelesaikan dan memberi solusi permasalahan ini terutama menyelamatkan keberadaan ekosistem yang terdapat di Gunung Bawang. Misalnya dengan  penangkaran, budidaya dan pariwisata. Apalagi Gunung Bawang ini merupakan salah satu destinasi favorit para pecinta ketinggian (pendaki) dan komunitas-komunitas pecinta alam," harapnya. 

Beberapa jenis kupu-kupu yang terdapat di Gunung Bawang seperti Kupu-kupu jenis Trogonoptera (Kupu-kupu Tragon atau Gajah Brooke's Birdwing), yang terdapat sebagai CITES Alendiks II. Ada juga jenis  Troides Helena (Kupu-kupu Raja atau Common Birdwing), jenis ini  yang pernah terlihat tapi banyak lagi jenis lain, mungkin ratusan jenis, serta jenis serangga lainya. 

Kawasan hutan lindung Gunung Bawang melingkupi tiga Kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkayang, diantaranya Kecamatan Sungai Betung, Kecamatan Lembah Bawang dan Kecamatan Lumar, dengan luas areal kurang lebih 11.990 hektar. 

Tak heran jika Gunung Bawang menjadi kawasan hutan Lindung.  Tidak hanya terdapat jenis kupu-kupu yang cantik, juga ada maskot Kalbar yakni Enggang, Merak hutan (Ruai), dan macan Dahan (borneo leopard), serta masih banyak jenis-jenis flora dan fauna lainnya.

Khusus untuk keberadaan Enggang di Gunung Bawang  masih ada, dengan dugaan populasi yang terpantau oleh para pendaki dari komunitas Tana'k Panyanggar bisa kurang lebih 100an ekor untuk wilayah Gunung Bawang bagian Selatan sampai bukit Sekayok. (nar/nak)

Pemerintah Harus Bergerak Cepat

Salah satu mahasiswa asal Bengkayang, Imam mengaku turut prihatin atas nasib dan kondisi yang terjadi di kawasan hutan lindung Gunung Bawang. Menurutnya pemerintah harus mengambil langkah cepat bagi upaya menyelamatkan flora dan fauna disana.

“Jika hutan terus dibabat dan binatang yang ada disana terus diburu maka bisa di pastikan cerita tentang gunung bawang pelan tapi pasti hanya menyisakan kisah pengantar tidur,” ujar Imam.

Menurut Imam, perkembangan penduduk yang cepat menjadi salah satu pemicu mengapa gunung bawang terus di ekploitasi kekayaannya. Selain itu, kesadaran dan pemahaman yang minim soal ekosistem juga membuat para perambah hutan dan pemburu hewan menjadi begitu liar.

“Kita meminta kepada pemerintah agar segera menempatkan polisi hutan atau pengawas hutan diwilayah gunung bawang. Itu harus, jika tidak dalam waktu dekat pun gunung bawang hanya tinggal cerita,” pungkasnya. (nak)