Minggu, 15 Desember 2019


Berbahaya Untuk Dipertontonkan pada Anak

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 84
Berbahaya Untuk Dipertontonkan pada Anak

CAP GO MEH - Perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu perayaan yang diisi dengan penampilan antraksi Tatung dengan adengan exstrem. Pemerhati Kebudayaan dan Pendidikan Kabupaten Bengkayang, Hendrikus Clement menyerukan mengaku prihatin adengan seperti men

Pemerhati Kebudayaan dan Pendidikan Kabupaten Bengkayang, Hendrikus Clement, mengaku prihatin atas adegan yang dipertunjukkan diranah publik, konon yang di anggap sebagai "seni budaya atau adat". 

Menurutnya, adegan menyayat baik  tangan, perut, leher (badan) sebagai bentuk kekerasan. Namun atraksi tersebut justru kerap ditampilkan di setiap event-event tertentu. Entah itu perayaan Cap Go Meh, Karnaval, dan Parade-parade kebudayaan lainnya. Dalam dunia pendidikan pun tidak boleh, karena  itu merupakan bagian dari  adegan kekerasan. 

Mantan Ketua DPRD pertama Kabupaten Bengkayang ini meminta agar atraksi 'menyayat' dihentikan, terlebih acara tersebut dibawa ke ranah publik dan  disaksikan oleh anak-anak kecil. 

"Saya memperhatikan adegan-adegan yang dipertontonkan di ranah publik apalagi  yang langsung di lihat oleh anak kecil. Adegan kekerasan, tontonan yang katanya "seni budaya atau adat" itu , walau pun adegan itu tidak keluar darah dan sebagainya, dengan menyayat tangan, kaki leher yang di tunjukkan pada publik itu mempengaruhi secara kejiwaan bagi anak-anak," ujar Hendrikus Clement, Minggu (14/7). 

Dalam hal bersamaan, lanjutnya anak akan terpapar dengan adegan kekerasan, baik verbal dan non verbal. Sama halnya juga dengan kata-kata yang kurang bagus dan di pertontonkan bagi anak akan sangat berpengaruh. 

"Saya prihatin sekarang ini, kecenderungannya event-event budaya seperti dianggap biasa, dan dibolehkan anak-anak untuk menonton. Padahal itu sebenarnya adegan kekerasan dan lain-lainnya tidak boleh diperlihatkan pada anak-anak," ucap pria yang identik dengan topi model Flat Cap-nya ini. 

"di televisi saja ada adegan kekerasan dan sejenisnya di sensor, mohon maaf merokok saja diblur. Itu membuktikan bahwa adegan yang kurang bagus untuk di pertontonkan bagi anak-anak itu tidak boleh," lanjut Hendrikus Clement. 

Atas penilaiannya selama ini, adegan tersebut justru menjadi hal yang baik dan "bangga" ditampilkan. Ia berharap pada acara-acara kedepan tidak ada atraksi menyayat bagian tubuh lagi sebagai bagian dari pertunjukan seni budaya. 

"Menurut saya, kita sudahi itu. Kita seleksi  adegan atau atraksi kesenian-kesenian yang akan di pertontonkan di publik, diatas panggung. Maka dari itu, peran  Event Organizer (EO)  dalam suatu kegiatan harus ikut ambil bagian,” ucapnya.

Karena itu, penting bagi pihak terkait katanya, untuk terlibat dalam bagian menyeleksi atraksi atau adegan yang akan di sungguhkan ke ranah publik. Baik dalam panggung terbuka, Parade-parade, dan perarakan-perarakan. Contoh, misalnya pegang senjata menurutnya jangan lagi senjatanya (yang asli) . Tapi diganti dengan yang terbuat dari kayu.

"Kita bukan kembali pada masa lalu, tapi menatap masa depan," imbuhnya. 

Memang kata Hendrikus, sebagian orang menganggap bahwa adegan itu tidak berbahaya, memang tidak. Tapi itu akan melekat pada otak anak. Apalagi anak yang dibawah lima tahun.  Karena di parade-parade itu  kata Clement  banyak ditonton anak-anak.  

"Menampilkan itu diranah publik, seolah-olah baik dan bagus. Padahal itu merusak pikiran anak kecil," ungkspnya prihatin. 
Menurutnya, hal tersebut harus  disudahi, di refleksi, dan evaluasi.  Sehingga kedepan jangan sampai hal itu dibungkus dengan: ini festival budaya, adat membolehkan tanpa seleksi. Membiarkan adegan itu muncul di ranah publik. 

"Itu pandangan saya sebagai orang yang suka memperhatikan kebudayaan, kesenian-kesenian. Pesan saya, apapun yang mau kita tampilkan ke ranah publik harus selektif. Patokan kita pada nilai-nilai kemanusiaan, kehidupan, nilai keberadaban. Bukan di ekspose  adegan kekerasan walaupun tidak serius. Tapi  konten atraksi dapat mempengaruhi pikiran anak-anak," tutupnya. (narwati)