Tidak Pernah Setengah Hati dan Pantang Menyerah

Bengkayang

Editor elgiants Dibaca : 70

Tidak Pernah Setengah Hati dan Pantang Menyerah
Dea Destia Renata Sitorus (13) berfose gaya karate di sela latihannya. Gadis cantik bermental baja ini akan segera di kirim mewakili ke Kalbar di tingkat Nasional pada ajang O2SN di Kota Semarang bulan Agustus mendatang.
Dea Destia Renata Sitorus, bocah 13 tahun itu berhasil lolos Olimpiade Olahraga Siswa Nasional  (O2SN) tingkat SMP, setelah berhasil menjuarai O2SN tingkat Kabupaten Bengkayang, bahkan menjadi juara pada O2SN di tingkat Provinsi Kalbar tahun 2019. 

Sang ibu, Monika Ain (41) menilai anaknya tidak pernah setengah-setengah dalam menekuni sesuatu yang Ia senangi.  Ia menyebut Dea menekuni dengan benar-benar dan serius. Itulah sosok anak tunggalnya tersebut. 

“Ia juga anak yang tak pantang menyerah. Apalagi pernah  gagal, maka akan bangkit kembali, terlebih jika itu sudah menjadi targetnya. Akan dikejar, intinya  anaknya suka tantangan, apalagi tantangan yang bergengsi," tutur Monika mengenai karakter anaknya tersebut.

"Kenapa saya bilang suka tantangan, karena  setiap dia menginginkan sesuatu atau minta dibelikan  barang yang dia mau, saya (kami) selalu kasi tantangan misalnya minta belikan HP, kami bolehkan asal harus juara kelas dulu. Dan itu dibuktikan tamat SD puji Tuhan Dea juara satu," lanjut Monika mengambarkan sosok anaknya itu.

Awalnya memang, Monika sempat ragu melarang Dea untuk ikut karate karena selain Dea anak satu-satunya, Dea juga perempuan. Ia merasa ada rasa tidak tega, karena kegiatan bela diri itu sangat keras. Namun dengan melihat semangat dan  tekad Dea, serta juga mendapatkan dukungan dari suaminya (bapak Dea) Ia pun luluh dan turut mendukung. 

"Sekali lagi saya bilang ke Dea, kalau mau ikut karate jangan hanya ikut-ikutan harus bisa prestasi dan ternyata dibuktikan Dea," ucapnya. 

Selain tantangan yang diberikan untuk memotivasi dirinya, dan baru-baru ini juga  di ajang O2SN Cabor Karate tingkat Provinsi, Dea meminta agar dibelikan perlengkapan  Karate yang bermerek internasional (arawaza), namun katanya boleh dibelikan, asal bisa tembus ke nasional.

“Dan lagi-lagi dibuktikannya, puji Tuhan dapat Juara 1 juga, dan lanjut ke tingkat Nasional di Bulan Agustus mendatang. Dari itulah saya katakan Dea tidak bisa ditantang karena pasti akan dikejar," imbuhnya dengan tersenyum.

Istri dari Sabar Sitorus (45) juga menceritakan, Dea bukanlah sosok yang manja walaupun dia anak tunggal, anak satu-satunya. Dia juga kerap membantu  pekerjaan rumah, seperti melipat pakaian, cuci piring, dan beberes rumah.

Sebagai seorang ibu tentu akan mendukung apa yang menjadi pilihan anaknya, termasuk karate.  Selagi itu adalah hal yang positif bagi dirinya juga untuk orang banyak. Terlebih Dea sangat berpotensi dalam mengembangkan bakatnya. 
"Yang jelas dukungan doa yang terbaik tetap harus diutamakan," ucapnya penuh bangga. (narwati)