Kamis, 19 September 2019


Warga Dimbau Tak Buang Sampah Plastik di Laut

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 185
Warga Dimbau Tak Buang Sampah Plastik di Laut

IMBAU. Polair Polres Bengkayang mengimbau masyarakat Pantai Kura-kura di Dusun Tanjung Gundul, Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang untuk tidak membuang sampah plastik di pantai maupun laut.

BENGKAYANG, SP - Guna menjaga ekosistem laut agar tetap lestari dan bebas sampah plastik, Kepolisian Resor Bengkayang melalui Satuan Polair Polres Bengkayang mengimbau masyarakat pesisir untuk tidak membuang sampah plastik di pantai maupun laut.

Imbauan tersebut langsung disampaikan oleh personil Sat Polari Polres Bengkayang, Bripka Novin Yuhananto kepada masyarakat Pantai Kura-kura di Dusun Tanjung Gundul, Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.  

Kapolres Bengkayang AKBP Yos Guntur Yudi Fauris Susanto melalui Kasat Polair Polres Bengkayang AKP Apep Syamsul Hakim menerangkan, bahwa membuang sampah di laut akan merusak ekosistem laut, terumbu karang yang berakibat berkurangnya ikan.

 “Sampah plastik yang dibuang memerlukan waktu yang lama untuk terurai apabila pembuangan sampah plastik ini dilakukan secara terus menerus akan mengurangi tangkapan ikan nelayan," ucapnya, Kamis (15/8).

“Sampah plastik sangat berbahaya bagi kelestarian ekosistem, dan sumber daya perairan yang di dalamnya dimana ada biota perairan yang hidup seperti ikan, selain membahayakan keselamatan ikan itu sendiri, juga membahayakan kesehatan manusia jika manusia konsumsi ikan," tambahnya.

Sat Polair Polres Bengkayang juga mengimbau kepada semua nelayan yang memiliki kapal untuk menyediakan tempat sampah di kapal.

“Mari kita sama-sama menjaga kelestarian dan kebersihan laut kita agar tetap bersih dan sumber alamnya dapat terjaga sehingga dapat dinikmati sampai anak cucu kita nanti," tutup AKP Apep. (nar)

Terkait sampah plastik ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga mengajak masyarakat untuk membersihkan laut dari sampah lewat aksi "Menghadap Laut 2.0". Aksi membersihkan laut ini diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Pandu Laut Nusantara dan puluhan komunitas pecinta laut.

Kegiatan tersebut akan digelar pada 18 Agustus 2019 di 74 titik termasuk di pantai dan sungai di Indonesia sebagai cara memperingati Hari Kemerdekaan RI ke 74 tahun. 

"Kami ingin 'awareness' (kesadaran) masyarakat Indonesia terhadap laut lebih tinggi, lebih bisa menjaga. Karena laut ini penting sekali," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (15/8).

Susi menuturkan aksi Menghadap Laut 2.0 kali ini memasuki tahun kedua di mana pada kegiatan serupa tahun lalu ia hadir di Bitung, Sulawesi Utara. Pada aksi tahun lalu, terkumpul sekitar 366 ton sampah plastik dari sekitar 100 titik kegiatan aksi. (nar/ant)

Ancaman untuk Ekosistem Laut

Sampah plastik hingga kini masih menjadi persoalan serius bagi Indonesia dan juga negara lain di dunia. Di Nusantara, sampah plastik tak hanya dijumpai di wilayah darat saja, tapi juga sudah menyebarluas ke wilayah laut yang luasnya mencapai dua pertiga dari total luas Indonesia. Semua pihak ihimbau untuk terus terlibat dalam penanganan sampah plastik yang ada di lautan.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) mencatat, setiap tahun sedikitnya sebanyak 1,29 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.000 plastik mengapung di setiap kilometer persegi setiap tahunnya. Fakta tersebut menasbihkan Indonesia menjadi negara nomor dua di dunia dengan produksi sampah plastik terbanyak di lautan.

Sekretaris Jenderal KIARA Susan Herawati mengatakan, semakin banyak sampah plastik di lautan, maka semakin besar ancaman bagi kelestarian ekosistem di laut. Meski ancaman kerusakan tak hanya berasal dari sampah plastik, tetapi dia tetap mengingatkan bahwa dampak yang ditimbulkan dari sampah plastik juga sangat berbahaya.

“Untuk itu, mari selamatkan laut Indonesia dan ekosistemnya dari sampah,” ungkapnya, belum lama ini.

Susan menjelaskan, ancaman kerusakan ekosistem di laut, juga disebabkan oleh pencemaran industri, penangkapan ikan berlebih, reklamasi pantai, dan pengasaman laut sebagai dampak perubahan iklim. Kondisi itu, harus segera dicarikan solusi untuk menyelamatkan ekosistem laut yang bermanfaat sangat banyak untuk masyarakat. (mgb)