Kamis, 19 September 2019


Lima Desa Jadi Sasaran Transformasi Perpustakaan Inklusi Sosial

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 88
Lima Desa Jadi Sasaran Transformasi Perpustakaan Inklusi Sosial

STAKEHOLDER MEETING. Acara Stakeholder Meeting Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk kesejahteraan digelar di ruang rapat Bupati Bengkayang Lantai II Rabu (21/8) pagi.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bengkayang gelar Stakeholder Meeting Kabupaten Bengkayang "Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial"  Literasi Untuk Kesejahteraan. Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Bupati, Lantai II kantor Bupati, Rabu (21/8). 

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai stakeholder, baik itu dari pemerintah Daerah dalam hal ini Bupati Bengkayang  yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati bidang Pemerintahan Hukum dan Politik, 

 Sekretaris Daerah, Bappeda, DPMPD, Diskominfo, PT. Telkom, PKK, Camat Sungai Raya Kepulauan, Camat Samalantan, Camat Sungai Betung, Camat Lumar, Camat Sanggau Ledo, Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan, Kepala Desa Sungai Keran, Kepala Desa Bukit Seragam, Kepala Desa Suka Maju, Kepala Desa Tiga Berkat, Kepala Desa Lembang, IMPACT, Wahaha Visi Indonesia (WVI), Motivasi Pendamping Desa, PWI, Ketua Yayasan Pondok Cerdas Perousia Berkarakter, Cerdas dan Peduli. 

Kepala Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kabupaten Bengkayang Ir.Magdalena  menyampaikan  berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 tahun 2017 Tentang Perpustakaan, bahwa Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokratis, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan.

Untuk itu perpustakaan Nasional telah menyelenggarakan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Untuk Kesejahteraan.

Sementara itu kata Magdalena, sumber dana kegiatan ini bersumber dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.  Katanya, di Kalbar ada tiga Kabupaten yang menyelenggarakan Program Stakehokder Meeting yakni Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Landak dan Kabupaten Sintang.

"Perpustakaan Inklusi Sosial muncul di Prancis untuk pertama kali. Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dengan Lima desa  sasaran yaitu Desa Tiga Berkat Kecamatan Lumar, Desa Lembang Kecamatan Sanggau Ledo, Desa Suka Maju Kecamatan Sungai Betung Desa Bukit Serayan Kecamatan Samalantan, dan Desa Sungai Keran Kecamatan Sungai Raya Kepulauan," ujarnya. 

"Untuk akses informasi Perpustakaan Nasional masyarakat bisa mengetahuinya melalui Youtube: Perpustakaan Nasional RI, Facebook : Ayokerpusnas, Instagram : @Perpusnas.go.id, Twitter: @perpusnas1 dan Website : www.perpusnas.go.id, " saran Magdalena

Kata Magdalena, dengan Transformasi ini diharapkan dapat mengubah paradigma masyarakat yang sulit mendapatkan informasi dan pengetahuan. "dulu perpusatakaan orang mengenalnya hanya untuk tempat pinjam buku, tapi saat ini kita bertransformasi. Sehingga setiap desa yang ada akan ada perpustakaan dapat membantu masyarakat dalam mengali ilmu pengetahuan, serta mengakses lebih banyak ilmu di dalam buku--bukan hanya dari internet," ucapnya. 

Kelima desa yang menjadi sasaran inklusi sosial tersebut akan mendapatkan pendampingan, dan diharapkan dari lima desa akan melahirkan banyak perpustakaan di desa lainnya, serta dapat direplikasikan untuk tahun-tahun selanjutnya. 
Magdalena mengajak dan menghimbau agar masyarakat bisa meluangkan waktu untuk membaca dalam setiap harinya. Setidaknya satu jam setiap hari. 

"Orang yang rajin membaca akan beda dengan orang tak pernah membaca. Minimal luangkan waktu satu jam saja untuk baca," ucapnya. 

Di Kabupaten Bengkayang sendiri kata Magdalena, minat membaca Masyarakat masih kurang. Namun tiga tahun terkahir berangsur meningkatkan, sejalan dengan banyaknya sosialisasi--pentingnya membaca. 

"Di tahun 2018 jumlah pengunjung di perpustakaan daerah tercatat sekitar 6000 orang, tapi tahun 2019 sedikit mengalami penurunan karena kantor masih dalam proses  renovasi. Kita berharap, budaya membaca ini adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya sekolah tapi juga perangkat desa, RT dan semua elemen bergerak dan mengerakkan niat membaca," ucapnya 

Sementara itu, Staf Ahli Bupati Bengkayang bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Luter Wongkar, meminta agar Dinas Perpustakaan Dan Kerasipan membuatkan laporan dokumen dari Stakeholder Meeting ini, baik kendala dan kelemahan yang ada di desa baik itu  tidak adanya jaringan internet, masih perlunya perpustakaan di desa dan OPD terkait agar ditindaklanjuti.

"Apabila dibuat sesuatu harus membuat payung hukum. Dengan adanya perpustakaan, mengajak masyarakat untuk berbondong-bondong bisa hadir dan fungsikan perpustakaan yang ada, sehingga manfaat sebuah perpustakaan mencerdaskan banyak orang," tuturnya. 

Salah satu warga  Desa Bukit Serayan, Kecamatan Samalantan,  Supriyanto yang merupakan pertani jagung ini  mengaku sangat terbantu dengan adanya perpustakaan yang ada di desanya. Pasalnya, sebelum ada perpustakaan ia kerap gagal panen jagung, karena tidak tahu cara memberantasi penyakit gulai dan hama yang merusak tanaman jagung. 

"Sangat banyak manfaat berkat adanya Perpustakaan Desa, karena banyak informasi yang didapatkan dengan membaca panduan buku. Saat tahu ada perpustakaan desa saya datang dan mencari buku berkaitan dengan cara merawat dan menanam jagung. Saya cari buku di perpustakaan, dan saya pelajari di rumah. Ternyata sangat bermanfaat dan hasilnya pun sangat bagus. Dan saya bisa mengatasi permasalahan penyakit hama jagung," ungkapnya. 

Sejak saat itu, kata Supriyanto ketika mulai mengikuti langkah dari buku panduan yang ia baca, sekarang hasil panennya mulai membaik, dan mampu membantu ekonominya.

"Saat ini panen Jagung juga sudah maksimal berkat ada pengetahuan melalui Perpustakaan Desa Bukit Serayan. Berkat menanam jagung juga sedikit demi sedikit semakin meningkat, jadi sangat nanyak manfaat adanya perpustakaan desa dan membaca buku di perpustakaan desa," ucap Suprianto. (Nar)