Kamis, 19 September 2019


Penyelundup Jebol Perbatasan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 615
Penyelundup Jebol Perbatasan

Grafis Koko

BENGKAYANG, SP – Provinsi Kalimantan Barat masih menjadi “surga” bagi para penyelundup barang impor. Mereka memanfaatkan jalur tikus yang tersebar di kabupaten- wilayah perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia, menyelundupkan barang-barang bernilai mahal asal berbagai negara diantaranya China. 

Maraknya aksi penyelundupan ini ditengarai adanya oknum-oknum pengusaha dan aparat mengambil keuntungan pribadi dan kelompok dari praktik penyelundupan itu.

Cukup mencengangkan, aksi penyelundupan para mafia ini justru dibongkar oleh Kepolisian Metro Jaya melalui Direktorat Reserse Krimanal Khusus. Pekan lalu, Polda Metro Jaya menggelar ekspos keberhasilan pengungkapan sindikat penyelundup barang asal China berupa kosmetik, elektronik dan obat-obatan.  

Secara kalkulasi perbuatan para pelaku merugikan negara hingga ratusan miliar rupiah pertahun. Sedangkan nilai barang yang diseludupkan para pelaku perbulan mencapai Rp68 miliar.

Sindikat penyelundup diketahui merupakan jaringan China-Malaysia-Indonesia, yang dikendalikan empat tersangka. Mereka mengaku masuk melalui wilayah Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Walau tak bisa dipungkiri masih banyak jalan masuk selain Bengkayang yang bisa ditebus para penyelundup walaupun ada penjagaan aparat.

Sindikat ini membawa barang asal China ke Malaysia melalui Pelabuhan Pasir Gudang, Johor, kemudian dikirim ke Pelabuhan Kuching, Serawak. Dari sana, barang diangkut dengan truk kecil melalui jalan tikus ke perbatasan Indonesia-Malaysia di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat.

Barang dipindahkan lagi ke truk besar kemudian dibawa ke Pelabuhan Dwikora, Kota Pontianak, selanjutnya masuk kapal menuju tujuan akhir, yaitu Pelabuhan Tegar (Marunda Center), Kabupaten Bekasi. Tiba di tujuan, barang disimpan di perumahan di kawasan Dadap, Kosambi, Kota Tangerang, yang berfungsi sebagai gudang. 

“Sindikat tersebut memasukkan barang selundupan empat kali dalam sepekan,” Kepala Polda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono.

Barang selundupan yang disita sebagai barang bukti berupa 1.024.193 bungkus kosmetik dan obat-obatan, 4.350 bungkus bahan pangan, 774.036 suku cadang kendaraan, dan 48.641 barang elektronik. Barang-barang selundupan itu diangkut dengan delapan truk besar yang turut disita polisi. Nilai barang bukti yang disita polisi mencapai Rp67 miliar.

Narasumber Suara Pemred di Bengkayang menceritakan, ada banyak jalur tikus di Jagoi Babang. Di pintu-pintu ini, ada oknum yang bermain. Praktik penyelundupan itu jadi sumber keuangan atau sering diistilahkan sebagai ATM sang oknum.

“Kalau bosnya (atasan - red) datang, mereka minta oleh-oleh dan difasilitasi. Anggotanya yang sakit, harus cari dana. Salah satunya dari komisi penyelundupan itulah,” kata sumber, Rabu (21/8).

Meski demikian, aktivitas mereka tidak terang-terangan. Ibaratkan kucing-kucingan sambil cari waktu dan kesempatan.

“Modus mereka biasanya masuk disalin barangnya dengan kendaraan truk bear yang sudah disiapkan di sejumlah gudang di sekitar perbatasan. Kemudian . Ada pemain sayur, gula, telur ayam,  minuman kaleng, snak atau makanan ringan.  Ada juga pemain produk kendaraan motor gede, dengan cara menyeludupkan item-item atau suku cadang dipreteli. Setelah masuk baru dirakit kembali, Eletronik seperti handpone, laptop juga cukup besar keluar masuk," Minuman akhohol ber merk dan mobil mewah juga ada keluar masuk," kata sumber Suara Pemred di perbatasan ini.. 

Modus jalur penyelundupan tidak saja dari Malaysia ke Indonesia namun dari Indonesia ke wilayaha Malayasia juga terjadi. " " Ada beberapa produk yang diselundupkan ke Malaysia dari Indonesia secara  ilegal. Seperti  rotan dari Kalteng dan telur penyu  serta kepiting dari Kalbar.  Nah, yang aneh penyelundupan rotan ke Malaysia terbilang aman, banyak aparat diam saja dan tidk berani memproses rotan. Sepertinya ada yang kuat dibelakang bisnis rotan, " tambahnya kepada Suara Pemred.

 .
Kapolres Bengkayang, AKBP Yos Guntur Yudi Fairus Susanto tidak menampik juga tak membenarkan jika pihaknya kecolongan aksi para pelaku penyelundup. Dia mengaku sudah memetakan kerawanan (penyelundupan) tersebut dan menerjunkan tim bersama Bea Cukai untuk memberantas penyelundupan.

“Namun, masih saja ada pelaku-pelaku atau ‘tikus-tikus’ yang lolos dari penyelidikan. Kita akan lebih keras lagi untuk tantangan tersebut. Tentunya dibutuhkan kerja sama yang solid dari stakeholder dan masyarakat,” katanya.

Dia berjanji akan mengoptimalkan pengawasan, pencegahan dan penindakan. Semua dilakukan dengan sinergi antar-instansi.

Sementara Kasi Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Jagoi Babang, Satrianto Sejati mensinyalir barang seludupan tersebut masuk melalui jalur tikus di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia. 

Pemetaan sementara, ada lima jalur yang dipakai. Namun penyelundup menggunakan pola acak dalam bergerak.
“Dengan pola yang acak, sehingga sulit bagi kami untuk mendeteksi pemasokannya. Hingga saat ini kami terus berusaha mencari pola pengawasan yang lebih efektif dan efisien,” ujar Satrianto.

Disebutkan, salah satu pintu masuk penyelundupan adalah wilayah perkebunan sawit sepanjang perbatasan. Bea Cuka mengaku terkendala jumlah personel untuk mengawasi titik utama itu. Hanya ada enam orang petugas pengawasan Bea Cukai Jagoi Babang. 

"Salah satu upaya yang bisa meniadakan barang masuk yang dapat merugikan negara adalah pemeritah harus segera membuka pintu masuk PLB (pintu lintas batas) menjadi PLBN (pintu lintas batas negara) resmi," tuturnya. 

Selain Bengkayang, Kalimantan Barat memiliki tiga kabupaten lain yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Di antaranya Kapuas Hulu, Sanggau dan Sambas. 

Kapolres Sambas, AKBP Permadi Syahid Putra melalui Kasat Reskrim Polres Sambas AKP Prayitno mengatakan, memang masih terdapat upaya penyelundupan lewat jalan-jalan tikus yang menghubungkan Malaysia dan Indonesia. 
Upaya penyelundupan itu pun tak jarang berhasil.

“Faktor mengapa hal ini masih bisa terjadi, dikarenakan kurangnya penjagaan dan pengawasan yang bisa dilakukan. Ini disebabkan begitu banyaknya jalan tikus," katanya.

Dia memastikan jajarannya tak ikut terlibat dalam praktik penyelundupan tersebut. 

"Untuk mengatakan ini (adanya keterlibatan petugas) perlu dilakukan pendalaman," kata Prayitno.

"Yang jelas semua jalan tikus yang kami ketahui tetap dilakukan upaya monitoring dan patroli secara intensif. Kita juga bekerja sama dengan tokoh masyarakat setempat dan para pemangku adat untuk mencegah masuknya barang ilegal,” sebutnya.

Suara Pemred  berupaya mewawancarai Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Donny Charles Go, dan Kasi Kepatuhan dan Humas Kanwil Dirjen Bea Cukai Kalbagbar Ferdinand Ginting. Namun, permintaan wawancara itu tak berbalas hingga berita ini diturunkan. 

Beredar di Kalbar

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kalbar, Susan Gracia Arpan mengatakan masih menemukan kosmetik ilegal beredar di Kalimantan Barat. 

Dalam upaya pencegahan barang masuk lewat perbatasan, BPOM bekerja sama dengan Kodam XII Tanjungpura dan Tim Pamtas dan Bea Cukai.

Sebagian besar kosmetik ilegal yang beredar adalah krim pemutih, krim siang, krim malam dengan merk RD Premium, Collagen, Yu Chun Mei, dan CR cream. Barang-barang ini kerap ditemukan di toko, butik dan dijual secara daring.

“Jika kosmetik tidak terdaftar di BPOM, tidak dapat dijamin produk yang digunakan memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan kemanfaatan sesuai ketentuan perundang-undangan,” katanya.

Mereka pun berupa menekan peredarannya dengan sosialisasi dan pemberian informasi melalui media cetak, elektronik dan langsung ke masyarakat. Termasuk pengawasan rutin ke sarana-sarana yang menjual sediaan farmasi atau kosmetika.
Pengamanan Lemah

Pengamat hukum, Herman Hofi Munawar mengatakan penyelundupan di perbatasan telah lama terjadi. Pintu masuknya sangat banyak. Malah jika dikalkulasikan, barang selundupan yang berhasil diungkap, disinyalir tidak lebih banyak dari yang berhasil lolos.

"Pengamanan perbatasan sangat lemah, hanya sentuhan formal yang tidak substantif," ucapnya.

Menurutnya, instrumen yang digunakan untuk mengecek barang yang masuk dari perbatasan sudah ketat. Selain itu, pintu-pintu yang harus dilewati barang-barang dari perbatasan untuk sampai di Kota Pontianak juga sangat banyak.

"Lucunya, jarak perbatasan ke Kota Pontianak itu bisa ratusan kilometer dan melalui beberapa kantor kepolisian, tapi masih bisa lewat," tuturnya.

Dia meminta ada evaluasi kinerja aparat dalam pencegahan penyelundupan barang tersebut. Harus ada metodelogi yang tepat, sehingga bisa mengungkap secara konkret persoalan ini. 

“Barangkali, ada aparat juga yang bermain di balik barang selundupan dari perbatasan,” sebutnya.
Herman menyebut sudah banyak pihak yang turun mengamankan perbatasan. Namun masalah penyelundupan tak pernah tuntas. Tidak ada pembenahan serius di lapangan.

"Jadi pertanyaannya, pejabat yang turun ke perbatasan apa yang dilakukan," katanya.
Kalbar jadi rentan lantaran jalan tikus yang banyak. Pos resmi yang dibangun tidak berpengaruh banyak. Diakuinya, ada masalah dalam jumlah personel dan mental aparat. 

Namun di sisi lain, dia khawatir ada pembiaran dari pemerintah Malaysia. Mereka seakan menjadikan Indonesia sebagai tumpuan tempat pembuangan barang-barang yang tidak jelas.

"Perlu ada kerja sama antara Indonesia dan Malaysia untuk memperkuat pengamanan di perbatasan," pungkasnya.

Kebijakan Khusus

Anggota DPRD Kalbar, Suyanto Tanjung mengatakan suburnya penyelundupan menunjukkan bahwa pengawasan di daerah perbatasan lemah. Padahal, fenomena semacam ini sudah kerap diingatkan.

"Penyeludupan selama inikan yang kita tahu paling banyak itu narkoba, human traficking, nah sekarang penyeludupan barang-barang lagi dari China," ujar Suyanto Tanjung. 

Dia berujar hal ini juga menunjukkan bahwa pihak-pihak terkait kecolongan terhadap pengawasan di pintu perbatasan. Kecolongan pengawasan ini, sangat berkorelasi dengan luasnya wilayah perbatasan Kalbar dengan negeri tetangga. Ditambah lagi minimnya petugas di lapangan. 

"Perbatasan kita dengan negeri Jiran ini kurang lebih sembilan ratus lebih kilo meter. Nah, kita harap maklum sih pengawasan kita jadi lemah karena aparat kita di sana tidak cukup banyak dan jalan-jalan tikus kita juga banyak," ungkapnya. 

Salah satu solusi yang bisa diambil menurutnya adalah pemekaran wilayah. Dengan demikian, jumlah petugas bertambah. Aktivitas dan ruang gerak para pelaku penyelundupan diharap dapat diminimalisir. 

“Kami akan melakukan rapat kerja dengan pihak-pihak terkait dan akan mengintervensi agar pengawasan ini lebih diperketat,” katanya. 

Namun meskipun begitu, dia mengatakan Kalbar sebetulnya membutuhkan kebijakan khusus agar aktivitas barang keluar masuk dari luar maupun dalam Kalbar bisa menjadi legal. 

"Kalau dibiarkan, yang ketangkap satu, namun yang tidak ketangkap sepuluh," kiasnya. 

Kebijakan khusus yang dimaksud Suyanto adalah minimal Kalbar bisa mengelola dan bertransaksi dengan negara luar secara legal. Artinya, Kalbar diberikan kewenangan untuk melakukan ekspor dan impor barang di perbatasan.

Di dalam kebijakan ini, juga akan mengatur semua pendapatan yang didapatkan daerah dari barang-barang yang masuk maupun keluar. 

"Biar legal. Kan selama ini susah ngomong. Sedikit-sedikit ini aturan pusat, aturan pusat. Jadi tidak bisa menyalahkan pemerintah daerah saja," tutupnya. (din/jul/iat/nar/noi/sap/sms/bls/has)