Sabtu, 14 Desember 2019


Maksimalkan Realisasi Dana Desa

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 131
Maksimalkan Realisasi Dana Desa

RAKOR - Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Desa dan Daerah Tertinggal Kabupaten Bengkayang, mengelar rapat koordinasi (rakor) pertama Program Inovasi Desa (PID) Kabupaten Bengkayang, Rabu (25/9).

BENGKAYANG, SP- Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Desa dan Daerah Tertinggal Kabupaten Bengkayang, mengelar rapat koordinasi (rakor) pertama Program Inovasi Desa (PID) Kabupaten Bengkayang, Rabu (25/9).

Rakor ini dihadiri oleh para kades, pendamping desa, dan tim inovasi kabupaten, Plt Kadis PMPD2T Dodorikus, Kabid Pemberdayaan Masyarakat Paping, TA. Pelayanan Sosial Dasar, dan Bappeda serta P-ABDESI Kabupaten Bengkayang.

Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Bupati Bengkayang, Luter Wongkar mengatakan, desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan maupun kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut, desa diberikan keleluasaan untuk mengatur dan mengurus penyelenggaraan urusan yang berkaitan dengan pemerintah, pembangunan, kemasyarakatan melalui peraturan   kehidupan masyarakat dalam penyediaan sarana dan prasarana beserta memberdayakan masyarakat melalui pembinaan.

"Dalam rangka memperkuat penyelenggaraan pemerintahan desa yang mandiri, harus didukung dengan kemampuan desa dalam menyiapkan segala dokumen yang berkenaan dengan data, membuat perencanaan pembangunan desa yang berkualitas yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) yang hasil akhirnya masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes)," ujarnya saat membuka Rakor Tim Inovasi Kabupaten (TIK) Program Inovasi Desa di Hotel Reppo.

Dalam mendukung desa menyusun perencanaan pembangunan yang berkualitas, maka dikeluarkan kebijakan baru yang disebut dengan Program Inovasi Desa (PID) yang di dalamnya ada tiga komponen, yakni Pengelolaan Pengetahuan Inovasi Desa (PPID).

Dalam PPID ini untuk pendokumentasian, penyebarluasan dan pertukaran praktik pembangunan dan pemberdayaan masyarakat uang inovatif dengan tujuan memberikan inspirasi kepada desa untuk memperbaiki kualitas perencanaan dan pembangunan desa.

Kemudian, menyediakan Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD), serta Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM).

"Program PID merupakan upaya mendorong peningkatan kualitas pengelolaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa khususnya dalam pemanfaatan dana desa," ujarnya.

Luter berharap, PID bisa memberikan rujukan inovasi dengan harapan mampu mendorong munculnya inovasi dan pertukaran pengetahuan secara partisipatif di desa dan antar desa.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Desa dan Daerah Tertinggal Kabupaten Bengkayang Dodorikus mengatakan, tujuan dari rapat koordinasi ini untuk menyatukan persepsi, tukar pikiran dan evaluasi. Kemudian akan menyusun program kegiatan untuk tindak lanjut program inovasi desa yang sudah berjalan setengah progam, karena finalnya nanti pada bulan Desember mendatang. 

"Tadi saya meminta kepada peserta untuk memberikan masukan kepada kita, apakah ada kendala. Sehingga permasalahan yang ada dapat diatasi bersama. Kita juga akan menyusun langkah tindak lanjut untuk program selanjutnya," ujar Dodorikus.

Menurutnya, PID ini sangat membantu dan mendukung percepatan pemenuhan program pembangunan di Kabupaten Bengkayang. Ada beberapa program yang dipilih melalui bursa inovasi desa. Hal tersebut diharapkan dapat mempercepat pemenuhan pembangunan di Kabupaten Bengkayang.

"Di bursa inovasi desa itu lebih terencana, teratur dan baik, serta terarah. Karena ini inovasi jadi tentu hal-hal yang pernah dilakukan di desa itu yang akan dilakukan melalui BUD," ucapnya.

"Kita harapkan nanti ada inovasi yang belum pernah terlihat akan hadir di Kabupaten Bengkayang melalui PID, dan pemilihan komitmen di BID," tambahnya.

Sementara itu, baru-baru ini juga Kabupaten Bengkayang terentaskan dari daerah sangat sangat tertinggal, itu semua juga dampak dari program yang ada selama ini. Tentu hal tersebut tak lepas dari dukungan dari pemerintah pusat berkaitan dengan pemerintah desa sehingga ada percepatan pembangunan.

"Sekarang kita sudah terentaskan dari daerah tertinggal, walaupun masih ada dua desa yang sangat tertinggal yang berada di Suti Semarang, tapi secara umum kita sudah keluar dari status daerah tertinggal. Target kita untuk dua desa ini akan lepas dari status desa sangat tertinggal, jika kita melihat dari indikator yang ada. Minimal menjadi desa tertinggal, syukur-syukur kalau bisa lompat menjadi desa berkembang. Tentu capaian tersebut harus ada dukungan dari instansi terkait," tutupnya. (nar).

 Siapkan Dua Inovasi

Kepala Desa Singai Duri, Kabupaten Bengkayang, Rezza Herlambang mengatakan, tahun ini pihaknya melakukan dua inovasi seperti pembesaran kepiting bakau oleh Pokmaswas, atau Kampung 3D oleh Pokdarwis.

"Inovasi menurut kami esensinya adalah memberi tambahan nilai lebih pada suatu kegiatan, program atau produk. Dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya menjadi lebih bermanfaat dan lebih efektif, efisien serta lebih bernilai. Di Sungai Duri akan dilaksanakan pelebaran salah satu jalan gang. Nah ketika sudah selesai dikerjakan peningkatan jalannya, kita lanjutkan dengan memberikan nilai lebih pada jalan tersebut. Kita lukis dengan objek 3 dimensi sesuai dengan  tema pesisir dan kampung nelayan," tutur Rezza.

Kemudian kelompok sadar wisata yang sudah dibentuk bisa diarahkan untuk memanfaatkan jalan tersebut untuk  jadi daya tarik wisata.

"Mereka mengecat rumah rumah warga, menata teras dan halaman depan sehingga daerah yang awalnya terkesan kumuh akan jadi indah berwarna dan rapi," jelas Ketua P-ABDESI ini.

Kemudian program unggulan lain adalah pembesaran kepiting bakau. Menurutnya, selain potensinya besar di Sungai Duri dengan keberadaan ekosistem mangrove di pesisir pantai, juga adalah sebagai antisipasi mulai berkurangnya hasil tangkap nelayan akibat penangkapan berlebihan. Kekurangan hasil tangkapan juga dampak dari mulai dibangunnya  Pelabuhan Internasional Kijing di area tangkap nelayan.

"Kita bekerjasama dengan dinas terkait untuk mendatangkan narasumber untuk pelatihan, kemudian ditindaklanjuti dengan  praktik dilapangan oleh kelompok Pokmaswas," ujarnya. (nar)