Harga Cabai dan Telur di Sukadana Melambung

Bisnis

Editor sutan Dibaca : 744

Harga Cabai dan Telur di Sukadana Melambung
Ilustrasi
SUKADANA,SP- Jelang tutup tahun 2016, harga telur ayam merangkak naik. Semula di pasaran berkisar Rp 1.500, saat ini naik menjadi Rp1.900 hingga Rp 2.000. Begitu juga dengan  cabai rawit, harganya melonjak naik hingga Rp120 ribu per kilogram. Bahkan akibat kenaikan ini beberapa toko enggan menjual telur.

Salah satu diantaranya di toko Pa’mok. Dirinya sudah beberapa hari ini tidak menjual telur karena harga dari agen masih sangat tinggi.  “Belum jual telur, karena harga di agen masih tinggi, kita jual tinggi, yang beli (konsumen) juga protes. Lagi pula harga tinggi, kita mau jual berapa lagi, kasihan juga,” kata Pa’mok.

Menurutnya, kenaikan ini dipicu tersendatnya distribusi akibat cuaca yang kurang bersahabat ke Kabupaten Kayong Utara. Pasalnya, sejumlah komoditi kebutuhan pokok lainnya selama ini dipasok dari Pontianak.  

“Pengalaman sih di tahun-tahun kemarin, bulan 12 ini cuacanya agak kurang bagus, jadi yang saya dengar kapal-kapal agak takut berlayar. Jadi memang ini bulan-bulan dimana telur dan ayam memang agak susah,” ujarnya.

Dirinya berharap kelangkaan ini dapat segera teratasi, karena kebutuhan masyarakat akan telur dan daging ayam memang masih sangat tinggi. Terlebih di Kayong Utara yang sebagian besar penduduknya mengkonsumsi ikan.

Sementara itu, Yola seorang ibu rumah tangga mengakui selain harga yang tinggi, sebagian toko memang juga tidak menjual, dengan alasan dari agen banyak kosong dan harga yang tinggi. “Ya memang naik sekarang telur, naik Rp 500, bahkan ada beberapa toko tidak ada jual. Lagi langka mungkin, jadi harganya juga ikut naik,” terang Yola.

Dirinya berharap harga telur dapat turun kembali normal, dan untuk dinas terkait bisa memantau kenaikan harga telur di pasaran, sehingga tidak membebankan konsumen.

Sementara itu, Nia seorang pedagang di Pasar Daerah Sukadana mengatakan cuaca hujan yang terjadi beberapa bulan terakhir ini juga menyebabkan banyak pohon cabai petani yang mati.  “Banyak cabai saya yang sudah mulai membusuk akibat pembeli enggan membeli karena dinilai harganya terlampau tinggi,” ujarnya.

Ke depan Nia berharap agar ada solusi dari pemerintah supaya para pedagang tidak selalu merugi ketika mengalami pasokan sembako yang terkendala.  (ble/ind)  


Baca Juga:
Kapolres: Kasus Ijasah Palsu Oknum Kades Tetap Diproses
Penyambutan Tahun Baru di Ketapang, Polisi Larang Konvoi Kendaraan
Tahun 2017, Bandara Supadio Mampu Tampung 5,5 Juta Penumpang