Kampung Tenun Khatulistiwa, Tempat Para Penenun Bermimpi Menjangkau Dunia

Bisnis

Editor Shella Rimang Dibaca : 233

Kampung Tenun Khatulistiwa, Tempat Para Penenun Bermimpi Menjangkau Dunia
Kurniati, pengelola tenun Kampung Tenun Khatulistiwa
PONTIANAK, SP - Kampung Tenun Khatulistiwa merupakan kampung wisata yang diresmikan tiga tahun lalu. Kanun, begitulah singkatannya, diinisiasi oleh pihak Universitas Tanjungpura (Untan) dan Politeknik Negeri Pontianak (Polnep).

Kanun terletak di Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Batulayang, Gang Sambas Jaya. Tidak semua warga di Kanun menjadi penenun. Menurut Kurniati, pengelola tenun, hanya 17 rumah yang punya alat tenun.

"Sekarang, sekitar 40 orang ibu-ibu di sini yang sudah bisa menenun. cuma, yang aktif produksi sekarang ini hanya 17 rumah," ujarnya, Senin (25/3).

Ada beberapa produk unggulan di kampung wisata binaan PT Angkasa Pura II ini, yakni Songket Sambas dan Corak Insang Pontianak dalam berbagai bentuk, seperti kain, selendang, dan tanjak.

Kurniati mengungkapkan bahwa satu kain tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Untuk kain bagus, hanya bisa diproduksi dua helai dalam satu bulan. Jika untuk kain biasa, yang harganya tidak begitu mahal, satu minggu bisa diproduksi satu helai.

"Berbeda dengan Corak Insang. Kalau Corak Insang bisa produksi satu lembar dalam empat hari," tuturnya.

Di Kanun, semua modal penenun berasal dari dana pribadi. Hanya pemasaran yang dibantu oleh Pemkot dan BUMN. Alat tenun pun, adalah alat tenun manual, tidak menggunakan mesin. Tak heran, harga dipatok berdasarkan hasil yang bagus berkat tangan-tangan cekatan para penenun.

"Kisaran harga kain, mulai dari Rp800 ribu sampai Rp3 juta, untuk songket Sambas. Kalau yang Pontianak, mulai dari harga Rp800 ribu sampai Rp1,2 juta. Ada nanti kita akan buat mulai dari harga lebih dari Rp3juta, itu lebih mewah. Tapi saat ini belum buat yang harga tiga jutaan untuk Pontianak," papar Kurniati.

Kunjungan wisatawan ke Kanun tak bisa diprediksi. Dalam satu hari kadang ada dua hingga tiga kunjungan. Kadang-kadang, kata Kurniati, tidak ada sama sekali. Beberapa kali ada wisatawan mancanegara. Namun, kunjungan mereka sering terkendala infrastruktur.

"Kita kendala di jalan. Jalan ini kecil dan jelek. Gapuranya pun agak rendah. Ke depan, sudah disetujui oleh Pak Wali, akan ada pelebaran jalan. Gapuranya pun akan diubah semua," ungkap Kurniati.

Walau demikian, pasaran kain-kain tenun telah mencapai negara-negara lain, seperti Jerman, Turki, Arab, Brunai, dan Malaysia. Namun, kain-kain tenun itu bukan dikirim oleh pihak Kanun, melainkan orang-orang dari negara tersebutlah yang datang langsung dan membeli di Kanun.

Oleh sebab itu, sebagai pengelola tenun yang menggerakkan perempuan-perempuan untuk belajar menenun dan sebagai satu di antara pelopor penenun di Kanun, Kurniati berharap, ke depan, kain-kain tenun tidak hanya diikutsertakan dalam pameran di Indonesia. Ia tentu saja berharap, kain-kain tenun yang indah itu bisa menjangkau seluruh dunia.

"Kain kayak kita ini, tidak semua negara punya. Kita khas, karena menenun menggunakan alat manual. Kalau bisa, kita ingin menjangkau ke seluruh dunia, " pungkasnya. (lha)