Senin, 14 Oktober 2019


REI Kalbar Sebut Anggaran Rumah Subsidi Habis

Editor:

Bob Soeryadi

    |     Pembaca: 490
REI Kalbar Sebut Anggaran Rumah Subsidi Habis

Ketua DPD REI Kalbar, Muhammad Isnaini

PONTIANAK, SP- Para pengembang sektor perumahan bersubsidi yang memanfaatkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Prumahan ( FLPP) tengah berada dalam kondisi sulit.   Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Kalbar, Muhammad Isnaini mengaku dirinya sudah merasakan adanya tanda-tanda akan habis kuota FLPP ini sejak bulan Juni 2019.

"Berdasarkan itu, REI melakukan pendataan dan evaluasi berapa kebutuhan untuk anggota REI Kalbar kemudian kita laporkan kepada DPP REI dan DPP mendata seluruh indonesia  untuk dilaporkan kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat," kata Isnaini di kantor DPD REI Kalbar, Jumat (30/8).  

Tanda-tanda yang dirasakan tersebut menurutnya terbukti benar dan sejak Juli hingga awal Agustus 2019 memang sudah habis. Pemerintah melakukan relokasi kuota dari 44 Bank pelaksana dengan melakukan evaluasi dan dinilai penyerapan anggaran dari di 44 Bank tersebut.  

"Bagi yang penyerapannya belum mencapai 50 persen akan diambil sebagian, dikumpulkan kemudian dibagi lagi kepada bank-bank yang sudah habis kuotanya," terang Isnaini.  

"Nah, di Kalbar sendiri untuk Bank Kalbar itu mendapat jatah 200 unit tambahan yang dan itu juga sudah habis. Bank BTN hanya mendapatkan penambahan 1.500 unit, itu pun untuk seluruh Indonesia, di Kalbar kita belum tahu berapa mereka (BTN) dapat, dan kabarnya jatah tambahan untuk BTN itu juga sudah habis," lanjutnya.  

REI Kalbar sendiri menurut Isnaini, pada bulan Juni 2019 mengusulkan permintaan 3.500 unit tambahan. Namun mulai Juli sampai Agustus diakui Isnaini, dirinya belum tahu realisasi pengembang (anggota REI) sudah pada angka berapa.  

"Kalau untuk yang belum akad ini atau rumah-rumah yang belum diakad ini berjumlah 2.605 unit," imbuhnya.  

Saat ini juga menurutnya DPP REI sudah mengusulkan kepada Kementerian enteri PUPR untuk tambahan kuota sebanyak 80.000 sampai dengan 100.000 unit untuk REI se- Indonesia.  

"Menteri sudah menulis surat permohonan anggaran subsidi rumah ke Menteri Keuangan dan mendapat respon positif. Saat ini kita sedang menunggu keputusan Menteri Keuangan, mudah-mudahan pemerintah pusat bisa segera merealisasikan penambahan anggaran ini," harapnya.  

Disinggung soal dampak dari keadaan tersebut, Isnaini mengatakan saat ini pengembang tidak bisa merealisasikan akad KPR kepada masyarakat yang butuh rumah yang berakibat pengembang terganggu cash flow-nya.  

"Dengan cash flow terganggu tidak bisa bayar kredit ke Bank, maka tingkat kredit macet akan bertambah, peforma bank nya juga terganggu kemudian pengembang tentu akan menyetop dulu proyeknya yang mengakibatkan tukang-tukang tidak ada pekerjaan dan pengangguran bertambah," bebernya.  

Dampak lain lanjutnya, masyarakat yang sudah ingin punya rumah terkendala tidak bisa pindah menempati rumah baru. Di sisi lain, klaim Isnaini, ini juga berdampak pada 174 jenis industri yang menopang sektor perumahan seperti industri keramik, cat, paku dan lainnya.  

"Solusinya kita berharap segera ada penambahan kuota anggaran rumah subsidi. Kedua sambil menunggu proses di pusat, keuangan dan segala macam itu kan itu tidak sebentar, nah kita berharap bank-bank juga membuatlah program-program kredit untuk MBR misalnya dengan bungga yang single digit, bungga yang murah ditambah subsidi dari pengembang, kan bank bisa buat seperti itu," sarannya.  

Selain itu yang tak kalah penting kata Isnaini adalah soal perizinan di pemerintah daerah yang harus lebih dipermudah.

"Kemudian penyelesaian pemecahan sertifikat maupun balik nama sertifikat di notaris dan BPN dipercepat," serunya.  

Atas kondisi ini, Isnaini menghimbau tanggota REI Kalbar untuk bisa merescheduling rencana bisnisnya, kemudian menahan diri untuk tidak ovensif dulu seperti membeli tanah dan segala macam karena situasi hingga akhir tahun menurutnya masih uncreditable dan masih belum bisa diperkirakan.  

"Kemudian untuk tahun 2020 saya dapat informasi ketika rapat di DPP REI Pemerintah telah menganggarkan lebih kurang Rp9 triliun untuk anggaran rumah subsidi ini. itu sudah diselesaikan pemerintah. Mudah-mudahan dana itu mencukupilah," katanya penuh harap. (nak/bob)